Jumat, 27 Oktober 2017

Saya dan Identitas

Pada suatu waktu di Kamis malam, tanggal 26 September 1996, saya dilahirkan. Bayi perempuan yang lalu dinamai dengan nama mirip laki-laki ini tumbuh menjadi sosok yang tidak berbadan apik, tidak berkulit cerah, dan tidak berambut “seperti dari salon.” Saya anak ketiga dari tiga bersaudara, dan entah karena orang tua saya yang mungkin sudah bosan memotret anak-anak, atau hanya bentuk saya saja yang kurang menarik untuk diabadikan, sulit untuk saya menemukan potret-potret diri ketika balita di album-album keluarga. Bentuk balita yang saya miliki adalah kulit (sangat) gelap dan rambut ikal menempel pada kulit kepala, seperti orang-orang timur. Guyonan yang paling sering Ibu saya lontarkan hingga saat ini adalah bahwa dulu sekali seorang suster tanpa sengaja menukar bayi perempuannya.

Seiring waktu berjalan, saya mulai meyakini bahwa guyonan itu memanglah sekedar guyonan belaka. Di usia saya yang memasuki kepala dua, orang-orang mulai berbicara tentang wajah saya yang entah bagaimana mengingatkan mereka pada Ibu saya—yang berarti dulu sekali tidak ada cerita soal tukar-menukar bayi. Tapi bukankah sesuatu yang menyebalkan ketika seseorang, dan bukan hanya sekali kejadian, bertanya “Mama kamu putih, Papa kamu ya tidak hitam juga. Kamu anak siapa?” Lebih menyebalkannya lagi ketika pertanyaan itu bertransformasi menjadi kalimat tanya berbasis lelucon sehari-hari. Seorang Dosen pernah berkata bahwa tubuh sebagai identitas yang paling kasat mata justru kadang menimbulkan kesan ambigu. Saya mengerti benar perkataannya itu.

Ibu saya seorang Sunda sementara Ayah saya seorang Jawa, keduanya sama-sama tulen. Ketika seseorang menanyakan apa suku saya, saya ingin sekali dengan mudah menjawab “Saya orang Jawa”, karena sepengetahuan saya anak perempuan mewarisi suku Ayahnya. Tapi saya tidak bisa berbahasa Jawa, karena semenjak kecil saya hidup di lingkungan yang mayoritas penduduknya bersuku dan berbahasa Banjar. Saya juga ingin sekali menjawab “Saya orang Sunda”. Tapi orang-orang Sunda terkenal dengan kulit yang saya tidak punya. Belum lagi mata bulat dan hidung mancung ini membuat beberapa orang bertanya “Kamu keturunan India, ya?” Pertanyaan tentang suku dan asal-muasal akhirnya hanya saya jawab dengan rangkaian senyum kecil, meninggalkannya seperti itu, tetap ambigu.

Kembali pada pertanyaan “Kamu anak siapa?”, tiga kata itu menghantarkan saya pada masalah yang lebih menyebalkan lagi. Saya mengerti ketika pertanyaan itu dilontarkan si penanya bermaksud mempermasalahkan warna kulit saya yang cenderung gelap. Ibu saya punya kulit putih yang bahkan terlihat seperti Cina, sementara rona kulit saya adalah skala paling bawah penggaris pengukur warna kulit milik produk-produk pemutih wajah. Tapi di situ lah letak kekonyolannya; tidak ada yang salah dengan berkulit gelap, permasalahan muncul ketika kita hidup di tempat yang secara sadar ataupun tidak sadar menganut paham “putih=cantik” dan sebaliknya. Paham ini berlaku sampai ke titik paling dasar sehingga kita tidak sempat menyadarinya. Contoh paling sederhana bisa kita temukan di upacara-upacara bendera, ketika ada perwakilan murid perempuan yang akan dipanggil ke depan untuk semacam penyerahan simbolis, maka yang dipilih selalu murid perempuan berparas cantik, dan cantik berarti berkulit putih. Dari hal-hal semacam itulah bibit diskriminasi tak kasat mata tercipta, dan bentuknya semakin serius dalam beberapa kasus yang selama ini saya hadapi.

Perlakuan berbeda itu membuat perempuan dalam berbagai kesempatan berusaha memutihkan diri baik secara fisik maupun digital, untuk mengurangi kesenjangan antara putih dan tidak putih yang ciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Produk kosmetik pemutih wajah laku keras, sekeras frekuensi pengunduhan aplikasi penyunting gambar di berbagai gadget. Saya sendiri merasakan dorongan ini, dorongan untuk “memutihkan.” Tapi setiap kali saya melihat potret diri yang sudah disulap sedemikan rupa sehingga terlihat lebih cerah, rasanya seakan menatap pada sosok yang tidak pernah saya kenali. Dan secuil hati saya merasa kehilangan identitas kala itu terjadi.  

Pergulatan saya tentang tubuh tidak berhenti sampai di situ. Saya memiliki tubuh yang orang bilang mirip “papan penggilasan”, papan untuk ibu-ibu biasanya mencuci baju, tipis dan rata. Sementara saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang percaya bahwa pembeda paling konkret antara laki-laki dan perempuan adalah bentuk tubuh. Di mana perempuan harus “memiliki” dada dan bokong sementara laki-laki dapat tenang dengan berbadan rata. Bukankah dengan pandangan seperti itu saya berhak menuntut bahwa laki-laki harus berbadan kekar dan berdada bidang seperti binaragawan? Hal yang lebih sulit untuk saya terima adalah bagaimana pandangan ini digunakan bukan hanya di kepala-kepala orang dewasa, melainkan juga di kepala-kepala anak ingusan. Dulu sekali seorang teman perempuan pernah berkata dengan santainya, “Cepet dibesarin itu dada, kalo udah SMP masih gak punya dada nanti malu!” Kalimat itu begitu membekas di benak saya hingga saat ini, kami masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar waktu itu.

Saya ingat bagian paling menyebalkan dari bersekolah adalah pelajaran olahraga. Saya terpaksa menggunakan kaos yang dimasukan ke celana training demi mengikuti mata pelajaran tersebut, sementara kaos yang dimasukan ke celana training membuat bentuk tubuh rata saya menjadi lebih tidak berbentuk lagi.  Saya ingat berusaha mengeluarkan ujung kaos dari celana itu kapanpun ada kesempatan, demi menutupi bentuk tubuh yang sangat tidak “perempuan” itu.

Apa yang salah dengan seorang perempuan berbadan rata? Apakah dengan lekuk tubuh yang tidak terlalu mencolok lalu seorang perempuan tidak bisa mengandung dan melahirkan anak-anak pintar yang begitu dibutuhkan di masyarakat ini? Anak-anak pintar yang tidak berpikir bahwa dada dan bokong besar adalah modal utama seorang perempuan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seksualitas yang ada pada tubuh perempuan seringkali dijadikan patokan. Bukan hanya oleh kaum laki-laki, melainkan juga oleh kaum perempuan itu sendiri. Perempuan yang memiliki postur tubuh ideal akan berjalan penuh percaya diri, meyakini bahwa orang lain akan melihat dia seperti dia melihat relfeksi tubuhnya di cermin; sempurna. Sebagai dampak dari kepercayaan ini, pakaian-pakaian dalam “istimewa” mulai beredar di pasaran. Membuat para perempuan memilih pakaian dalam sedemikian rupa sehingga dada dan bokong mereka tampak terangkat, menyumpal anggota-anggota tubuh yang seharusnya apa adanya itu dengan buntalan-buntalan busa dan mungkin silikon juga.

Pandangan akan seksualitas dan kecantikan yang wajib dimiliki setiap perempuan begitu merasuk pada diri saya, sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya akan tetap hidup meski tanpa postur ideal dan kulit putih sekalipun. Saya akan tetap memiliki teman untuk bertukar pikiran dan saya akan tetap menjalin romantisme biarpun tubuh saya rata dan gelap seperti papan penggilasan. Semua orang akan mengenali saya sebagai saya, meski saya mengaku Jawa, Sunda, atau India sekalipun. Ada perbedaan besar antara tidak berusaha memperbaiki dan tidak berusaha merubah. Di sini saya tidak akan berusaha merubah diri saya menjadi layaknya bintang-bintang iklan sabun yang hampir selalu dijadikan kiblat kecantikan, namun saya terus berusaha untuk memperbaiki tubuh semampu saya sebagai seorang perempuan normal. Dan pada akhirnya, saya berdiri di hadapan cermin bukan hanya untuk membayangkan bagaimana orang lain melihat diri saya, namun juga untuk berdamai dengan tubuh sebagai identitas paling konkret yang saya miliki. 

Terlepas keliru-tidaknya label yang disematkan si suster pada bayi perempuan itu bertahun lalu.

Senin, 02 Oktober 2017

09.24
All the mirrors we refuse to look into, we break,
Till they cut our veins open and let our genes out,
And in that very moment we realize,
There's no escape from what we are.

Jumat, 29 September 2017

21.58
The raindrops finally sound like a ticking clock.
Yet your scent stays like a hurricane.

Senin, 11 September 2017

Sebab Perang Telah Usai

Berjanjilah untuk melempar surat ini jauh ke dalam api tepat setalah kau selesai membacanya.
Lalu dengan seluruh kebahagiaan yang sekian lama terpenjara dalam tubuh mungilmu itu,
menangislah.


Sampaikan pada ayah bundamu, cintaku.
Perang telah merenggut seorang menantu.

Sampaikan bahwa aku mati dengan pedang tergenggam di tanganku. 
Berperang demi raja yang berjanji untuk menjaga makmurnya tanah kita.
Sampaikan bahwa aku menyimpan semua suratmu di saku dada.
Tepat di mana ujung tombak tajam tertanam sekian dalam.
Sampaikan bahwa aku mengingat tarikan bibirmu pada detik-detik terakhir hayat.
Senyummu merekah dari balik tumpukan jerami, di sebelah sumur dengan satu bak kentang yang hendak kau cuci.

Kau bisa mulai menangis sekarang, sayang. Kau boleh mulai berlutut di tanah dan mengutuk semua dewa yang pernah kau dengar namanya. Sungguh tidak satupun dari kita cukup berdosa untuk menerima nasib yang sedemikian rupa. Aku membunuh seorang prajurit yang tidak lebih tua dari adik bungsumu Joan. Aku memenggal seorang komandan yang rambutnya tidak lebih hitam dari ayahmu Jordan. Aku melihat pasukanku memerkosa seorang wanita penjual tiram yang tidak lebih muda dari ibumu Lea, dan aku tidak berbuat apa-apa. Kau harus mengerti bahwa Perang adalah iblis yang begitu kejam. Sebagian yang pergi tidak pernah pulang, sebagian lagi tidak cukup beruntung untuk mati dan harus kembali, hanya untuk pergi lagi memerangi orang yang bahkan tidak mereka kenal. Perang membuat aku akhirnya sadar, cintaku, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan bersama seorang yang sama sekali kita tidak cinta. 

Tapi ibuku pernah berkata bahwa cinta hanyalah untuk anak-anak. Orang dewasa mengikat janji di depan dewa atas nama aliansi, emas, kekuatan, gelar, dan semua hal demi menghidupi nama keluarganya. "Kau adalah masa depan keluarga ini" ia bilang, "Kau akan menikahi seorang gadis yang belum pernah kau temui sebelumnya" ia bilang lagi, "Jika kau lebih beruntung dari Ibu, kau akan tumbuh mencintai istrimu itu kelak. Hingga tiba suatu waktu, kau tidak perlu lagi berpura-pura". 

Aku benar lebih beruntung dari Ibuku, cintaku. Tapi tampaknya kau tidak.
Dan Perang telah mengajarkanku apa yang harusnya ia ajarkan.
Hidup ini terlalu singkat, sayang.

Menangislah untuk yang terakhir kali,
Dan sampaikan ayah bundamu kabar ini,
Kematian telah memisah kita berdua,
Sungguh itulah satu-satunya perkara yang bisa mereka terima.


Sebab perang telah usai.

Sebab perang telah usai, sayang.
Dan aku tak ingin kembali pulang.

Senin, 03 Juli 2017

Things I'd rather not say to you #2

Sometimes,
I love it when you're in pain.
The way I hold your pinkie instead of your hand;
The way I leave a bunny teeth mark on your tan.
And don't tell me you don't love that kind of pain.

Things I'd rather not say to you #1

The weird thing is, 
I don't feel poetic with you.
Maybe it is because I write nothing but sadness.
And for all I know, you are the exact opposite of it.

Senin, 13 Februari 2017

Pangeran dari Cordonia

Namanya Leo, 
seperti keripik kentang.

Matanya biru langit dan 
senyumnya bak matahari 
jam delapan 
pagi.

---

Belakangan saya mengunduh sebuah permainan visual novel di ponsel. Rasanya ingin sekali meludahi diri sendiri, sebab saya mendapati diri saya terhibur dengan drama fiksional sementara apa yang jelas-jelas di depan mata sering kali saya hindari. Menulis ini pun adalah bentuk penyangkalan atas apa yang seharusnya saya lakukan; perkuliahan dimulai hanya dalam hitungan jari sebelah tangan, saya harus lulus dalam hitungan bulan, dan bagian terburuknya, saya menulis tentang seorang pangeran fiksional dari suatu tempat yang juga fiksional jam dua pagi di kamar seorang teman berbekal internet menumpang. Ah. Lagipula, berbulan-bulan lalu sudah saya putuskan untuk menulis hanya untuk diri saya sendiri, pada buku kecil tanpa garis yang kerap saya isi dengan pikiran-pikiran lewat tengah malam. Tulisan-tulisan tak berarah, nirfaedah.

Namanya Leo, seperti keripik kentang. 
Saya bertemu sosoknya pertama kali di antara puing-puing Athena, dan sedemikian manis kata yang ia ucapkan, saya lalu jatuh cinta. Mudah sekali rasanya jatuh untuk pria yang semacam itu; yang tidak nyata. Dengan kondisi saya yang harus menikah di akhir musim panas demi sebuah harta warisan dari nenek yang diam-diam adalah seorang milyuner. Begitu kira-kira jalan ceritanya. Saya terjebak dalam perjalanan kapal pesiar sepanjang musim, berlayar dari tempat ke tempat, dengan mantan tunangan yang belakangan saya ketahui telah berselingkuh, sehingga menyisakan saya kursi pelaminan kosong yang harus terisi tepat setelah pesiar selesai. Sungguh drama yang memuakkan, bukan? Tapi saya benar mencintai pria rambut pirang itu. Bukan karena harta warisan ataupun dia seorang pangeran. 

Saya telak jatuh ketika ia mulai bicara tentang waktu yang kita habiskan sepanjang hidup. Awalnya saya utarakan keresahan saya akan hubungan yang saya pikir terlalu cepat. Dan malah Ia bilang, nyatanya kita lebih banyak menghabiskan detik-detik yang kita anggap berharga untuk menyikat gigi, untuk mengantre di kasir swalayan, atau untuk terjebak macet di jalanan. Justru hal-hal yang benar berharga lah yang terjadi dalam hitungan detik dan kedipan mata. Hal-hal yang mengubah titik hidup, hal-hal yang membentuk diri saya sekarang, hal-hal yang tidak pernah lepas dari ingatan. Semua itu terjadi begitu cepatnya. Secepat ini, secepat saya melihat mata seseorang dan yakin bahwa mata itulah yang ingin saya lihat pertama kali setiap bangun pagi, sampai nanti saya tak bangun lagi. 

Bukankah waktu tidak pernah benar jadi sebuah ukuran? 

Musim panas belum selesai. Kapalnya masih terus berlayar dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Saya masih berusaha meyakinkan semesta kalau benar Leo yang nantinya akan saya nikahi. Tentu banyak sekali aral melintang. Pada akhirnya, ini tentu masih sebuah permainan. 

Bab baru datang setiap minggu. Dan di sela-sela penantian saya itu, sosok Leo lebur ke dalam suara kipas angin dan sebuah dream catcher yang tergantung dan bergoyang. Saya berusaha mencari pembenaran atas keterikatan yang saya rasakan. Mungkin memang seperti itu. Kita, manusia, selalu begitu tertarik pada apapun yang tidak bisa kita miliki. Mengendalikan hal yang di luar dari diri kita sendiri. Sesuatu. Seseorang. Sebuah kehidupan lain: kemungkinan menikahi seorang bangsawan. Memang nyatanya hidup adalah soal kemungkinan. Kecil ataukah besar, semua tak lain adalah kemungkinan yang--mungkin--hanya Tuhan dan segelintir orang pintar yang mengerti duduk perkaranya. 

Saya bukan Tuhan. Saya bukan orang pintar. Saya tidak tahu siapa orang yang nantinya akan saya nikahi. Saya tidak tahu mata siapa yang nantinya saya tatap pertama kali setiap bangun pagi. Dalam permainan, saya selalu bisa mengulang sebuah bab tiap kali bab itu berakhir tidak seperti yang saya inginkan. Saya selalu bisa mencoba pilihan-pilihan lain, yang bisa menghantarkan saya pada ujung cerita yang berbeda. Sehingga selalu ada kesempatan untuk berakhir memandangi mata seseorang yang benar-benar saya inginkan, yang benar-benar saya cintai sepenuh hati tanpa terkecuali.

Saya. Terlepas dari semua embel-embel drama antara seorang perempuan biasa dengan seorang bangsawan. Cerita saya juga tengah berjalan melewati bab-babnya sendiri. Pada waktunya, saya akan lulus dari institusi ini. Saya akan mendapat pekerjaan yang saya idamkan. Menikahi seseorang, menatap belek matanya setiap pagi dan membangunkannya dengan ciuman ringan. 

Tapi saya tidak pernah tau,
Di sisi dunia yang lain, mungkin saja.
Seseorang tetiba mengumpat. Menyesali pilihan-pilihan yang ia buat sehingga menempatkan saya di posisi yang demikian. Karena satu dua alasan, ia pun merasakan juga keterikatan. Matanya kosong menatap saya meneguk kopi entah gelas keberapa setiap malam, menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah saya inginkan. Hatinya retak mendapati saya bangun setiap pagi di samping sebuah pertanyaan yang selamanya tertulis di dahi seseorang: apakah saya benar mencintai pria yang saya nikahi?

Ia lalu menekan tombol ulang, 
dan seketika hidup saya terulang 
dari awal.

---

Memang saya tidak pernah tau.
Di sisi dunia yang lain, Cordonia, mungkin saja.
Bukankah hidup tak lain adalah sebuah permainan?

Rabu, 30 November 2016

Rana

Bapak mengambil potongan tempe terakhir di meja. Kami berdoa bersama sebelum menyuap sendok pertama di malam yang nyaris gerimis itu. Hanya berdua. Ibu jarang sekali tinggal, terlebih ketika lewat waktu isya'.
"Mbok ya dihabisin toh, nduk, nasinya. Kasihan kalo dibuang nanti nasinya nangis."
Aku hanya manut dan mengumpulkan butir-butir nasi yang tersisa di pinggir piring. Barang kali besok, ketika makan malam, aku akan bilang pada Bapak bahwa aku bukan anak kecil lagi. Bahwa aku tidak percaya dengan nasi yang menangis. Bahwa kalaupun iya, aku tidak peduli selama aku tidak mendengar langsung suara tangisnya, atau melihat langsung air matanya. Aku akan genap tujuh belas tahun tengah malam nanti. Bukan lagi anak-anak. Aku butuh pembuktian atas segala hal. Atas Tuhan. Atas Cinta. Atas butir nasi yang barang kali menangis di kubangan tempat cucian piring.
Aku menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk memandangi butir-butir kecil di dasar bak cuci. Airnya keruh tercampur kuah soto, tapi aku masih bisa melihat mereka sejelas jentik-jentik di selokan belakang rumah. Kutundukan kepalaku sedikit, mendekatkan daun telinga pada pinggiran bak. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada juga kue ulang tahun yang disembunyikan di dalam lemari. Bapak bilang sudah bukan waktunya untuk merayakan usia yang bertambah. Katanya, tidak ada hal yang patut dibahagiakan dari tumbuh dewasa. Katanya, semua hal datang pada kita, manusia-manusia waras, dengan sebundel tuntutan yang sering kali membuat kita, manusia-manusia waras, menjadi kehilangan akal. Aku mengerti maksud perkataan Bapak: dompet sedang tipis, uang sudah habis untuk membeli selembar tempe dan semangkuk soto, tidak ada lagi yang tersisa untuk membeli kue dan lilin, apalagi sebuah kado.
Kado terakhir yang Bapak berikan adalah sebuah buku catatan tebal, dengan sampul warna biru dan gambar jangkar berwarna putih. Ia bilang itu adalah buku catatan terbagus yang bisa Ia temukan di fotokopi simpang jalan raya depan. Ia ingin buku itu terus aku isi dengan impian-impian besar yang tidak pernah bisa aku sampaikan pada manusia bernyawa. Aku masih lima belas tahun ketika itu dan tidak sedikitpun mengerti apa maksudnya. Ia bilang lagi, ketika aku cukup dewasa untuk memilih satu di antara sekian yang telah ku tulis, aku harus pergi ke pantai dan melempar jauh buku itu ke laut. Membiarkannya tenggelam bersama impian-impian lain, sehingga aku dapat terus fokus pada satu hal yang telah sedemikian rupa aku pilih. Malamnya aku mulai menulis, selama beberapa minggu tidurku pulas sekali dengan buku biru berjangkar putih itu erat dalam dekapanku.
Aku tidak bisa tidur pulas malam ini. Sejak jam sepuluh tadi, lampu sudah kupadamkan. Aku berusaha mengunci rapat kelopak mata, tapi resah terus mengetuk-ngetuk seperti hendak bertamu. Selarut ini, bertamu, sungguh resah yang tidak tahu malu. Jarum panjang dan jarum pendek hampir bertemu di angka dua belas. Hanya tinggal gerung motor yang sesekali melintas, sisanya senyap dan gelap. Ada juga samar-samar dengkuran Bapak yang pulas di ranjangnya yang reot, di kamarnya yang kecil berpintu kelambu, meringkuk sendirian. Malam-malam seperti ini, sepi, sudah begitu familiar di benak Bapak: seperti harian pagi yang setiap hari ia jajahkan di lampu merah; seperti tongkat kayu yang setia memapah langkahnya yang cuma dengan kaki sebelah. Aku selalu percaya Sepi adalah bentuk setia paling luhur yang pernah Bapak temukan sepanjang hidupnya yang pilu itu. 
Bapak selalu bilang bahwa Tuhan maha mengerti hambanya. Dan aku rasa Tuhan pun mengerti bahwa Bapak memang lah orang paling tabah yang sampai detik ini masih berjalan di muka bumi, meski hanya dengan satu kaki. Bapak akan tetap makan dua potong tempe sebagai lauk ketika aku dan Ibu membeli gepuk di warung makan Mbak Titin yang sering kami kasboni itu. Katanya, kalian saja yang makan, uang lebihnya ditabung untuk sekolah Rana, untuk nanti, supaya kamu bisa berhenti. Ibu tidak pernah menanggapi setiap kali Bapak sudah bicara seperti itu. Tapi aku tahu diam-diam ibu selalu menyimpan uang-uang lebihnya di lemari, di antara tumpukan bajunya yang warna-warni. Ia tahu suatu saat ia harus berhenti. 
Aku. Aku tidak tahu kapan aku harus berhenti. Berhenti memikirkan hal-hal yang sudah dipikirkan oleh orang lain dan mulai berpikir untuk diriku sendiri. Aku merasa Saturnus kembali lebih awal khusus untuk diriku. Seakan tata surya ikut bersekongkol, ikut diam-diam membentuk cerita yang aku sendiri tidak tahu bermula dari mana, apalagi berakhir seperti apa. Tapi seperti yang Bapak terus ajarkan, Tuhan mengetahui apa yang hambanya tidak. Barang kali, sekali waktu aku harus bertanya tentang Saturnus, dan mengapa ia selalu diidentikan dengan pertanyaan-pertanyaan hidup di titik paling rawan sepanjang nafas seseorang.
Jarum panjang dan jarum pendek akhirnya menyatu dalam satu garis. Di titik itu, aku merasa semua resah dan tanda tanya lenyap ditelan gelap di sudut ruangan. Saturnus bukan lagi soal, karena tinggal aku sendiri yang ada. Benar-benar sendiri. Bahkan dengkuran Bapak tidak terdengar sama sekali.
Tak lama lalu samar-samar aku dengar bunyi kendaraan yang berhenti sebentar di depan pagar. Ada tawa-tawa kecil menggoda yang mengiringi bunyi rongsokan itu, hingga perlahan hilang diteguk suara jangkrik dan kodok-kodok di selokan bau. Menit berikutnya, dengan keadaan gelap gulita, sudah aku dapati sesosok yang wangi sekali berbaring disampingku, mendekapku erat-erat seperti seorang mengucap selamat, atau memohon maaf atas dosa yang begitu berat. Tidak ada suara yang keluar dari bibir bergincu itu. Tapi entah kenapa rasanya ada isak yang sedikit demi sedikit mulai menyolek gendang telinga. Yang perlahan tapi pasti berubah menjadi tangisan sendu penuh rasa yang tidak tahu harus diluapkan kemana. Yang tak satu dukun pun tahu artinya apa. Seperti butir-butir nasi, ia menangis dengan bahasa yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang mengerti. Ia menangis dalam bahasa yang paling luhur, lebih luhur dari Sepi yang begitu setia menemani hidup seorang manusia. Ia menangis dalam bahasa Cinta.
“Besok Rana mau ke pantai”
“Oh, ya? Tugas sekolah, kah?” akhirnya suara benar-benar mencuat dari garis bibirnya.
Ada sepersekian menit jeda di sana, membuat semua lebur jadi satu dan membentuk sosok asing yang selama ini aku cari-cari, tujuh belas tahun aku cari-cari.
"Rana sudah tujuh belas tahun, Bu. Kapan Rana bisa ikut bekerja dengan Ibu?" 

Tidak ada suara lagi.
Tidak ada apa-apa lagi.


26/11/16