Rabu, 30 November 2016

Rana

Bapak mengambil potongan tempe terakhir di meja. Kami berdoa bersama sebelum menyuap sendok pertama di malam yang nyaris gerimis itu. Hanya berdua. Ibu jarang sekali tinggal, terlebih ketika lewat waktu isya'.
"Mbok ya dihabisin toh, nduk, nasinya. Kasihan kalo dibuang nanti nasinya nangis."
Aku hanya manut dan mengumpulkan butir-butir nasi yang tersisa di pinggir piring. Barang kali besok, ketika makan malam, aku akan bilang pada Bapak bahwa aku bukan anak kecil lagi. Bahwa aku tidak percaya dengan nasi yang menangis. Bahwa kalaupun iya, aku tidak peduli selama aku tidak mendengar langsung suara tangisnya, atau melihat langsung air matanya. Aku akan genap tujuh belas tahun tengah malam nanti. Bukan lagi anak-anak. Aku butuh pembuktian atas segala hal. Atas Tuhan. Atas Cinta. Atas butir nasi yang barang kali menangis di kubangan tempat cucian piring.
Aku menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk memandangi butir-butir kecil di dasar bak cuci. Airnya keruh tercampur kuah soto, tapi aku masih bisa melihat mereka sejelas jentik-jentik di selokan belakang rumah. Kutundukan kepalaku sedikit, mendekatkan daun telinga pada pinggiran bak. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada juga kue ulang tahun yang disembunyikan di dalam lemari. Bapak bilang sudah bukan waktunya untuk merayakan usia yang bertambah. Katanya, tidak ada hal yang patut dibahagiakan dari tumbuh dewasa. Katanya, semua hal datang pada kita, manusia-manusia waras, dengan sebundel tuntutan yang sering kali membuat kita, manusia-manusia waras, menjadi kehilangan akal. Aku mengerti maksud perkataan Bapak: dompet sedang tipis, uang sudah habis untuk membeli selembar tempe dan semangkuk soto, tidak ada lagi yang tersisa untuk membeli kue dan lilin, apalagi sebuah kado.
Kado terakhir yang Bapak berikan adalah sebuah buku catatan tebal, dengan sampul warna biru dan gambar jangkar berwarna putih. Ia bilang itu adalah buku catatan terbagus yang bisa Ia temukan di fotokopi simpang jalan raya depan. Ia ingin buku itu terus aku isi dengan impian-impian besar yang tidak pernah bisa aku sampaikan pada manusia bernyawa. Aku masih lima belas tahun ketika itu dan tidak sedikitpun mengerti apa maksudnya. Ia bilang lagi, ketika aku cukup dewasa untuk memilih satu di antara sekian yang telah ku tulis, aku harus pergi ke pantai dan melempar jauh buku itu ke laut. Membiarkannya tenggelam bersama impian-impian lain, sehingga aku dapat terus fokus pada satu hal yang telah sedemikian rupa aku pilih. Malamnya aku mulai menulis, selama beberapa minggu tidurku pulas sekali dengan buku biru berjangkar putih itu erat dalam dekapanku.
Aku tidak bisa tidur pulas malam ini. Sejak jam sepuluh tadi, lampu sudah kupadamkan. Aku berusaha mengunci rapat kelopak mata, tapi resah terus mengetuk-ngetuk seperti hendak bertamu. Selarut ini, bertamu, sungguh resah yang tidak tahu malu. Jarum panjang dan jarum pendek hampir bertemu di angka dua belas. Hanya tinggal gerung motor yang sesekali melintas, sisanya senyap dan gelap. Ada juga samar-samar dengkuran Bapak yang pulas di ranjangnya yang reot, di kamarnya yang kecil berpintu kelambu, meringkuk sendirian. Malam-malam seperti ini, sepi, sudah begitu familiar di benak Bapak: seperti harian pagi yang setiap hari ia jajahkan di lampu merah; seperti tongkat kayu yang setia memapah langkahnya yang cuma dengan kaki sebelah. Aku selalu percaya Sepi adalah bentuk setia paling luhur yang pernah Bapak temukan sepanjang hidupnya yang pilu itu. 
Bapak selalu bilang bahwa Tuhan maha mengerti hambanya. Dan aku rasa Tuhan pun mengerti bahwa Bapak memang lah orang paling tabah yang sampai detik ini masih berjalan di muka bumi, meski hanya dengan satu kaki. Bapak akan tetap makan dua potong tempe sebagai lauk ketika aku dan Ibu membeli gepuk di warung makan Mbak Titin yang sering kami kasboni itu. Katanya, kalian saja yang makan, uang lebihnya ditabung untuk sekolah Rana, untuk nanti, supaya kamu bisa berhenti. Ibu tidak pernah menanggapi setiap kali Bapak sudah bicara seperti itu. Tapi aku tahu diam-diam ibu selalu menyimpan uang-uang lebihnya di lemari, di antara tumpukan bajunya yang warna-warni. Ia tahu suatu saat ia harus berhenti. 
Aku. Aku tidak tahu kapan aku harus berhenti. Berhenti memikirkan hal-hal yang sudah dipikirkan oleh orang lain dan mulai berpikir untuk diriku sendiri. Aku merasa Saturnus kembali lebih awal khusus untuk diriku. Seakan tata surya ikut bersekongkol, ikut diam-diam membentuk cerita yang aku sendiri tidak tahu bermula dari mana, apalagi berakhir seperti apa. Tapi seperti yang Bapak terus ajarkan, Tuhan mengetahui apa yang hambanya tidak. Barang kali, sekali waktu aku harus bertanya tentang Saturnus, dan mengapa ia selalu diidentikan dengan pertanyaan-pertanyaan hidup di titik paling rawan sepanjang nafas seseorang.
Jarum panjang dan jarum pendek akhirnya menyatu dalam satu garis. Di titik itu, aku merasa semua resah dan tanda tanya lenyap ditelan gelap di sudut ruangan. Saturnus bukan lagi soal, karena tinggal aku sendiri yang ada. Benar-benar sendiri. Bahkan dengkuran Bapak tidak terdengar sama sekali.
Tak lama lalu samar-samar aku dengar bunyi kendaraan yang berhenti sebentar di depan pagar. Ada tawa-tawa kecil menggoda yang mengiringi bunyi rongsokan itu, hingga perlahan hilang diteguk suara jangkrik dan kodok-kodok di selokan bau. Menit berikutnya, dengan keadaan gelap gulita, sudah aku dapati sesosok yang wangi sekali berbaring disampingku, mendekapku erat-erat seperti seorang mengucap selamat, atau memohon maaf atas dosa yang begitu berat. Tidak ada suara yang keluar dari bibir bergincu itu. Tapi entah kenapa rasanya ada isak yang sedikit demi sedikit mulai menyolek gendang telinga. Yang perlahan tapi pasti berubah menjadi tangisan sendu penuh rasa yang tidak tahu harus diluapkan kemana. Yang tak satu dukun pun tahu artinya apa. Seperti butir-butir nasi, ia menangis dengan bahasa yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang mengerti. Ia menangis dalam bahasa yang paling luhur, lebih luhur dari Sepi yang begitu setia menemani hidup seorang manusia. Ia menangis dalam bahasa Cinta.
“Besok Rana mau ke pantai”
“Oh, ya? Tugas sekolah, kah?” akhirnya suara benar-benar mencuat dari garis bibirnya.
Ada sepersekian menit jeda di sana, membuat semua lebur jadi satu dan membentuk sosok asing yang selama ini aku cari-cari, tujuh belas tahun aku cari-cari.
"Rana sudah tujuh belas tahun, Bu. Kapan Rana bisa ikut bekerja dengan Ibu?" 

Tidak ada suara lagi.
Tidak ada apa-apa lagi.


26/11/16

Rabu, 17 Februari 2016

Dongeng tentang Buku, Mimpi dan Waktu

Aku selalu bermimpi untuk jatuh cinta di perpustakaan semenjak umur 12-an. Namun seiring aku dan buku-buku itu bertambah tua, rasanya mimpiku tadi makin tenggelam, dan pada suatu hari yang sudah aku terka, akhirnya ia karam.

Sore tadi aku habiskan hampir satu jam di lorong buku-buku dongeng. Sekedar memilah-milah, inikah atau itukah. Ilustrasi-ilustrasi dan warna-warni sampulnya membuat aku sulit memutuskan buku mana yang harus aku bawa ke meja kasir, yang lalu akan kubungkus dengan kertas kado dan akhirnya kuberikan sebagai hadiah ulang tahun yang ke-20. Malam ini, pukul tujuh lewat tujuh belas, aku 20 tahun pas.

Sementara sore-sore yang lalu seorang teman bertanya, soal niatanku merayakan ulang tahun ke-20 sendirian di perpustakaan, dengan sebuah kado pemberian diri sendiri yang konyolnya adalah buku dongeng untuk anak ingusan. Sementara, menurut dia, aku bisa saja menghabiskan momentum sakral itu bersama teman-teman sebaya dengan hal-hal sesuai umur. Dan aku tahu pasti ketika ia bilang “sesuai umur”, perkataannya merujuk pada aktifitas di bar-bar malam, dengan sedikit minuman, sentuhan, juga goyangan. Aku tersenyum kecil menanggapi pertanyaan temanku itu, kubilang, “Aku tak pernah dibacakan dongeng sewaktu kecil.” Kami tidak pernah bicara lagi.

“Bah, mau berdoa dengan saya?”

Tanyaku mencuat di antara satu buah kue mangkuk berlilin kecil sebatang dan tumpukan buku-buku dengan kertas kekuningan. Jam dinding menunjukan pukul tujuh lewat lima belas. Dan Abah yang sengaja memakai kemeja rapih hari ini, tahu tentang aku yang resmi berkepala dua terhitung mulai dua menit lagi. Ia mundurkan kursinya lalu berdiri, berjalan pelan setengah pincang dan berhenti tepat dihadapanku dan lilin kecil yang menyala itu.

“Kenapa tidak, Yeng?”

Senyum Abah hangat sekali sampai rasanya gerimis yang sedari tadi mengetuk kaca-kaca jendela tetiba berhenti. Kerut yang seakan terpahat permanen di wajah umur 70-annya itu sama sekali tidak mengusikku. Aku selalu menikmati waktuku bertukar cerita dengan Abah. Seorang Rohman Supriyadi, yang hangat kusapa Abah, memang tidak pernah lulus sarjana, tapi karena hampir setengah hidupnya ia habiskan di perpustakaan, ia selalu punya sesuatu untuk dibahas, dan juga untuk ditertawakan.

Mata abah terpejam, khidmat melantun doa dalam hati yang tidak aku tahu apa isinya. Kedua mata itu lalu terbuka, dan

“Giliran Iyeng yang berdoa sendiri, Abah sudah berdoa yang terbaik buat Iyeng. Semoga cepat-cepat pergi dari tempat jelek ini dan mendapat kehidupan yang Iyeng pantas dapatkan, jangan sampai kayak Abah!”

Gelak tawa mengiringi kalimat Abah yang mungkin sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari itu. Gigi depannya yang hampir ompong semua membuat aku ikut tertawa kecil penuh suka dan pengertian. Abah adalah pustakawan abadi sekaligus pemilik perpustakaan kecil ini, sehingga mau tidak mau, Abah harus melihat wajahku setiap hari tanpa terkecuali. Senin hingga Jum’at pukul empat sampai lima sore. Sedang Sabtu Minggu pukul lima sore sampai sembilan malam—perpustakaan tutup saat maghrib tiba, namun aku diijinkan untuk tinggal lebih lama. Pernah suatu ketika aku absen seminggu dari perpustakaan karena harus dirawat di rumah sakit, belakangan ini aku baru tahu bahwa ketika itu Abah begitu cemas sampai menelpon pihak asrama tempat aku tinggal berulang kali. Nyatanya, Abah adalah figur Ayah yang tidak pernah aku miliki.

“Bagaimana kabar Ayah kamu, Yeng?”

Pertanyaan itu muncul di pukul tujuh lewat tujuh belas, pas setelah aku meniup lilin tanda setahun lagi waktu hidupku berkurang. Baru saja aku resmi keluar dari usia belasan dan pertanyaan pertama Abah padaku adalah tentang Ayah. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu semudah Abah menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang arloji dan biskuit mari, tapi sayang definisi kata “ayah” dalam semesta yang aku kenal hanya sekedar donatur penyambung hidup yang hampir tidak pernah aku temui wujud fisiknya.

“Ayah sehat, mungkin. Buktinya Ia belum pulang juga, kan, menulis lagi menulis lagi, katanya untuk majalah ini lah, koran itu lah, tabloid ini lah, buku itu lah. Saya capek perduli, Bah. Selama saya tidak harus menerima telepon duka dari seseorang di luar sana soal Ayah saya”.

“Bapaknya penulis, anak gadisnya kutu buku. Tidak ada yang aneh dari itu, Yeng. Toh semua orang tua punya cara mencintai yang berbeda-beda”.

Aku tidak mengerti kenapa Abah selalu punya hal baik untuk dikatakan di waktu paling buruk sekalipun. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bagian kecil dari hatiku menghangat, lalu merindu.

“Hey!”

Dengan sengaja Abah membuyarkan kerinduan yang tadi tengah aku hayati dalam-dalam. Seakan mengerti jika saja kerinduan yang aku pendam itu meluap, hal itu hanya akan menuai rasa sakit tanpa obat bila dibiarkan  berlarut-larut. Dan dengan santainya seperti tanpa beban, Abah membanting setir pembicaraan kami ke arah yang entah mengapa terasa lebih pahit dari rindu itu sendiri.

“Tahu tidak, Yeng? Waktu Abah masih sekolah SD dulu, guru Abah selalu nanya apa cita-cita Abah. Abah tidak bisa jawab. Abah bilang kalo mimpi Abah itu tidak muluk-muluk. Abah tidak mau jadi presiden apalagi astronot, Abah cuma mau membuat anak-anak sekolah nanti bisa baca buku tanpa harus membayar sepeserpun. Karena Abah merasa betul beratnya orang tua Abah membelikan buku untuk Abah sekolah”.

Aku terdiam sejenak, mencerna perkataan Abah yang tidak tahu harus ku maknai seperti apa. Dan sebelum otak ku selesai memproses kalimat-kalimat tadi, refleks lidahku bertanya balik,

“Apa untuk jatuh cinta di perpustakaan itu termasuk muluk-muluk, Bah?”

Tawa Abah lepas saat itu juga. Setelah lebih dari enam tahun memberiku kartu anggota perpustakaan, akhirnya Abah menemukan tujuan egoisku yang kalau dipikir-pikir memang teramat menggelikan.

“Kamu jelas salah tempat kalau ingin nyari jodoh di sini, Yeng. Jaman sekarang ini siapa lagi yang masih datang ke perpustakaan untuk duduk dan baca buku? Paling ya hanya kamu, dan Abah, dan si Fitria anak bungsu Pak Haji Makmur yang rumahnya persis di samping masjid itu”.

“Bukan begitu, Bah…”

“Abah sudah tua… Yeng,” 

Aku bisa dengar suara Abah bergetar, “...cuma kamu orang terdekat yang bisa Abah akui sebagai anak. Malam ini kamu bisa meniup lilin itu sama tak terduganya seperti besok pagi Abah tidak bangun dari tempat tidur.”

Mata Abah berkaca-kaca sembari ia membelai kecil rambut sebahuku. Aku tidak mengerti kenapa Abah mendadak berubah melankolis, sementara di hari-hari normal ia akan menyetel lagu-lagu Titiek Puspa dan ikut berjoged selama tidak ada orang yang kedapatan melihat.

“Abah kok begitu bicaranya? Kalau soal umur, manusia tahu apa, Bah. Nenek 112 tahun di Cina tidak menyangka kalau bakal hidup selama itu, sama seperti adik saya yang tidak menyangka kalau bakal mati 2 jam setelah dilahirkan”.

Garis bibir Abah tertarik sepersekian centi. Biasanya, di saat-saat seperti ini Abah akan melakukan serangan balik berupa lelucon yang hampir selalu menempatkan aku sebagai objek tertawaan. Dan benarlah.

“Maka dari itu, Yeng. Kamu cari pacar cepat-cepat, biar nanti tahun depan wisuda sudah punya gandengan untuk foto! Nanti Abah mau cuci fotonya satu yang besar, Abah pasang di ruang tamu”
Abah tertawa lagi. Lepas. Aku sekadar tersenyum. Kecut.

“Tanggalkan saja itu mimpi kamu buat jatuh cinta di perpustakaan, Yeng… Susah! Mau kamu jadi perawan tua? Ujung-ujung nanti malah menikahi buku-buku bau itu. Amit-amit, Iyeng!”

“Abah…” kali ini Pak Rohman mulai keterlaluan. Aku tidak pernah punya niatan untuk menikahi buku seberapapun aku cinta.  Tapi benar juga apa yang Abah coba sampaikan kepadaku. Tentang waktu.

Waktu membuat sesuatu tiada pada akhirnya. Seperti manusia yang mati, atau kertas yang perlahan sisa debu saking tuanya. Seperti waktu yang sudah mendoktrin semua orang agar menjauh dari lorong-lorong perpustakaan. Seperti waktu, yang aku.

Setelah Abah lelah menghujaniku dengan guyonan-guyonan pedih, ia menarik nafas dalam-dalam. Terlalu dalam sampai awalnya ku kira Abah akan menjungkang dari bangku yang ia duduki. Fokus mata Abah lalu tertuju pada bungkusan kecil di sudut meja yang sedari tadi belum aku sentuh. Sengaja tidak aku sentuh.

“Kenapa itu kado tidak dibuka, Yeng?”

“Ini kado harus Abah yang buka. Setuju?”

Aku tersenyum mantap. Giliran Abah mengerutkan kening.

Tapi tanpa diminta lagi Abah langsung menyambar bungkusan kado itu, membukanya dengan sekali robekan tanpa memikirkan tentang waktu yang aku habiskan untuk membungkusnya sedemikian rupawan.

“Anak Itik yang Buruk Rupa? Hans Christian Andersen? Kamu sehat, Yeng?”

Suara Abah cenderung bingung daripada menahan tawa. Aku tidak masalah dengan itu. Senyumku malah makin mantap, dan dengan suara yang sengaja kubuat terdengar sangat serius, akhirnya aku utarakan agenda terbesar malam istimewa ini pada Abah dan kumis berubannya itu.

“Abah tahu apa mimpi saya selain jatuh cinta di perpustakaan? Saya ingin sekali dibacakan Dongen, Bah. Sekali saja. Hitung-hitung membasuh luka tak pernah dibacakan dongeng oleh orang tua sewaktu kecil.”

Kening Abah perlahan mendatar seraya garis bibirnya terarik lebar.

“Dan saya ingin Abah, orang terdekat yang bisa saya anggap sebagai Ayah, yang membacakan dongeng itu spesial di ulang tahun saya ke dua puluh ini. Malam ini. Sekarang. Mau, kan, Bah?”

Garis bibir Abah yang makin melebar lalu robek dengan gigi ompong yang jelas terlihat meski lampu ruangan tidak terlalu terang.

“Kenapa tidak, Yeng?” Hangat. Seperti biasa.

Abah mulai bacakan kalimat demi kalimat, suara paraunya menghantarkanku pada lautan lepas yang tenang dan menenangkan. Hanya aku dan kemilau permukaan biru. Tak pernah aku merasa sebegitu aman.

Sekedar itu yang kuingat.

Embun pagi dari jendela yang terbuka menyadarkanku akan dua hal; Semalam, aku tak bisa berenang. Semalam, di atas gambar seekor anak itik yang tengah menangis, tangan Abah terhenti,

kaku seperti rak-rak kayu jati.

20/11/15

Kamis, 21 Januari 2016

Day 17

a part of my mental form is staying at some far far away stanger's porch
laying deep in conversations
and silence as transitions

a part of my mental form lives happily ever after
leaving a blank space in the heart of mine
which certainly I shall remember