Senin, 03 Juli 2017

Things I'd rather not say to you #2

Sometimes,
I love it when you're in pain.
The way I hold your pinkie instead of your hand;
The way I leave a bunny teeth mark on your tan.
And don't tell me you don't love that kind of pain.

Things I'd rather not say to you #1

The weird thing is, 
I don't feel poetic with you.
Maybe it is because I write nothing but sadness.
And for all I know, you are the exact opposite of it.

Senin, 13 Februari 2017

Pangeran dari Cordonia

Namanya Leo, 
seperti keripik kentang.

Matanya biru langit dan 
senyumnya bak matahari 
jam delapan 
pagi.

---

Belakangan saya mengunduh sebuah permainan visual novel di ponsel. Rasanya ingin sekali meludahi diri sendiri, sebab saya mendapati diri saya terhibur dengan drama fiksional sementara apa yang jelas-jelas di depan mata sering kali saya hindari. Menulis ini pun adalah bentuk penyangkalan atas apa yang seharusnya saya lakukan; perkuliahan dimulai hanya dalam hitungan jari sebelah tangan, saya harus lulus dalam hitungan bulan, dan bagian terburuknya, saya menulis tentang seorang pangeran fiksional dari suatu tempat yang juga fiksional jam dua pagi di kamar seorang teman berbekal internet menumpang. Ah. Lagipula, berbulan-bulan lalu sudah saya putuskan untuk menulis hanya untuk diri saya sendiri, pada buku kecil tanpa garis yang kerap saya isi dengan pikiran-pikiran lewat tengah malam. Tulisan-tulisan tak berarah, nirfaedah.

Namanya Leo, seperti keripik kentang. 
Saya bertemu sosoknya pertama kali di antara puing-puing Athena, dan sedemikian manis kata yang ia ucapkan, saya lalu jatuh cinta. Mudah sekali rasanya jatuh untuk pria yang semacam itu; yang tidak nyata. Dengan kondisi saya yang harus menikah di akhir musim panas demi sebuah harta warisan dari nenek yang diam-diam adalah seorang milyuner. Begitu kira-kira jalan ceritanya. Saya terjebak dalam perjalanan kapal pesiar sepanjang musim, berlayar dari tempat ke tempat, dengan mantan tunangan yang belakangan saya ketahui telah berselingkuh, sehingga menyisakan saya kursi pelaminan kosong yang harus terisi tepat setelah pesiar selesai. Sungguh drama yang memuakkan, bukan? Tapi saya benar mencintai pria rambut pirang itu. Bukan karena harta warisan ataupun dia seorang pangeran. 

Saya telak jatuh ketika ia mulai bicara tentang waktu yang kita habiskan sepanjang hidup. Awalnya saya utarakan keresahan saya akan hubungan yang saya pikir terlalu cepat. Dan malah Ia bilang, nyatanya kita lebih banyak menghabiskan detik-detik yang kita anggap berharga untuk menyikat gigi, untuk mengantre di kasir swalayan, atau untuk terjebak macet di jalanan. Justru hal-hal yang benar berharga lah yang terjadi dalam hitungan detik dan kedipan mata. Hal-hal yang mengubah titik hidup, hal-hal yang membentuk diri saya sekarang, hal-hal yang tidak pernah lepas dari ingatan. Semua itu terjadi begitu cepatnya. Secepat ini, secepat saya melihat mata seseorang dan yakin bahwa mata itulah yang ingin saya lihat pertama kali setiap bangun pagi, sampai nanti saya tak bangun lagi. 

Bukankah waktu tidak pernah benar jadi sebuah ukuran? 

Musim panas belum selesai. Kapalnya masih terus berlayar dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Saya masih berusaha meyakinkan semesta kalau benar Leo yang nantinya akan saya nikahi. Tentu banyak sekali aral melintang. Pada akhirnya, ini tentu masih sebuah permainan. 

Bab baru datang setiap minggu. Dan di sela-sela penantian saya itu, sosok Leo lebur ke dalam suara kipas angin dan sebuah dream catcher yang tergantung dan bergoyang. Saya berusaha mencari pembenaran atas keterikatan yang saya rasakan. Mungkin memang seperti itu. Kita, manusia, selalu begitu tertarik pada apapun yang tidak bisa kita miliki. Mengendalikan hal yang di luar dari diri kita sendiri. Sesuatu. Seseorang. Sebuah kehidupan lain: kemungkinan menikahi seorang bangsawan. Memang nyatanya hidup adalah soal kemungkinan. Kecil ataukah besar, semua tak lain adalah kemungkinan yang--mungkin--hanya Tuhan dan segelintir orang pintar yang mengerti duduk perkaranya. 

Saya bukan Tuhan. Saya bukan orang pintar. Saya tidak tahu siapa orang yang nantinya akan saya nikahi. Saya tidak tahu mata siapa yang nantinya saya tatap pertama kali setiap bangun pagi. Dalam permainan, saya selalu bisa mengulang sebuah bab tiap kali bab itu berakhir tidak seperti yang saya inginkan. Saya selalu bisa mencoba pilihan-pilihan lain, yang bisa menghantarkan saya pada ujung cerita yang berbeda. Sehingga selalu ada kesempatan untuk berakhir memandangi mata seseorang yang benar-benar saya inginkan, yang benar-benar saya cintai sepenuh hati tanpa terkecuali.

Saya. Terlepas dari semua embel-embel drama antara seorang perempuan biasa dengan seorang bangsawan. Cerita saya juga tengah berjalan melewati bab-babnya sendiri. Pada waktunya, saya akan lulus dari institusi ini. Saya akan mendapat pekerjaan yang saya idamkan. Menikahi seseorang, menatap belek matanya setiap pagi dan membangunkannya dengan ciuman ringan. 

Tapi saya tidak pernah tau,
Di sisi dunia yang lain, mungkin saja.
Seseorang tetiba mengumpat. Menyesali pilihan-pilihan yang ia buat sehingga menempatkan saya di posisi yang demikian. Karena satu dua alasan, ia pun merasakan juga keterikatan. Matanya kosong menatap saya meneguk kopi entah gelas keberapa setiap malam, menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah saya inginkan. Hatinya retak mendapati saya bangun setiap pagi di samping sebuah pertanyaan yang selamanya tertulis di dahi seseorang: apakah saya benar mencintai pria yang saya nikahi?

Ia lalu menekan tombol ulang, 
dan seketika hidup saya terulang 
dari awal.

---

Memang saya tidak pernah tau.
Di sisi dunia yang lain, Cordonia, mungkin saja.
Bukankah hidup tak lain adalah sebuah permainan?

Rabu, 30 November 2016

Rana

Bapak mengambil potongan tempe terakhir di meja. Kami berdoa bersama sebelum menyuap sendok pertama di malam yang nyaris gerimis itu. Hanya berdua. Ibu jarang sekali tinggal, terlebih ketika lewat waktu isya'.
"Mbok ya dihabisin toh, nduk, nasinya. Kasihan kalo dibuang nanti nasinya nangis."
Aku hanya manut dan mengumpulkan butir-butir nasi yang tersisa di pinggir piring. Barang kali besok, ketika makan malam, aku akan bilang pada Bapak bahwa aku bukan anak kecil lagi. Bahwa aku tidak percaya dengan nasi yang menangis. Bahwa kalaupun iya, aku tidak peduli selama aku tidak mendengar langsung suara tangisnya, atau melihat langsung air matanya. Aku akan genap tujuh belas tahun tengah malam nanti. Bukan lagi anak-anak. Aku butuh pembuktian atas segala hal. Atas Tuhan. Atas Cinta. Atas butir nasi yang barang kali menangis di kubangan tempat cucian piring.
Aku menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk memandangi butir-butir kecil di dasar bak cuci. Airnya keruh tercampur kuah soto, tapi aku masih bisa melihat mereka sejelas jentik-jentik di selokan belakang rumah. Kutundukan kepalaku sedikit, mendekatkan daun telinga pada pinggiran bak. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Tidak ada juga kue ulang tahun yang disembunyikan di dalam lemari. Bapak bilang sudah bukan waktunya untuk merayakan usia yang bertambah. Katanya, tidak ada hal yang patut dibahagiakan dari tumbuh dewasa. Katanya, semua hal datang pada kita, manusia-manusia waras, dengan sebundel tuntutan yang sering kali membuat kita, manusia-manusia waras, menjadi kehilangan akal. Aku mengerti maksud perkataan Bapak: dompet sedang tipis, uang sudah habis untuk membeli selembar tempe dan semangkuk soto, tidak ada lagi yang tersisa untuk membeli kue dan lilin, apalagi sebuah kado.
Kado terakhir yang Bapak berikan adalah sebuah buku catatan tebal, dengan sampul warna biru dan gambar jangkar berwarna putih. Ia bilang itu adalah buku catatan terbagus yang bisa Ia temukan di fotokopi simpang jalan raya depan. Ia ingin buku itu terus aku isi dengan impian-impian besar yang tidak pernah bisa aku sampaikan pada manusia bernyawa. Aku masih lima belas tahun ketika itu dan tidak sedikitpun mengerti apa maksudnya. Ia bilang lagi, ketika aku cukup dewasa untuk memilih satu di antara sekian yang telah ku tulis, aku harus pergi ke pantai dan melempar jauh buku itu ke laut. Membiarkannya tenggelam bersama impian-impian lain, sehingga aku dapat terus fokus pada satu hal yang telah sedemikian rupa aku pilih. Malamnya aku mulai menulis, selama beberapa minggu tidurku pulas sekali dengan buku biru berjangkar putih itu erat dalam dekapanku.
Aku tidak bisa tidur pulas malam ini. Sejak jam sepuluh tadi, lampu sudah kupadamkan. Aku berusaha mengunci rapat kelopak mata, tapi resah terus mengetuk-ngetuk seperti hendak bertamu. Selarut ini, bertamu, sungguh resah yang tidak tahu malu. Jarum panjang dan jarum pendek hampir bertemu di angka dua belas. Hanya tinggal gerung motor yang sesekali melintas, sisanya senyap dan gelap. Ada juga samar-samar dengkuran Bapak yang pulas di ranjangnya yang reot, di kamarnya yang kecil berpintu kelambu, meringkuk sendirian. Malam-malam seperti ini, sepi, sudah begitu familiar di benak Bapak: seperti harian pagi yang setiap hari ia jajahkan di lampu merah; seperti tongkat kayu yang setia memapah langkahnya yang cuma dengan kaki sebelah. Aku selalu percaya Sepi adalah bentuk setia paling luhur yang pernah Bapak temukan sepanjang hidupnya yang pilu itu. 
Bapak selalu bilang bahwa Tuhan maha mengerti hambanya. Dan aku rasa Tuhan pun mengerti bahwa Bapak memang lah orang paling tabah yang sampai detik ini masih berjalan di muka bumi, meski hanya dengan satu kaki. Bapak akan tetap makan dua potong tempe sebagai lauk ketika aku dan Ibu membeli gepuk di warung makan Mbak Titin yang sering kami kasboni itu. Katanya, kalian saja yang makan, uang lebihnya ditabung untuk sekolah Rana, untuk nanti, supaya kamu bisa berhenti. Ibu tidak pernah menanggapi setiap kali Bapak sudah bicara seperti itu. Tapi aku tahu diam-diam ibu selalu menyimpan uang-uang lebihnya di lemari, di antara tumpukan bajunya yang warna-warni. Ia tahu suatu saat ia harus berhenti. 
Aku. Aku tidak tahu kapan aku harus berhenti. Berhenti memikirkan hal-hal yang sudah dipikirkan oleh orang lain dan mulai berpikir untuk diriku sendiri. Aku merasa Saturnus kembali lebih awal khusus untuk diriku. Seakan tata surya ikut bersekongkol, ikut diam-diam membentuk cerita yang aku sendiri tidak tahu bermula dari mana, apalagi berakhir seperti apa. Tapi seperti yang Bapak terus ajarkan, Tuhan mengetahui apa yang hambanya tidak. Barang kali, sekali waktu aku harus bertanya tentang Saturnus, dan mengapa ia selalu diidentikan dengan pertanyaan-pertanyaan hidup di titik paling rawan sepanjang nafas seseorang.
Jarum panjang dan jarum pendek akhirnya menyatu dalam satu garis. Di titik itu, aku merasa semua resah dan tanda tanya lenyap ditelan gelap di sudut ruangan. Saturnus bukan lagi soal, karena tinggal aku sendiri yang ada. Benar-benar sendiri. Bahkan dengkuran Bapak tidak terdengar sama sekali.
Tak lama lalu samar-samar aku dengar bunyi kendaraan yang berhenti sebentar di depan pagar. Ada tawa-tawa kecil menggoda yang mengiringi bunyi rongsokan itu, hingga perlahan hilang diteguk suara jangkrik dan kodok-kodok di selokan bau. Menit berikutnya, dengan keadaan gelap gulita, sudah aku dapati sesosok yang wangi sekali berbaring disampingku, mendekapku erat-erat seperti seorang mengucap selamat, atau memohon maaf atas dosa yang begitu berat. Tidak ada suara yang keluar dari bibir bergincu itu. Tapi entah kenapa rasanya ada isak yang sedikit demi sedikit mulai menyolek gendang telinga. Yang perlahan tapi pasti berubah menjadi tangisan sendu penuh rasa yang tidak tahu harus diluapkan kemana. Yang tak satu dukun pun tahu artinya apa. Seperti butir-butir nasi, ia menangis dengan bahasa yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang mengerti. Ia menangis dalam bahasa yang paling luhur, lebih luhur dari Sepi yang begitu setia menemani hidup seorang manusia. Ia menangis dalam bahasa Cinta.
“Besok Rana mau ke pantai”
“Oh, ya? Tugas sekolah, kah?” akhirnya suara benar-benar mencuat dari garis bibirnya.
Ada sepersekian menit jeda di sana, membuat semua lebur jadi satu dan membentuk sosok asing yang selama ini aku cari-cari, tujuh belas tahun aku cari-cari.
"Rana sudah tujuh belas tahun, Bu. Kapan Rana bisa ikut bekerja dengan Ibu?" 

Tidak ada suara lagi.
Tidak ada apa-apa lagi.


26/11/16

Rabu, 17 Februari 2016

Dongeng tentang Buku, Mimpi dan Waktu

Aku selalu bermimpi untuk jatuh cinta di perpustakaan semenjak umur 12-an. Namun seiring aku dan buku-buku itu bertambah tua, rasanya mimpiku tadi makin tenggelam, dan pada suatu hari yang sudah aku terka, akhirnya ia karam.

Sore tadi aku habiskan hampir satu jam di lorong buku-buku dongeng. Sekedar memilah-milah, inikah atau itukah. Ilustrasi-ilustrasi dan warna-warni sampulnya membuat aku sulit memutuskan buku mana yang harus aku bawa ke meja kasir, yang lalu akan kubungkus dengan kertas kado dan akhirnya kuberikan sebagai hadiah ulang tahun yang ke-20. Malam ini, pukul tujuh lewat tujuh belas, aku 20 tahun pas.

Sementara sore-sore yang lalu seorang teman bertanya, soal niatanku merayakan ulang tahun ke-20 sendirian di perpustakaan, dengan sebuah kado pemberian diri sendiri yang konyolnya adalah buku dongeng untuk anak ingusan. Sementara, menurut dia, aku bisa saja menghabiskan momentum sakral itu bersama teman-teman sebaya dengan hal-hal sesuai umur. Dan aku tahu pasti ketika ia bilang “sesuai umur”, perkataannya merujuk pada aktifitas di bar-bar malam, dengan sedikit minuman, sentuhan, juga goyangan. Aku tersenyum kecil menanggapi pertanyaan temanku itu, kubilang, “Aku tak pernah dibacakan dongeng sewaktu kecil.” Kami tidak pernah bicara lagi.

“Bah, mau berdoa dengan saya?”

Tanyaku mencuat di antara satu buah kue mangkuk berlilin kecil sebatang dan tumpukan buku-buku dengan kertas kekuningan. Jam dinding menunjukan pukul tujuh lewat lima belas. Dan Abah yang sengaja memakai kemeja rapih hari ini, tahu tentang aku yang resmi berkepala dua terhitung mulai dua menit lagi. Ia mundurkan kursinya lalu berdiri, berjalan pelan setengah pincang dan berhenti tepat dihadapanku dan lilin kecil yang menyala itu.

“Kenapa tidak, Yeng?”

Senyum Abah hangat sekali sampai rasanya gerimis yang sedari tadi mengetuk kaca-kaca jendela tetiba berhenti. Kerut yang seakan terpahat permanen di wajah umur 70-annya itu sama sekali tidak mengusikku. Aku selalu menikmati waktuku bertukar cerita dengan Abah. Seorang Rohman Supriyadi, yang hangat kusapa Abah, memang tidak pernah lulus sarjana, tapi karena hampir setengah hidupnya ia habiskan di perpustakaan, ia selalu punya sesuatu untuk dibahas, dan juga untuk ditertawakan.

Mata abah terpejam, khidmat melantun doa dalam hati yang tidak aku tahu apa isinya. Kedua mata itu lalu terbuka, dan

“Giliran Iyeng yang berdoa sendiri, Abah sudah berdoa yang terbaik buat Iyeng. Semoga cepat-cepat pergi dari tempat jelek ini dan mendapat kehidupan yang Iyeng pantas dapatkan, jangan sampai kayak Abah!”

Gelak tawa mengiringi kalimat Abah yang mungkin sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari itu. Gigi depannya yang hampir ompong semua membuat aku ikut tertawa kecil penuh suka dan pengertian. Abah adalah pustakawan abadi sekaligus pemilik perpustakaan kecil ini, sehingga mau tidak mau, Abah harus melihat wajahku setiap hari tanpa terkecuali. Senin hingga Jum’at pukul empat sampai lima sore. Sedang Sabtu Minggu pukul lima sore sampai sembilan malam—perpustakaan tutup saat maghrib tiba, namun aku diijinkan untuk tinggal lebih lama. Pernah suatu ketika aku absen seminggu dari perpustakaan karena harus dirawat di rumah sakit, belakangan ini aku baru tahu bahwa ketika itu Abah begitu cemas sampai menelpon pihak asrama tempat aku tinggal berulang kali. Nyatanya, Abah adalah figur Ayah yang tidak pernah aku miliki.

“Bagaimana kabar Ayah kamu, Yeng?”

Pertanyaan itu muncul di pukul tujuh lewat tujuh belas, pas setelah aku meniup lilin tanda setahun lagi waktu hidupku berkurang. Baru saja aku resmi keluar dari usia belasan dan pertanyaan pertama Abah padaku adalah tentang Ayah. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu semudah Abah menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang arloji dan biskuit mari, tapi sayang definisi kata “ayah” dalam semesta yang aku kenal hanya sekedar donatur penyambung hidup yang hampir tidak pernah aku temui wujud fisiknya.

“Ayah sehat, mungkin. Buktinya Ia belum pulang juga, kan, menulis lagi menulis lagi, katanya untuk majalah ini lah, koran itu lah, tabloid ini lah, buku itu lah. Saya capek perduli, Bah. Selama saya tidak harus menerima telepon duka dari seseorang di luar sana soal Ayah saya”.

“Bapaknya penulis, anak gadisnya kutu buku. Tidak ada yang aneh dari itu, Yeng. Toh semua orang tua punya cara mencintai yang berbeda-beda”.

Aku tidak mengerti kenapa Abah selalu punya hal baik untuk dikatakan di waktu paling buruk sekalipun. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bagian kecil dari hatiku menghangat, lalu merindu.

“Hey!”

Dengan sengaja Abah membuyarkan kerinduan yang tadi tengah aku hayati dalam-dalam. Seakan mengerti jika saja kerinduan yang aku pendam itu meluap, hal itu hanya akan menuai rasa sakit tanpa obat bila dibiarkan  berlarut-larut. Dan dengan santainya seperti tanpa beban, Abah membanting setir pembicaraan kami ke arah yang entah mengapa terasa lebih pahit dari rindu itu sendiri.

“Tahu tidak, Yeng? Waktu Abah masih sekolah SD dulu, guru Abah selalu nanya apa cita-cita Abah. Abah tidak bisa jawab. Abah bilang kalo mimpi Abah itu tidak muluk-muluk. Abah tidak mau jadi presiden apalagi astronot, Abah cuma mau membuat anak-anak sekolah nanti bisa baca buku tanpa harus membayar sepeserpun. Karena Abah merasa betul beratnya orang tua Abah membelikan buku untuk Abah sekolah”.

Aku terdiam sejenak, mencerna perkataan Abah yang tidak tahu harus ku maknai seperti apa. Dan sebelum otak ku selesai memproses kalimat-kalimat tadi, refleks lidahku bertanya balik,

“Apa untuk jatuh cinta di perpustakaan itu termasuk muluk-muluk, Bah?”

Tawa Abah lepas saat itu juga. Setelah lebih dari enam tahun memberiku kartu anggota perpustakaan, akhirnya Abah menemukan tujuan egoisku yang kalau dipikir-pikir memang teramat menggelikan.

“Kamu jelas salah tempat kalau ingin nyari jodoh di sini, Yeng. Jaman sekarang ini siapa lagi yang masih datang ke perpustakaan untuk duduk dan baca buku? Paling ya hanya kamu, dan Abah, dan si Fitria anak bungsu Pak Haji Makmur yang rumahnya persis di samping masjid itu”.

“Bukan begitu, Bah…”

“Abah sudah tua… Yeng,” 

Aku bisa dengar suara Abah bergetar, “...cuma kamu orang terdekat yang bisa Abah akui sebagai anak. Malam ini kamu bisa meniup lilin itu sama tak terduganya seperti besok pagi Abah tidak bangun dari tempat tidur.”

Mata Abah berkaca-kaca sembari ia membelai kecil rambut sebahuku. Aku tidak mengerti kenapa Abah mendadak berubah melankolis, sementara di hari-hari normal ia akan menyetel lagu-lagu Titiek Puspa dan ikut berjoged selama tidak ada orang yang kedapatan melihat.

“Abah kok begitu bicaranya? Kalau soal umur, manusia tahu apa, Bah. Nenek 112 tahun di Cina tidak menyangka kalau bakal hidup selama itu, sama seperti adik saya yang tidak menyangka kalau bakal mati 2 jam setelah dilahirkan”.

Garis bibir Abah tertarik sepersekian centi. Biasanya, di saat-saat seperti ini Abah akan melakukan serangan balik berupa lelucon yang hampir selalu menempatkan aku sebagai objek tertawaan. Dan benarlah.

“Maka dari itu, Yeng. Kamu cari pacar cepat-cepat, biar nanti tahun depan wisuda sudah punya gandengan untuk foto! Nanti Abah mau cuci fotonya satu yang besar, Abah pasang di ruang tamu”
Abah tertawa lagi. Lepas. Aku sekadar tersenyum. Kecut.

“Tanggalkan saja itu mimpi kamu buat jatuh cinta di perpustakaan, Yeng… Susah! Mau kamu jadi perawan tua? Ujung-ujung nanti malah menikahi buku-buku bau itu. Amit-amit, Iyeng!”

“Abah…” kali ini Pak Rohman mulai keterlaluan. Aku tidak pernah punya niatan untuk menikahi buku seberapapun aku cinta.  Tapi benar juga apa yang Abah coba sampaikan kepadaku. Tentang waktu.

Waktu membuat sesuatu tiada pada akhirnya. Seperti manusia yang mati, atau kertas yang perlahan sisa debu saking tuanya. Seperti waktu yang sudah mendoktrin semua orang agar menjauh dari lorong-lorong perpustakaan. Seperti waktu, yang aku.

Setelah Abah lelah menghujaniku dengan guyonan-guyonan pedih, ia menarik nafas dalam-dalam. Terlalu dalam sampai awalnya ku kira Abah akan menjungkang dari bangku yang ia duduki. Fokus mata Abah lalu tertuju pada bungkusan kecil di sudut meja yang sedari tadi belum aku sentuh. Sengaja tidak aku sentuh.

“Kenapa itu kado tidak dibuka, Yeng?”

“Ini kado harus Abah yang buka. Setuju?”

Aku tersenyum mantap. Giliran Abah mengerutkan kening.

Tapi tanpa diminta lagi Abah langsung menyambar bungkusan kado itu, membukanya dengan sekali robekan tanpa memikirkan tentang waktu yang aku habiskan untuk membungkusnya sedemikian rupawan.

“Anak Itik yang Buruk Rupa? Hans Christian Andersen? Kamu sehat, Yeng?”

Suara Abah cenderung bingung daripada menahan tawa. Aku tidak masalah dengan itu. Senyumku malah makin mantap, dan dengan suara yang sengaja kubuat terdengar sangat serius, akhirnya aku utarakan agenda terbesar malam istimewa ini pada Abah dan kumis berubannya itu.

“Abah tahu apa mimpi saya selain jatuh cinta di perpustakaan? Saya ingin sekali dibacakan Dongen, Bah. Sekali saja. Hitung-hitung membasuh luka tak pernah dibacakan dongeng oleh orang tua sewaktu kecil.”

Kening Abah perlahan mendatar seraya garis bibirnya terarik lebar.

“Dan saya ingin Abah, orang terdekat yang bisa saya anggap sebagai Ayah, yang membacakan dongeng itu spesial di ulang tahun saya ke dua puluh ini. Malam ini. Sekarang. Mau, kan, Bah?”

Garis bibir Abah yang makin melebar lalu robek dengan gigi ompong yang jelas terlihat meski lampu ruangan tidak terlalu terang.

“Kenapa tidak, Yeng?” Hangat. Seperti biasa.

Abah mulai bacakan kalimat demi kalimat, suara paraunya menghantarkanku pada lautan lepas yang tenang dan menenangkan. Hanya aku dan kemilau permukaan biru. Tak pernah aku merasa sebegitu aman.

Sekedar itu yang kuingat.

Embun pagi dari jendela yang terbuka menyadarkanku akan dua hal; Semalam, aku tak bisa berenang. Semalam, di atas gambar seekor anak itik yang tengah menangis, tangan Abah terhenti,

kaku seperti rak-rak kayu jati.

20/11/15

Kamis, 21 Januari 2016

Day 17

a part of my mental form is staying at some far far away stanger's porch
laying deep in conversations
and silence as transitions

a part of my mental form lives happily ever after
leaving a blank space in the heart of mine
which certainly I shall remember

Rabu, 23 Desember 2015

Di Balik Senyuman Topeng Fawkes V for Vendetta: Kemelut Fasis dan Anarkis

“Kita diajarkan untuk mengingat pemikiran, bukan manusia. Karena manusia bisa gagal. Ia bisa tertangkap. Ia bisa mati dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian, sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan sejak awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat bagaimana manusia membunuh dengan mengatasnamakan pemikiran, dan juga mati karenanya. Tapi kau tak bisa mencium sebuah pemikiran, kau tak bisa menyentuhnya, atau mendekapnya. Pemikiran tidak berdarah, ia tidak merasakan sakit, ia tidak merasakan cinta.“

Disuarakan oleh tokoh Evey (Natalie Portman), narasi di atas hadir sebagai pembuka film V for Vendetta garapan sutradara James Mc Teigue tahun 2005. Aktor Hugo Weaving yang memerankan tokoh sentral V tidak menampakan wajahnya sama sekali sepanjang film berdurasi 132 menit ini, berbalut pakaian serba hitam dan bertopeng ala Guy Fawkes ia berhasil menyampaikan cerita tentang pencarian “dewi keadilan yang tengah berlibur”. Secara garis besar, film ini berkisah tentang pencarian jati diri wanita muda Evey yang dipacu oleh pertemuan tanpa sengajanya dengan tokoh V, pria bertopeng misterius yang lalu meledakan dua landmark kota London dan mengambil alih British Television Network untuk menyebar pesan revolusioner, ditengah tirani Konselor Sutler yang totaliter.

Sejak awal berbicara tentang “pemikiran”, film ini sangat lekat membahas tentang aspek-aspek ideologi. Menurut Ajidarma dalam Diktat Kuliah Kajian Sinema, sebagaimana dituliskan oleh Mega Subekti dalam esai “Kontesasi Wacana Barat dan Timur dalam Film Sang Pencerah”, ideologi dalam sebuah film sering dimaknai sebagai ruang rekonstruksi dan representasi realitas sosial yang telah direkam melalui pendekatan realisme estetik. Sehingga V for Vendetta dengan sinematografi apik dan tertata menggambarkan bagaimana anarkisme kadang dibutuhkan demi tersulutnya revolusi, sehingga tercapailah merdeka yang hakiki.

Terminologi anarkisme sendiri secara luas disalahpahami oleh kebanyakan awam. Dalam tatar politik, anarkisme selalu disamakan dan disangkutpautkan dengan chaos, sehingga para anarkis seakan dimaknai sebagai orang-orang yang mendukung diberlakukannya lagi hukum rimba yang cenderung bar-bar.  Seorang anarkis L. Susan Brown menyatakan dalam buku The Politics of Individualism, “Meski pemahaman umum mengenai anarkisme adalah suatu gerakan anti negara kekerasan dengan kekerasan, anarkisme adalah suatu tradisi yang bernuansa lebih dalam daripada sekedar perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah. Kaum anarkis menentang pemikiran bahwa masyarakat memerlukan kekuasaan dan dominasi, dan malah membela bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang anti hierarki dan lebih kooperatif.”

Dalam pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa anarki ada sebagai reaksi kekerasan atas aksi yang juga merupakan kekerasan. Tokoh V di sini juga berlaku demikian. Di bawah pemerintahan Konselor Sutler yang cenderung menciptakan terror massa bagi rakyatnya sendiri, seorang misterius yang hanya samar diceritakan asal usulnya hadir dengan wajah tertutup topeng. Meminjam identitas Guy Fawkes, seorang yang dihukum gantung atas percobaannya meledakan gedung parlemen pada 5 November 1605, V beranggapan bahwa “Rakyat tidak seharusnya takut pada Pemerintah”. Tokoh V percaya bahwa “pemikiran” Guy Fawkes memang benar adanya, bahwa meledakan gedung bukanlah hanya membuat bangunan kokoh menjadi runtuh. Meledakan sebuah gedung adalah upaya menghancurkan simbol yang dapat menuntun orang-orang pada perubahan mendasar tentang siapa sebenarnya yang berkuasa dalam suatu negara.

Latar cerita dalam film adalah  Inggris Raya yang telah menyerahkan kebebasan dan hak-hak individualnya pada pemerintahan totaliter dengan sebutan “Norse Fire”. Unsur Fasisme jelas terlihat pada sisi ini. Fasisme sendiri adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Para Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai upaya untuk memberikan perubahan positif dalam masyarakat. Estetika politiknya menggunakan simbolisme romantis, mobilisasi massa, pandangan positif kekerasan, dan kepemimpinan karismatik.




Semuanya seakan divisualisasikan dalam V for Vendetta. Unsur otoriter dan militerisme terang-terangan diangkat dengan tatanan sinematografi dramatis. Konselor Sutler juga digambarkan sebagai tokoh karismatik yang menjadi penyelamat rakyat di tengah kerusuhan yang terjadi. Meski lalu dijelaskan lagi bahwa Konselor Sutler lah yang bertanggung jawab atas kerusuhan-kerusuhan itu. Perang, terror dan penyakit diciptakan oleh pemerintah sendiri demi mengingatkan rakyat akan kebutuhan mereka pada pemerintah. Pandangan positif kekerasan diterapkan atas nama ketertiban yang harus tercipta, dengan bumbu romantisme bahwa pemerintah ada untuk menjaga rakyatnya dari segala keburukan diluar partai tunggal tersebut.

Dalam menggancangkan politik “blame the victim”nya, pemerintah membuat peran media begitu penting. Konsentrasi sinematografi film ini pun cenderung terletak pada televisi, entah itu di rumah-rumah, di bar, bahkan di sebuah panti jompo.



Hal ini sejalan juga dengan aksi tokoh V yang mengambil alih Britain Television Network untuk mengudarakan video pidatonya di saluran darurat. Pergulatan antara fasis dan anarkis ini dibuat seakan jadi sinetron yang tayang bergantian dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kemenangan salah satu pihak pun dengan nyaris puitis juga disampaikan lewat sisi sinematografi.

Dalam teknik pengambilan gambar, dikenal istilah high angle dan low angle. Dimana kedua teknik itu digunakan para sinemaker untuk menyampaikan dan menciptakan kesan yang sesuai dengan ide awal gagasannya. High angle adalah teknik pengambilan gambar dari atas, sehingga menciptakan kesan ciut pada objek gambar. Sebaliknya, low angle menciptakan kesan agung pada objek gambarnya karena diambil dari sisi bawah. Teknik ini digunakan juga dalam V for Vendetta, dalam usahanya mengisyaratkan kekuasaan yang berpindah tangan.


Hampir sepanjang film berdurasi lebih dari 2 jam itu, Konselor Sutler sering kali dimunculkan dalam televisi raksasa seperti pada gambar di atas. Gambar di atas ini merupakan suasana “rapat” antara Sang Konselor Agung dengan para kaki tangannya. Meski posisi atasan-bawahan jelas terjadi, teknik low angle tidak dijadikan pilihan, dan sutradara memilih hanya menyorot objek gambar dari sisi depan saja (datar).


Perbedaan muncul ketika film ini menampakan video pidato V yang disiarkan di saluran darurat. Dengan telivisi yang ‘jauh’ lebih raksasa dan terletak di pusat kota, teknik low angle digunakan. Kesan agung terlihat sangat jelas, mengisyaratkan kekuasaan yang sudah berpindah tangan dari Sang Konselor ke V. Bila kita lihat lebih teliti pada gambar, ironi jelas disuguhkan pada scene ini. Tepat di samping televisi raksasa yang memutar pidato revolusioner V, terdapat lambang partai “Norse Fire” pimpinan Sutler.

Perpindahan kekuasaan dari fasis ke anarkis lebih ditekankan pada siaran pidato terakhir Konselor Sutler. Dengan televisi super raksasa yang sama, teknik high angle “ekstrim” dipergunakan sebagai simbol kekalahan besar-besaran. 


Scene ini juga diparalelkan dengan scene televisi-televisi biasa di tempat-tempat lain yang entah mengapa ditinggalkan dalam keadaan hidup meskipun tidak ada satupun orang yang menonton. Simbolisme ini menyatakan bahwa suara Sang Konselor Agung tidak lagi didengarkan oleh siapapun.


V for Vendetta ditutup dengan nasib Konselor Sutler dan V yang sama-sama tidak baik. Tapi seperti yang dikatakan oleh V menjelang ajalnya, “Pemikirian itu anti-peluru” dan tetap hidup meski pemikirnya telah mati. Kemenangan anarkis atas fasis yang disajikan dalam film bertumpu lagi pada topeng yang digunakan oleh V. Alih-alih bersembunyi di balik identitas Guy Fawkes, tokoh V merepresentasikan dirinya atas nama semua orang yang menyadari akan ketidakberesan jalannya pemerintahan. Bahwa ketika ditanya siapakah sebenarnya sosok V, Evey dengan tenang menjawab “Dia adalah ayahku, dan ibuku, kakakku, temanku. Dia adalah aku, dan kamu.” 

V adalah rakyat, dan rakyat tidak seharusnya takut pada pemerintahnya. 
Rakyat seharusnya merdeka. 


Jatinangor, 23 Desember 2015
Ananda Bayu Pangestu

Kamis, 17 Desember 2015

Selamat 17 Desember. 

Saya belajar mengenang kelahiran.
Bukan ketiadaan.
Memang begitu rasanya,
tapi tetap saja.


Berbahagialah mereka yang mati muda.