Jumat, 27 Oktober 2017
Saya dan Identitas
Senin, 02 Oktober 2017
Jumat, 29 September 2017
Senin, 11 September 2017
Sebab Perang Telah Usai
Perang telah merenggut seorang menantu.
Sampaikan bahwa aku menyimpan semua suratmu di saku dada.
Tepat di mana ujung tombak tajam tertanam sekian dalam.
Sampaikan bahwa aku mengingat tarikan bibirmu pada detik-detik terakhir hayat.
Senyummu merekah dari balik tumpukan jerami, di sebelah sumur dengan satu bak kentang yang hendak kau cuci.
Dan sampaikan ayah bundamu kabar ini,
Kematian telah memisah kita berdua,
Sungguh itulah satu-satunya perkara yang bisa mereka terima.
Senin, 03 Juli 2017
Things I'd rather not say to you #2
I love it when you're in pain.
The way I hold your pinkie instead of your hand;
The way I leave a bunny teeth mark on your tan.
And don't tell me you don't love that kind of pain.
Things I'd rather not say to you #1
Senin, 13 Februari 2017
Pangeran dari Cordonia
Rabu, 17 Februari 2016
Dongeng tentang Buku, Mimpi dan Waktu
Kamis, 21 Januari 2016
Day 17
a part of my mental form is staying at some far far away stanger's porch
laying deep in conversations
and silence as transitions
a part of my mental form lives happily ever after
leaving a blank space in the heart of mine
which certainly I shall remember
Rabu, 23 Desember 2015
Di Balik Senyuman Topeng Fawkes V for Vendetta: Kemelut Fasis dan Anarkis
Ananda Bayu Pangestu
Kamis, 17 Desember 2015
Jumat, 11 Desember 2015
Senin, 09 November 2015
Salam dari Semacam Kedai Kopi
Senin, 02 November 2015
Surat Kedua
Aku ingin sekali menanyakanmu sesuatu.
Saat ini. Bukan nanti-nanti.
Minggu, 01 November 2015
Yang Untukmu Itu
![]() |
| Barubereum, Kaki Gunung Manglayang, 25 Oktober 2015 |
Senin, 26 Oktober 2015
Soal Bahagia
Saya tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang tidur di emperan toko kalah bahagia bahagia dari mereka yang nyenyak di ranjang empuk, setelah meminum beberapa buah pil tidur. Saya tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang lahap makan dari tong-tong sampah kalah bahagia dari mereka yang 'jajan' dari piring-piring besar dengan secuil makanan di tengahnya. Saya juga tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang mengakhiri nyawa sendiri kalah bahagia dari mereka yang pesakitan dan tinggal menunggu ajal. Bukankah itu menekankan bahwa kebahagiaan adalah satu hal yang tidak pernah disa diukur, atau dibanding-bandingkan?
Saya ingin suatu hari nanti menciptakan alat yang dapat mengukur kebahagiaan. Saya ingin sekali melihat seseorang tepat di mata dan mengucapkan "Kamu bahagia," dan "Kamu tidak." Semua akan lebih sederhana dan semua orang akan berhenti menerka-nerka. Apakah dia sudah cukup bahagia? Apakah selama ini ia pernah bahagia? Mata saya sembab karena terlalu banyak tidur dua hari kebelakang, apakah saya tidur karene lelah mencari kebahagiaan? Saya tidak tahu. Tidak ada yang pernah tahu.
Seorang dosen berkata semua hal ini adalah soal disorientasi masa depan, bahwa mereka yang telah memiliki segalanya pun akan jatuh di lubang terdalam jika menyadari bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah sia-sia, dan tanpa tujuan. Lalu mereka mulai mempertanyakan arti kebahagiaan itu sendiri, pada akhirnya. Mungkin memang seperti itu, mungkin mereka yang tidak bahagia adalah orang-orang yang membutuhkan ketenangan hakiki, atau apalah itu namanya.
Lebih sulit lagi apabila kita mencari kebahagiaan saat kita belum menemukan diri kita sendiri. Saya peringatkan bahwa tulisan ini akan mengerucut jadi curahan hati, kamu masih punya kesempatan untuk berhenti membaca, lalu berpindah laman. Kesalahan terbesar saya adalah mencari apa yang tidak pernah hilang, dan menyimpan apa yang tidak pernah saya temukan. Saya terlalu sibuk mencari, menggarisi titik-titik yang saya percaya akan membentuk sebuah kata bahagia. Sampai-sampai saya lupa bahwa tidak ada gunanya mencari apabila diri saya sendiri pun tidak punya cukup lahan untuk menyimpan hal-hal tadi. Diri saya sudah penuh dengan apa yang saya percayai adalah saya--sekumpulan kata-kata yang bermakna jauh dari positif. Lalu harus bagaimana? Nampaknya tulisan ini sudah bergeser fungsi, seperti yang sudah saya peringatkan tadi.
Pada akhirnya kebahagiaan masih jadi satu hal yang abstrak. Yang tidak sama seperti keyboard komputer jinjing ini. Pada akhirnya saya masihlah saya yang bertanya dan mencari, lalu menyerah lagi.
Jumat, 25 September 2015
Selepas Kebas
Minggu, 23 Agustus 2015
Surat Pertama
Aku menemuimu lagi kemarin malam.
Lucu karena di antara semua jarak dan waktu yang sengaja aku ciptakan, kamu tetap menemukan jalan pintasmu sendiri. Menyusup diam-diam, dari balik selimut tebal dan bantal empuk. Menyebrang dari pulau orang-orang terjaga, lalu bermalam mendirikan tenda di ranah abstrak bawah sadar seseorang.
Ranah abstrakku berupa kapal pesiar tadi malam. Aku sendiri belum pernah memijak kaki ke sana. Semua terasa baru dan asing, cuma kamu yang hadir dalam balutan rasa familiar. Aneh, karena beberapa waktu ke belakang, di tanah orang-orang terjaga, kamu sudah bermetamorfosa menjadi sosok yang tidak bisa lagi aku terjemahkan bahasanya.
Kamu hadir untuk pertama kalinya tadi malam. Jarak terdekat kulit kita bahkan belum pernah berhasil membawa mu meninggalkan pulau itu, pulau orang-orang terjaga. Tapi sekarang, tadi malam, kamu berhasil menampakkan raga.
Orang bilang, kerinduan bisa menciptakan fenomema tersebut. Meski entah kerinduan pihak pertama ataupun pihak kedua. Tapi bukankah sama saja? Rindu buatku bukanlah hal yang kompleks. Rindu ya rindu. Tinggal dinikmati. Hal tersulit yang harus dihadapi adalah bagaimana merelakan rindu itu sendiri. Rindu bukan hal yang dengan mudah hilang seiring kalender berganti tanggal. Kamu mengerti, kan?
Atas nama jarak dan waktu yang sengaja aku cipta,
Aku merindukanmu.
Entah kenapa.



