Rabu, 31 Juli 2013

Hadiah dari Tempat Sampah


Saya takut dia cemburu. Begitu ucapnya dulu.
Hari itu. Hari dimana aku harus berlagak seperti pencuri, mengendap-ngendap, sembunyi-sembunyi, cuma demi memberi hadiah ulang tahun pada sahabatku sendiri. Dia. Yang kepalanya hampir selalu terhantup ketika melewati pintu kostanku.
Hari ini. Aku dapati tubuhnya di meja makan. Bundar, dengan kain taplak abu-abu bermotif kotak. Yang di desain khusus untuk diisi cuma 2 orang. Dengan sebotol minuman yang entah apa, mungkin anggur atau sejenisnya. Ia tuangkan minuman itu ke gelasnya, lanjut mengisi gelasku. Warnanya sedikit kekuningan, cairan yang mengisi kedua gelas tinggi di depan kami. Seketika aku meragu. Bukan karena khawatir minuman itu boleh ku minum atau tidak, melainkan, bukankah itu terlihat terlalu mahal?
“Cuma apple juice, kok.” Ucapnya sebagai antisipasi. Tidak mau aku keburu menimpalinya dengan pertanyaan itu ini.
Aku tersenyum kecut. Malu karena gerak-gerik yang ku sembunyikan akhirnya terbaca juga. Aku benar-benar tidak terbiasa dengan ini. Meskipun merayakan ulangtahun seorang teman sudah menjadi tradisi buatku, tapi aku tidak tau apa-apa soal yang satu ini. Bukan seperti ini tradisi yang biasa aku jalani. Bukan duduk berhadapan di meja makan restoran super mahal.
Pagi buta ponselku berbunyi. Namanya, nama orang yang ada dihadapanku saat ini, muncul disana. Pupil mataku bahkan belum siap menerima cahaya, sedangkan suara yang muncul dari ujung telepon sana sudah meledak-ledak, saking bersemangatnya. Baru-baru ini aku menyadari, sebenarnya ia bermaksud memarahi.
“Sudah lupa, ya, kalo punya sahabat?”
“Sahabat? Apa? Apanya? Ini jam berapa?” jawabku kembali bertanya, setengah melantur karena belum selesai mengumpulkan nyawa.
“Semalaman saya tungguin telepon kamu. Lupa kalau hari ini sahabat ganteng mu ini ulang tahun?”
Baru saat itu aku benar-benar terbangun dari tidur. Baru aku ingat hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-25. Dan semalam sudah kulewatkan moment selamat-ulang-tahun-semoga-panjang-umur di jam 00.00 tepat, yang tidak pernah absen kulakukan selama 3 tahun kebelakang.
“Saya gak mau tau. Nanti jam 8, kamu harus temani saya makan malam. Hitung-hitung pengganti ucapan selamat ulang tahun yang kamu lewatkan semalam.”
“Re, makan malam? Ini tanggal tua, saya belum gajian.”
“Saya yang traktir. Sudahlah, kamu tinggal bawa badan.”
“Re…”
“Apa?”
“Kenapa harus ngasih tau pagi buta begini? Toh baru ntar malam juga acaranya.” Aku menggerutu, tak rela tidurku diganggu.
Ia tidak menjawab.
“Re…”
“Apa??” suaranya kian meninggi.
“Selamat Ulang Tahun.”
            Sempat aku dengar suara tawa yang disembunyikan, sebelum akhirnya nada ‘tut’ panjang menutup pembicaraan.
            Aku tidak tau harus menjawab apa, bila ditanya siapa yang sudah berubah diantara aku dan Re selama hampir setengah tahun terakhir. Kalau kata hati bisa di-rontgen, mungkin akan terlihat sekumpuan kata-kata tidak beraturan yang intinya jelas terbaca. Aku lelah dijadikan tempat sampah.
            Namanya Rendra. Dan untuk beberapa alasan, aku berhenti di 2 huruf depannya saja. Re. Lebih enak di dengar. Lebih gampang ku ucapkan. Dan kalau boleh jujur, saat pertama kali aku berkenalan dengannya sekitar 4 tahun lalu, aku sempat ingin terbahak saking tidak percaya. Ia punya mata segaris dan kulit putih pucat. Badannya hampir bisa dibilang kerempeng dan tingginya hampir 2 meter. Saat itu syal merah marun dililit di lehernya, mungkin karena sedang sakit. Atau malah memang penyakitan.
            Terhitung 2 minggu lamanya aku penasaran bagaimana sosok Rendra, yang rutin 3 kali dalam sepekan diceritakan oleh sahabatku setiap pulang kerja. Sahabatku seorang perempuan mapan yang jarang menaksir orang. Dan sebagai sahabatnya, aku merasa berhak tau siapa laki-laki yang sudah berhasil merebut hatinya kali ini. Setelah 2 minggu menunggu janji temu kami bertiga, aku benar-benar kecewa.
Aku kira Rendra punya perawakan special. Misal, berbadan kekar, berambut tebal, punya kulit gelap eksotis yang menarik perhatian, dan yang paling penting, wujud Rendra di benakku bukan seorang keturunan Dayak-Tionghoa yang punya hobi memakai syal kemana-kemana.
Kami bercengkrama dengan segelas kopi di hadapan masing-masing sore itu. Aku menarik kata-kataku kembali, setelah hampir 2 jam kami bertiga saling bertukar cerita, aku temukan sosok lain dibalik perawakan kurus tinggi Rendra, sosok yang membuat sahabatku jatuh cinta. Dan semoga saja, aku tidak ikutan jatuh cinta juga.
Vega, itu dia. Sahabat yang menemani hidupku 7 tahun kebelakang itu jatuh hati pada Rendra setengah mati. Aku tidak tau mengapa perempuan seperti dia malah memilih tinggal di kost-kostan. Kami sempat menjadi teman sekamar. Belakangan, aku yakin itu memang sudah ditakdirkan. Tuhan mempertemukan ku dengan Rendra lewat sosok bernama Vega.
Vega sadar sejak awal. Bahwa aku dan Rendra punya hal yang lebih besar dari pertemanan. Kami berdua—aku dan Vega—sama-sama menganggap hal itu sebagai persahabatan. Bukan pertemanan, bukan juga percintaan. Setidaknya itulah yang kami berdua harapkan. Rendra tidak cukup berharga untuk dipertaruhkan dengan apa yang kami punya, begitu yang berusaha diyakini aku dan Vega.
 “Gimana? Lebih baik kan dari pada apple juice yang sering kamu beli di swalayan?” tanyanya dengan mata berbinar, menunggu jawaban.
Aku cuma tersenyum hangat, masih tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Untuk apa, Re?” tanyaku menimpalinya.
“Apple juice? Saya kira itu yang terbaik pengganti wine, atau mungkin—“
“Bukan, Re.” aku menyela. Menelan ludah lalu melanjutkan perkataanku. “Bukan cuma apple juice ini, Re. Semuanya. Telepon pagi buta, makan malam, restoran mahal, saya juga yakin itu apple juice bukan apple juice sembarangan.”
Ia cuma melongo, tidak mengerti apa yang baru saja aku katakan. Jangankan dia, aku saja ragu dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku.
Aku melanjutkan. “Saya tau ini bukan makan malam biasa. Ada apa, Re?”
Ia diam sejenak, matanya kekiri dan kekanan. Entah mencoba mengingat, atau berusaha mengarang alasan. “Ini kan ulang tahun saya, kamu masih lupa?”
Aku tidak tau harus berkata apa. Aku tau betul apa yang terjadi saat ini. Tapi aku butuh penjelasan logis atas semua. Atas telepon pagi buta, makan malam, restoran mahal dan segalanya. Aku tau, dia tau, aku kecewa atas penjelasan itu.
“Ini kado mu, Re. Sekali lagi, selamat ulang tahun.” Aku tersenyum. Dengan terpaksa.
“Re…” lanjutku memanggil namanya. Masih terganggu oleh pertanyaan itu sedaari tadi.
“Kemana Vega? Saya sudah jarang ketemu dia sejak dia beli rumah di daerah Kemang. Sedang saya masih mendekam di kost-kostan.” Sedikit tawaku tumpah di ujung kalimat. “kalian sudah 3 tahun ya, gak kerasa deh sebegitu lamanya…”
Wajah Rendra lantas berubah. Matanya sempat terpejam dan sepertinya dia baru tersedak ludahnya sendiri.
“Saya putus, Din.”
Ada hening sejenak. Mulutku terbuka sekitar 1 cm lebarnya.
“Oh. Begitu.” Jawabku seadanya. Mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Mulai mengerti kenapa harus ada makan malam mewah dengan embel-embel gelas tinggi.
“Malam ini, saya mau rayain hal itu. Saya…” ia berfikir sejak. Mencari kata-kata yang tepat. “tobat.”
Aku terbahak mendengar kalimat itu. Tobat? Aku tidak yakin ia betul-betul mengerti apa arti tobat dalam kamus manusia. Tidak lama ia malah ikut tertawa. Jadilah kami berdua sepasang orang gila yang mengacau makan malam mahal, milik orang-orang normal.
“Hm… jadi siapa calon yang baru?” tanyaku padanya. Langsung menusuk dada.
“Gak ada.” bibirnya tersenyum mantap. Jawaban itu membuatku sedikit bergidik. Membuat rapuh seakan menelanjangi.
“Ohya? Saya males aja kalo harus sembunyi-sembunyi seperti dulu. Apa-apa harus diam-diam. Takut ketahuan. Kayak mau maling, tau gak?” sesaat aku baru sadar apa yang baru ku katakan. Aku meminta maaf dalam hati. Tidak ku sangka ini akan jadi curhat colongan.
“Untuk saat ini, saya mau fokus ke ‘kita’…” ucapnya pelan.
Aku semakin bergidik. Tubuhku serasa kejang seketika. Seperti tersetrum stop kontak listrik, singkat dan memacu jantung jadi lebih cepat. Mengagetkan. Perasaan tidak diundang. Mendengar hubungan cinta kedua sahabatku baru saja berakhir, jujur aku tidak tau harus bersimpati atau bahagia. Aku cuma berharap semoga pencahayaan restoran mahal ini tidak mengecewakan. Semoga saja ekspresi wajahku tersembunyikan.
Tau-tau senyumnya melebar. Menahan gelak tawa yang sudah menunggu di ujung lidah. Di belakang gigi. Ditutupi selapis daging bernama bibir. Aku tau ia cukup beradab untuk kasihan pada orang-orang di sekitar kami. Sudah cukup mereka rugi dengan membayar mahal demi makan malam. Jangan sampai 2 orang gila ini tertawa sesuka hati, dan merusak makan malam mereka yang mungkin amat berarti.
“Sebenernya, saya juga senang kok. Gak perlu sembunyi-sembunyi lagi setiap ngobrol sama kamu. Setiap saya butuh seorang temen, sahabat, kakak perempuan, atau bahkan psikiater. Kamu hadir dalam satu paket lengkap. Siapa lagi yang mau dengarin saya ngoceh kesana kemari kalo bukan kamu?”
Lagi-lagi, aku tidak tau harus bagaimana menanggapi. Aku mencerna kalimat panjang itu sekuat tenaga. Tapi yang kudapat tidak sesuai dengan apa yang ku harap.
“Din… Saya gak tau harus bilangnya bagaimana. Saya bingung. Tapi apa kamu percaya soal belahan jiwa? Saya ngerasa nemuin belahan jiwa saya di diri kamu. Perlu 4 tahun buat nyadarin itu.”
Aku belum menjawabnya sama sekali. Aku belum merasa itu perlu dikonfirmasi. Saat ini, aku sudah tau harus menjawab apa. Jika ditanya tentang siapa yang berubah diantara kami berdua. Aku dan Rendra. Selama sekitar setengah tahun terakhir ini. Aku akan jawab bahwa kami sama-sama sudah berbeda. Aku mencintai sosok Dayak-Tionghoa yang ku kenal pertama kali di coffee shop dekat kantor sekitar 4 tahun lalu. Sosok itu mencintai sahabatku, bukan mengajakku makan malam berdua dan berkata bahwa aku belahan jiwanya.
Sosok itu selalu bercerita tentang semua hal yang ia hadapi. Semua hal tentang pekerjaan sampai merk kaos kaki apa yang harus dibeli. Termasuk segala masalah cintanya dengan Vega. Dan aku dengan senang hati menjadi tempat sampahnya. Menampunya segala sesuatu yang ia tumpahkan tak peduli itu apa. Aku salah. Aku tidak pernah lelah menjadi apa yang ku sebut sebagai tempat sampah. Itu takdirku. Harus seperti itu.
Bukan kah mustahil tempat sampah menerima tampungan tempat sampah juga?  Ketika nanti ia mulai bercerita tentang aku. Pada diriku. 
Rendra masih menunggu jawaban. Dan tanganku malah meraih ponsel dengan spontan. Ku ketik sesuatu disana, lalu ku tekan tombol hijau. Tidak terlalu jelas, karna aku sendiri tidak terlalu mengerti apa yang mau ku sampaikan ini.
“Din…?” Suaranya kembali terdengar. Membuat aku gelagapan.
Aku merasa di sinilah saatnya. Ketika aku harus mulai menanggapi semua pernyataannya sedari tadi. Mengkorfimasi apapun itu yang ia ucapkan sejak awal ditungankannya minuman. Aku yakin harus seperti ini.
“Re… Saya pulang duluan ya. Maaf gak bisa temani kamu sampai selesai”
Ribuan kali kuucap maaf dalam hati. Entah untuk Rendra atau untuk diriku sendiri. Kuangat tubuhku yang berbalut gaun biru. Tersenyum sekali lagi dan mulai mencoba meneruskan kalimat yang belum sempat ku selesaikan. Dan menarik nafas dalam-dalam pun kurasa tak ada gunanya lagi.
“Kamu gak perlu khawatir kesepian. Saya sudah sms Vega untuk datang kesini. Saya bilang kamu mau ngomong sesuatu. Saya yakin kamu perlu itu...”
Kali ini Rendra yang membuka bibirnya selebar 1 cm. Aku bisa melihat kata-kata menggantung di ujung lidahnya. Tapi aku kenal tatapan itu. Tatapan bimbang, tatapan menunggu. Tatapan yang kini ku identifikasikan sebagai tanda rasa setuju.
“Re…” lanjutku lagi. “3 tahun cukup berharga buat di perjuangkan.” Sekali lagi kuucap maaf dalam hati.
Sedikit aku tundukan kepala. Tanda pamit, minta diri, atau apalah itu namanya. Ku intip tubuhnya yang diam dari ekor mata, berharap tubuh itu tetap diam. Sampai perempuan yang ku kirimi pesan akhirnya datang.
Sekali lagi maaf terucap dalam hati. Kali ini aku janji untuk yang terakhir kali. Berharap besok sudah akan aku temui lagi sosok Rendra yang aku cinta. Sosok Rendra yang mencintai Vega.
Cukup seperti itu. Sambil berulang kali ku camkan ini dalam hati; 
Aku bukan cenayang yang bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang. Namun aku cukup bisa melihat apa yang pantas kamu dapatkan. Aku bukan sesuatu yang kamu sebut sebagai belahan jiwa. Aku cuma sekotak kardus basah yang kamu simpan di sudut ruangan, yang bisa mengawasimu kapanpun aku mau, yang dengan setia menjadi tempat sampahmu.
Aku yakin akan tiba suatu waktu. Meski bukan hari ini, besok, ataupun besok lusa. Saat aku lelah dan berhenti mengirimimu hadiah-hadiah. Berhenti jadi tempat sampah yang menampung segala keluh kesah, soal kerja, saudara, orang tua, apalagi cinta.
Tapi sebelum suatu waktu itu tiba. Aku yakin kamu akan kembali melakukannya. Entah hari ini, besok, ataupun besok lusa. Aku yakin itu akan terjadi dalam waktu dekat. Ketika kamu harus menunduk sedikit dan halus berbisik. Memelankan suaramu.
Saya takut dia cemburu. Sama seperti dulu.


tulisan entah kapan, udah lama disimpen di laptop.

             

Selasa, 11 Juni 2013

"Gie itu seperti tentara. Semua orang memuja dia atas jasa dan karya2nya. Namun bila sudah menyangkut meminang anak gadis orang. Tidak akan di beri. Semua orang tua tidak mau anak gadisnya bersama dia. Seperti tentara, terancam mati kapan saja."

Catatan Seorang Demonstran

Rabu, 15 Mei 2013

selamat datang

saya merpati yang berharap keluar dari sangkar.
saya melati yang ingin tumbuh sebesar mawar.
saya adalah saya,
dan pedih yang saya rasa adalah obat termanis yang pernah ada.

kamu adalah cerita, dongeng yang diharap nyata.
kamu adalah arca, ada namun tak bisa berbicara.
kamu adalah saya,
dan kenangan yang kamu punya adalah gula terpahit yang saya rasa.

hidup dalam dongeng yang tak biasa.
mati oleh makhluk yang tak nyata.
selamat datang,
di tempat tanpa "hidup bahagia selamanya".

saya putri yang terperangkap di menara.
kamu pangeran yang mati bahkan sebelum sempat menghirup udara.

kamu adalah saya.
saya adalah kamu.
dan obat termanis adalah kepedihan.
sedang gula terpahit adalah kenangan.

selamat datang,
juga selamat tinggal.


Selasa, 07 Mei 2013

Senin, 06 Mei 2013

siapa peduli ?

bukannya itu ya intinya?
saya bisa jadi kamu. jadi dia. jadi dia yang satunya lagi. siapa saja. tinggal dari mana aja saya bercerita, dari mana sudut pandangnya.
seenggaknya, itu yg saya tangkap.

bukannya memang itu yang semua orang cari?
kesempatan buat gak-jadi-apa-yang-seharusnya-menjadi. kesempatan buat mengekspresikan apapun yang ada di pikiran tanpa peduli apa kata orang. apa tanggapannya. kesempatan buat mengekspresikan apapun yang gak bisa kita ekspresikan di dunia nyata.
seenggaknya, itu yang saya cari.

bukannya itu lah sisi spesialnya?
bukan berarti gak jadi diri sendiri. tapi mengungkapkan diri yang sebenernya. yang belum terlihat. yang gak pernah disangka ada dalem tubuh yang biasa kita liat di kaca sehari-hari.
seenggaknya, itu yang saya percaya.

dan kalo ditanya, siapa saya?
siapa peduli.

hehe.

Sabtu, 20 April 2013

Last Flowers - Radiohead


Appliances have gone berserk
I can not keep up
Treading on people’s toes
Snot-nosed little punk


And I can’t face the evening straight
You can offer me escape
Houses move and houses speak
If you take me there you’ll get relief
Relief, relief, relief


And if I’m going to talk
I just want to talk
Please don’t interrupt
Just sit back and listen


Because I can’t face the evening straight
You can offer me escape
Houses move and houses speak
If you take me then you’ll get relief
Relief, relief, relief, relief, relief


It’s too much
Too bright
Too powerful



ini soundtracknya Confessions yang saya omongin kemarin-kemarin. bagus banget lagunya. baru-baru ini saya tau, lagu ini sebenernya menceritakan orang-orang sekarat yang gak kuat lagi nahan penderitaannya, sehingga milih minum pil buat mati. 

"You can offer me escape."

"If you take me then you'll get relief."

kasian.


Oh ya, kalo mau tau lagunya, bisa streaming disini: http://videokeman.com/radiohead/last-flowers-to-the-hospital-radiohead/#ixzz2Qtv0E03l

Selasa, 05 Maret 2013

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat.

Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar derap jantungmu"?
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.

Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenagan,
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.


Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

this part...

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa


Soe Hok Gie
Selasa, 11 November 1969

Senin, 18 Februari 2013

sweet-risky-things

saya ingat waktu kamu bicara soal resiko. rasanya janggal, bagaimana kamu membungkus makna yang satu itu dengan kalimat 'resiko', sementara kebanyakan orang malah menyebutnya sebagai anugrah. tapi belakangan saya mulai mengerti jalan pikiran kamu, 'resiko'? apapun yang tidak kita inginkan untuk terjadi tapi berkemungkinan terjadi bisa didefinisikan sebagai resiko. ya mungkin. kira-kira seperti itu.

mungkin saya sudah terbiasa makan pahit, sampe-sampe disuguhin yang manis malah nolak. kurang biasa. merasa agak-kurang-pantes. sadar diri aja mungkin ya. kurang ngerti juga sebenernya. saya cuma kurang percaya kalo orang macem saya bisa bikin something yang seperti itu. keterlaluan rasanya. 

bisa diumpamakan, resiko dapat mobil dari undian supermarket. 'resiko'. resiko... begoknya agak berlebihan memang. tapi saya memang merasa terancam. bisa diumpakan lagi, mobil itu tidak dijamin bukan salah satu decepticon yang bisa kapan aja berubah jadi mesin pembunuh. ya mungkin. kira-kira seperti itu.

intinya, ya saya memang tidak biasa mengambil resiko. semanis apapun itu resikonya.

Kalau kita memang 2 tetes air, maka aku sudah terserap menuju inti bumi, sedang kamu sudah menguap karena terik matahari.

komitmen?

akhir-akhir ini saya berpikir soal apa itu komitmen. entah bisa disebut apa, tapi hal itu terasa agak-agak menakutkan. komitmen itu mengikat, tidak bebas, dapat disalahkan, dan hal-hal sejenis yang menggerahkan leher. rasa-rasanya memang bahagia orang-orang yang hidup normal, yang menjalani apapun itu yang biasa dijalani, yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya. tapi saya malah ragu bisa hidup dalam keteraturan, dalam rutinitas seperti minum obat pagi dan malam. mengucapkan selamat malam dan mendapat ucapan selamat pagi. terdengar sedikit naif memang kalo saya pengen hidup bebas. bebas memang kadang identik dengan konotasi negatif. tapi saya rasa ini yang paling berlogika untuk dilakukan dimasa-masa seperti ini. demi Tuhan, saya butuh inspirasi.

Sabtu, 05 Januari 2013

surat cinta, sepertinya.

saya gak tau harus mulai dari mana. mungkin saya memang gila. anomali. sinting. atau apalah itu namanya. tapi saya gak bisa berhenti berpikir soal kamu. soal cerita kamu. soal tulisan-tulisan kamu. semua soal kamu terlebih belakangan ini. mungkin memang apresiasi saya terlalu berlebihan terhadap kamu. toh, kamu bukan siapa-siapa saya. mukzizat pun sepertinya gak bisa mengenalkan saya pada kamu. hukum alam. sudah peraturan. saya masih belum mengerti apa yang sebenarnya saya tulis. tapi saya yakin kamu gak akan keberatan soal ini. toh, kamu tidak akan baca. sudah 3 hari terakhir saya hampir gak tidur malam. saya dedikasikan waktu istirahat saya buat mengenal kamu lebih dalam. dan sialnya, saya makin jatuh cinta. tapi ya biar saja. toh, kamu tidak terganggu. saya tau ini agak ringkuh untuk disebut surat cinta. tapi mau dinamakan apa lagi? toh, saya memang jatuh cinta.

saya yakin yang saya rasa ini gak seharusnya. sinting. gila. saya gak akan bisa tersenyum lebar sambil bilang kalo saya sudah jatuh cinta, sama orang yang sudah gak ada. yang bahkan belum sempat saya temui. seseorang yang bahkan lebih dulu dilahirkan ketimbang ayah dan ibu saya. seseorang yang sudah mati. seorang aktivis mahasiswa yang entah kenapa harus mati muda. yang entah kenapa harus diambil nyawanya tepat sehari sebelum merayakan ulang tahun yang ke 27. yang entah kenapa harus menghirup asap beracun mahameru. yang entah kenapa harus mati disana. entah entah dan entah. saya gak tau lagi harus ngomong apa.

seandainya masih ada sosok seperti kamu hidup di jaman ini. sosok nyata yang bisa saya sentuh dengan tangan. bukan cuma bayang-bayang.


manusia memang pasti mati. tapi pesonanya bisa abadi.


seperti yang kamu tulis,
berbahagialah mereka yang mati muda. 
berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Gie,

Rabu, 26 September 2012

2 jarum di arah Utara

rasanya ada penyangga kecil diantara kelopak mata. dan penyangga kecil itu dinamakan harapan.

jarum super ramping warna merah terus beputar, suara detaknya terdengar menyerupai irama. di benakku ia berkata... hai, selamat malam kamu yang menunggu 2 jarum hitamku bertemu diarah utara. tidak lelahkah kamu menunggu? orang yang kamu cinta saja sudah pergi menutup hari. siapa lagi yang kamu tunggu?

penyangga mata itu masih terpasang di tempatnya. menantang jarum jam yang terus berputar dengan irama. bernyanyi mengolok keberadaaku yang masih menunggu seseorang terjaga dan berucap apa yang seharusnya. lalu saat itu pun tiba, 2 jarum hitam bertemu diarah utara. mataku menatap layar ponsel, berharap sebuah nama muncul disana. detak jarum jam kala itu benar-benar mengusik keberadaanku. mengolok dan menghakimi sesuka hati. aku kalah dan ia menang, jarum hitamnya tidak lagi bertemu diarah utara, dan layar ponselku tak kunjung jua menyala.

rasanya aku baru saja di pukul jatuh oleh jam dinding kamarku sendiri. direndahkan dan dipermalukan. setidak berarti itu kah aku sekarang? karna terakhir kali jarum jam itu bertemu di arah utara di tanggal yang sama, layar ponsel ku masih rajin menyala dan nama orang-orang bermunculan disana.

jarum panjang sudah menemui arah utara untuk kedua kalinya, sedang jarum pendek bergerak pelan menuju arah timur laut. manis sekaligus pedih. rasanya seperti menghayati detik-detik usai gerhana. dan ponselku tetap duduk manis dengan layar gelapnya. mengajak aku untuk ikut memejam mata dan menggelapkan dunia.
aku dengar bisikan jam dinding diantara irama detak jarumnya, sudah cukup acara menunggu, terima saja bahwa kamu bagi orang-orang disekitarmu tak seberarti kamu yang dulu.

aku berdamai dengan jam dan jarumnya. berlapang dada dan menganggap bahwa mungkin saja pemikiran itu ada benarnya. tanganku mulai menarik bantal mendekat, hanya ditemani detak jarum jam dan suara kipas angin berputar. juga samar suara televisi yang berasal dari luar ruangan. tanpa lilin warna-warni dan blackforest seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan tanpa satupun pesan ucapan dari orang-orang yang aku cinta.

SELAMAT ULANG TAHUN
aku harap semua yang terbaik untuk mu

kadoku adalah harapan
yang ada meskipun sudah jelas tak kan lagi tergapai
yang tergantung di langit-langit kamar
sementara kau  hanya terbaring beralas lantai

jarum pendek semakin menjauhi utara, timur sudah ada di hadapannya.
dan rasanya aku tak ingin bertambah usia.

Sabtu, 08 September 2012

a piece of thought



lalu naskah mulai diketik. seandainya kalimat dapat melukiskan cerita dan kata bisa merefleksikan rasa dengan sempurna, maka tidak ada yang lebih indah dari kita. kita adalah partikel air yang terhuyung menuju air terjun, yang punya impian untuk jatuh bebas dan mencicipi bagaimana aroma kebebasan saat melayang di udara. yang menentang resiko terhempas terlalu jauh, yang kapan saja dapat menempel pada daun dan ranting, atau terserap dan menyatu dengan tanah, juga lenyap menjadi gas karna surya yang belum lelah bekerja. yang saling berjanji untuk kembali bertatap muka, di perbatasan antara sungai dan lautan, pada tempat sederhana yang ku sebut sebagai muara.

lalu bagaimana bila salah satu dari kita tak pernah menampakkan sosoknya? yang mungkin saja telah menyatu dengan tanah dan membuat sebuah kehidupan baru yang nantinya menjadi paru-paru dunia, atau menguap terbang menuju awan dan dijatuhkan entah dimana letaknya. haruskah kita menyesalinya? karna mengganti ketenangan aliran dengan jatuh bebas diantara sela bebatuan.

tidak perlu. 

bukankah setidaknya kita sudah sempat rasakan bagaimana aroma kebebasan saat melayang di udara? 

dan untuk semua yang telah ku rasa.
itu sudah lebih dari cukup.

Senin, 02 Juli 2012

berbatas lautan

aku ini siapamu? pertanyaan itu kembali melintas dipikiranku. astaga. rasanya baru beberapa detik yang lalu pertanyaan itu pergi. kini pertanyaan itu muncul lagi secepat cahaya. entah untuk keberapa kalinya. kupejamkan lagi mataku, berharap pertanyaan itu akan lenyap ketika aku kembali membuka mata. dan.. sial. kalimat 3 kata dengan tanda tanya itu rasanya dipampang pas di depan mataku, dengan ukurang entah 3x4 meter atau lebih. tidak perlu pakai kacamata. plus memusingkan kepala.

memangnya kamu siapaku? pertanyaan itu berevolusi, tidak membaik, semakin menyesakkan dada. aku sadar status kita tak lebih dari sebutan teman lama. tapi sadarkah kamu? atau justru karna ketidaksadaranmu itu sehingga kamu berusaha menarik aku kembali pada masa lalu. aku tidak pantas menaruh rasa cemburu pada mu, orang yang hanya teman lamaku. dan kamu jauh lebih tidak pantas berbicara seakan kita masih ada dalam masa itu. masa dimana tidak ada lautan yang memisahkan tanah tempat kita berpijak. hanya jalanan, aspal dan bebatuan yang bisa ku pijak dengan nyata, yang bisa ku lalui tanpa tenggelam, tanpa duduk dalam kabin pesawat terbang. 

tidak butuh persetujuan, aku bebas menyalahkan. dan untuk kesekian kalinya aku menyalahkan kamu, tanpa kamu tau. seharusnya kamu bisa memanfaatkan waktu yang kita punya, tidak pergi saat aku ada, dan mencari saat aku sudah tidak disana. kemana saja kamu selama itu? perlukah waktu 4 tahun untuk meyakinkan hati kecilmu bahwa kita memang punya sesuatu? ssttt, tak perlu kamu jawab. aku tidak mau tau.

jadi seperti inilah keadaan kita. tidak perlu disesali karna memang tidak pantas disesali. 2 orang remaja yang saling kenal semenjak lulus sekolah dasar, yang pertama berkenalan di sebuah taman kecil dalam suatu kebetulan, bertatap muka tak lebih dari 6 bulan, dan saling menghilang dalam bayangan, memudar dan pergi. dan kembali kebetulan yang dibuat sendiri mempertemukan, 2 orang remaja dibawah sinar bulan, berbicara, mengulas cerita lama setelah bertahun-tahun tak saling jumpa, tak sampai satu jam sampai lautan kembali memisahkan.

kamu tau tanpa harus aku suarakan kalimat itu, tanpa harus ku tuliskan, tanpa harus ku bisikan. aku mencintaimu, dari sudut kecil dalam hatiku yang tidak ku sadari masih berfungsi. begitu juga aku, mengetahui isi hatimu tanpa harus kamu beritau. tapi seperti inilah kita yang terjebak dalam 2 tubuh yang terlampau jauh pijakannya. yang tidak bisa saling menyentuh meski sekedar berjabat tangan. yang tidak bisa saling mendengar tanpa bantuan gelombang signal. hanya dari hati kita bisa berbicara dengan jelas, tanpa suara dan gambaran, hanya rasa yang aku yakin kamu juga pasti rasa. sebatas itu. karna kita tau bagaimanapun kita tetap satu.

dari sini aku bisikan namamu, tanpa suara, hanya gerakan bibir saja. dari seberang lautan. jalan kemana nantinya aku pulang.

aku tidak tau kemana jalan air hujan menghilang, namun aku tau nantinya ia akan bertemu lautan.

aku tidak tau kemana hati ini akan membawaku,
namun aku tau nanti jawabannya selalu 'kamu'


demi seseorang yang kembali dari masa lalu,
yang dapat kapanpun menghilang,
tanpa bisa disalahkan. 

Sabtu, 23 Juni 2012

Yang Tidak Memiliki Nurani


kini ukiran namamu telah hilang tertutup debu dan airmata ku,
telah hancur termakan waktu juga betapa sakitnya hatiku.
semua semu,
sama seperti ukiran namamu itu.

dulu..
ketika aku mulai mencintaimu, ketika aku mulai berharap bahwa perasaanku bukan hanya bagian dari permainan kecilmu. tanganku bak robot yang telah diatur untuk mengukir nama itu, nama seseorang tidak tau diri yang datang dan pergi sesuka hati, nama seseorang yang tidak tau permisi mengambil hati dan tidak mau mengembalikannya lagi. kamu. wahai yang tidak memiliki nurani.

aku tau semua pilihan memiliki resiko masing-masing yang mau tidak mau harus dirasakan juga, yang aku tidak tau, rasanya akan seperih ini, akan sehancur ini. rasa perih yang sulit diobati, karna tau orang yang bersikap seakan menyayangi malah mencintai orang lain dibalik kelambunya. pernahkah kamu merasakannya? wahai yang tidak memiliki nurani.

pada awalnya memang semua terlihat baik-baik saja, terlihat menjanjikan dan dipenuhi harapan-harapan bahagia. aku mencintaimu dan memulai penantianku. tapi penantian itu tak kunjung berujung, tetap berjalan hingga aku lelah dan kehabisan waktu, kehabisan hati untuk diberikan, kehabisan hati untuk diharapkan.
hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.
dan kamu tetap menjadi seorang teman baik ku, seorang teman biasa tanpa ada kata cinta. bahkan kamu mulai menjauh, kamu mulai hilang dari pandanganku sementara aku tak henti mencari keberadaanmu. kamu lari. kamu sembunyi. kemanakah kamu wahai yang tidak memiliki nurani?

namun waktu membuktikan segalanya, kamu semakin diam tak bersuara, menyelinap keluar bak tikus got hitam yang berjalan melewati tempat gelap, yang lari saat di dekati, yang beraksi saat di jauhi. merasakah engkau wahai yang tidak memiliki nurani?

lalu harapan ku mulai mati, mulai kehabisan alasan untuk dipertahankan.
lalu aku biarkan ukiran namamu itu tetap sendiri, meskipun aku berharap suatu saat nanti akan ada ukiran namaku dibawahnya, kamu dan aku, tapi itu tak pernah terjadi.

dan kini aku telah mengerti,
kamu, wahai orang yang tidak memiliki nurani,
sudah berapa banyakkah orang sepertiku yang kau masukkan dalam permainan kecilmu?

aku tersenyum. tidak.
aku tertawa.

masihkah kamu ?

aku titipkan selembar surat untuk mu, pada angin, hujan, debu, udara dan berkas cahaya.
tidak terlihat, tidak tersentuh, hanya isyarat yang dapat kamu pahami, bukan dengan kekuatan otak, tapi dengan hati.

sehingga kamu bisa menerimanya setiap saat, saat sepoi angin menerpa tubuhmu, saat butiran air hujan membasahimu, saat tanpa sadar kamu menyentuh debu, dan saat kamu bernafas, juga saat sinar matahari tenggelam di kuitmu. setiap saat. apa kamu tau?

surat itu tidak berisikan kata, tidak melampirkan gambar juga tidak membutuhkan alamat. karna aku tau kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan, karna aku tau kamu tidak butuh bukti untuk mempercayai perasaanmu sendiri, dan karna aku tau tepat kemana surat ini akhirnya akan tertuju.

dari hati kecil ku, untuk kamu.

aku masih menyimpan perasaan itu, masihkah kamu?

Minggu, 17 Juni 2012

belum pernah rasanya sebahagia ini, tenang sekaligus gemetar, canggung sekaligus senang. dan aku berusaha cari jawaban terlogis yang bisa kucerna. gak ada. yang keluar malah 1 pertanyaan baru yang mungkin bisa mendukung perasaan ini.

seseorang yang mengitari dunia akan kembali pada posisi awalnya.
tangga nada dimulai dari do dan kembali ke lagi ke do.
manusia yang tercipta dari tanah akan kembali ke tanah.

bukankah pada akhirnya kita selalu kembali ke awal?
mungkin. aku gatau.

Kamis, 07 Juni 2012

empty soul

setiap jengkal tubuhmu serasa mengejang, seakan semua partikel dalam tubuhmu menolak mentah-mentah aura kehidupan. dadamu sesak sementara pepohonan hijau berada di sekelilingmu. matamu merah sementara tidurmu tidak pernah kurang dari 8 jam. kamu pudar. kamu sekarat. bukan sekarat seperti orang kelaparan, bukan seperti korban kecelakaan atau bencana alam, bukan termakan penyakit atau dihalau usia. kamu sekarat. benar-benar sekarat dan butuh pertolongan. kamu tidak batuk, tidak muntah, apalagi mengeluarkan darah. tapi kamu sakit. satu titik dalam dirimu rusak dan kerusakan itu menyebar secepat bisa ular. secepat apel jatuh dari pohonnya. secepat nyala lampu. bahkan secepat kedipan mata. kamu sakit. kamu sekarat dan akhirnya kamu akan mati. jasadmu akan tetap berjalan di permukaan bumi. kamu akan tetap berkaca di cermin setiap pagi dan diam mengantre di kasir supermarket. kamu tetap bernafas dan tubuhmu akan tetap menjalankan metabolismenya. kamu hidup. hidup dalam satu jiwa yang sudah lama pergi. kamu kosong. lalu senyummu hanya tinggal garis melengkung bibir yang datang secepat ia pergi. tanpa arti. tawamu hanya tinggal suara heran akan keadaan yang tidak pernah kamu pahami. dan tangismu hanya tinggal tetesan air yang entah kenapa keluar dari sudut mata. kamu hampa. kamu bukan siapa-siapa. 

lalu kamu siapa? kamu hanya seonggok daging berjalan yang bahkan tidak pantas memiliki nama.