Tampilkan postingan dengan label GIE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GIE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

Selamat 17 Desember. 

Saya belajar mengenang kelahiran.
Bukan ketiadaan.
Memang begitu rasanya,
tapi tetap saja.


Berbahagialah mereka yang mati muda.

Jumat, 18 Oktober 2013

Cahaya Bulan (Ost. GIE) - Eross ft. Okta

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa matahari terbit menghangatkan bumi 

aku orang malam yg membicarakan terang   
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
di sini ku berdiskusi dengan alam yg lirih
kenapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi  
 
aku orang malam yg membicarakan terang   
aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang

reff:
cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
yg takkan pernah aku tau dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati

terangi dengan cinta di gelapku
kuketakutan melumpukanku
kuterangi dengan cinta di sesatku
dimana jawaban itu

Selasa, 15 Oktober 2013

Bangkitkan Lagi Semangat Juang Generasi Muda

Ada sebuah pemikiran dimana untuk mengenali seseorang, kita tidak perlu mengenal seseorang itu secara pribadi, melainkan cukup dengan karyanya saja. Karena sosok seseorang menjelma seutuhnya ke dalam karya yang ia ciptakan. Seperti kita yang menilai burung dari merdu kicauannya, menilai orang dari apa yang ia ucapkan, juga menilai penulis dari apa yang mereka tuliskan.
Saya mengenal satu sosok pemimpin muda, meski belum pernah bertatap muka, meski kami hidup di masa yang berbeda hampir 5 dekade lamanya. Saya tahu namanya Soe Hok Gie, saya tahu ia lahir tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal ketika berumur 27 tahun kurang sehari, saya tahu ia adalah mahasiswa UI Fakultas Sastra, dan menjadi sosok yang begitu berpengaruh pada masanya.
Peranan Soe Hok Gie dalam penegakkan Orde Baru yang dipimpin Jendral Soeharto memang tidak kecil, sebagai seorang jurnalis juga aktivis. Ia berharap Orde Baru dapat menegakkan keadilan sosial, dan ia tidak segan melontarkan kritikan pedas yang mengundang banyak pro dan kontra di berbagai kalangan. Meskipun itu berarti harus terkucilkan atau bahkan dilempari surat kaleng berisi ancaman.
Kritik-kritik dan kecaman yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur dan realistis. Ia memang tidak selalu benar, namun ia selalu jujur. Setiap kritik dan kecamannya pun tidak pernah dilontarkan tanpa perasaan prihatin. Sayang sekali sosok pemimpin muda ini juga mati di usia muda. Saya yakin bila nasibnya sedikit lebih baik, ia akan menjadi tokoh yang lebih besar, lebih berperan, dan lebih terkenal. Saya yakin akan menemukan namanya di buku-buku pelajaran sejarah yang saya punya saat ini, jika saja ia hidup lebih lama dan melanjutkan perjuangannya.
“Kita, generasi muda ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti (…). Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.” (Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie, Penerbit LP3ES, 1983).
Kutipan di atas adalah salah satu tulisan Soe Hok Gie pada buku hariannya, yang akhirnya (setelah ia meninggal) diterbitkan setelah disunting, karena dianggap terlalu beresiko apabila tetap mencantumkan nama seperti pada buku harian asli miliknya.
Soe Hok Gie adalah salah satu figur pemimpin muda berkarakter yang sudah sulit ditemukan di masa sekarang. Sedang waktu yang terus berjalan selalu membawa kita selangkah demi selangkah ke masa depan. Dan masa depan perlu diisi dengan penerus-penerus baru, pejuang-pejuang muda yang dapat diandalkan untuk mengurusi kemana bangsa dan negara ini mau dibawa.
Kaum muda memang identik dengan perubahan yang dibawanya. Perubahan-perubahan yang diharapkan dapat  membawa bangsa ke arah yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Pandangan ini muncul karena cita-cita golongan tua yang berharap bangsanya akan menjadi lebih baik di kemudian hari, dan ambisi golongan muda untuk memperbaiki kecacatan juga kerusakan-kerusakan yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelumnya.
Sosok seorang Soe Hok Gie sebagai pemuda pada masanya, sangat jauh berbeda dengan kita. Ia lahir ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik, sedang generasi kita lahir di masa yang tinggal terima jadi dan tidak perlu tahu apa-apa.
 Barangkali ini adalah salah satu faktor mengapa generasi muda pada jaman itu lebih peka terhadap keadaan yang tengah terjadi di tengah-tengah mereka. Mereka yang merasakan pahit akan mati-matian mencari tahu bagaimana rasanya mengecap manis. Dan mereka yang sudah terbiasa merasakan manis, tidak sudi untuk sekali saja mengecap pahit.
Lepas dari masalah pahit-manisnya pengalaman yang dirasa, masa depan bangsa masih menggantung di hadapan kita. Harus ada penerus, atau Indonesia hanya tinggal nama. Mau tidak mau pemimpin-pemimpin muda berkarakter harus lahir kembali untuk meneruskan perjuangan kaum tua, memperbaiki kesalahan-kesalahan, dan membawa Indonesia pada keadilan sosial yang sesungguhnya, seperti cita-cita Soe Hok Gie pada masa Orde Baru dulu.
Lalu, bagaimana caranya melahirkan pemimpin-pemimpin muda dengan semangat juang tinggi seperti dulu lagi?
Kaum muda Indonesia saat ini dapat dibilang sudah tertidur terlalu lama. Terbuai dengan segala kenyamanan dan fasilitas yang mereka punya, sehingga semakin merasa bahwa bangsa yang di tempatinya ini baik-baik saja. Dan tidak memikirkan bahwa bagaimanapun harus ada penerus yang melanjutkan perjuangan bangsanya.
Tentu bukan kaum muda sembarangan yang dapat dijadikan calon-calon penerus dan pemimpin bangsa. Calon-calon pemimpin harus memiliki dasar moral yang kuat. Seperti halnya agama, moral juga menjadi pondasi setiap pemimpin, juga setiap manusia. Mereka yang memimpin tanpa moral yang tinggi tidak akan pernah bertahan lama, karena membangun rumah dengan pondasi yang salah sama saja loncat indah ke dalam jurang.
Mari kita ingat lagi konsep menulis Soe Hok Gie, ia memang tidak selalu benar karena memang tidak ada manusia sempurna, namun ia berkata jujur dan apa adanya. Kejujuran adalah salah satu hal terpenting untuk membentuk jiwa seorang pemimpin. Kekuasaan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan tikus-tikus pemakan uang yang bersembunyi di balik meja-meja pemerintah. Koruptor-koruptor busuk yang berdansa sementara rakyat menderita. Dan pejabat-pejabat hina yang berfoya-foya sementara rakyat meminta-minta.
Kejujuran itu sendiri bukanlah sepaket karakter yang bisa dengan instan diperoleh dalam jiwa seseorang. Seperti kata orang, ‘bisa karena biasa’. Kejujuran dan ketidak jujuran berawal dari kebiasan. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini dimulai dari usia yang sangat muda dan hal-hal yang dianggap sangat sederhana.
 Contohnya, seorang anak yang sejak kecil  terbiasa mencontek dalam ulangan, kemungkinan besar akan berakhir menjadi koruptor ketika sudah dewasa dan menjadi pejabat. Karena sejak kecil sudah terbiasa menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang ingin dicapainya. Mencontek untuk mendapatkan nilai ulangan tinggi tanpa belajar, lama kelamaan bertransformasi jadi menggelapkan uang untuk mendapatkan penghasilan besar tanpa susah payah bekerja lebih.
Sedangkan, jika seorang anak terbiasa bersikap jujur semenjak kecil. Ia akan terbiasa mencapai apa yang ia inginkan tanpa berbuat curang, atau menyalahi aturan. Sampai dewasa, anak ini akan tetap berbuat jujur, karena meyakini bahwa apa yang dilakukannya semenjak kecil adalah benar. Dari anak-anak seperti ini pemimpin-pemimpin muda akan tercipta. Dengan berkembangnya kemampuan berpikir seiring bertambah usia, ia akan mulai tersadar kalau kejujuran adalah hal yang sarat ditemukan, dan ingin meluruskan kembali apapun itu yang sudah menyimpang.
Namun bila bicara kenyataan, memang generasi muda yang seperti itu sudah sulit ditemukan. Banyak generasi muda yang memiliki potensi, namun tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Generasi muda jaman ini hampir bisa dibilang kehilangan semangat juang.
Padahal, jika membandingkan masalah perkembangan IPTEK dan semangat juang pada jaman dulu dengan jaman sekarang. Tentu saja kita akan temukan kenyataan ‘lucu’ yang kadang memilukan. Kaum muda jaman dulu memiliki semangat juang tinggi untuk memajukan bangsa, meski perkembangan IPTEK pada jaman itu tentu saja masih jauh di bawah apa yang sudah kita rasakan saat ini. Sedangkan pada masa ini, ketika IPTEK tengah pesat berkembang, dan segala fasilitas sudah dalam genggaman kita, kita malah hampir tidak punya lagi semangat juangnya. Kita tidur. Hampir seperti mati karena dibuai teknologi.
Bayangkan saja, apa yang bisa terjadi bila kedua sisi positifnya digabungkan. Semangat juang tinggi yang sudah difasilitasi segala teknologi. Saya yakin dalam kurun waktu yang singkat, bangsa Indonesia bisa lebih maju dalam berbagai bidang. Entah itu politik, perekonomian, atau sosial.
Jadi, bangunlah dulu dari mimpi hidup bahagia selamanya. Dan mulai melakukan sesuatu yang bisa mewujudkan mimpi itu serta cita-cita bangsa Indonesia. Sudah tiba saatnya kita generasi muda untuk bangkit kembali. Dan mewujudkan segala cita-cita pendiri bangsa untuk kemajuan Indonesia. Meneruskan apapun yang sudah dibangun. Meluruskan apapun yang sudah menyimpang. Dan memperbaiki apapun yang pernah rusak.

Kita diajarkan untuk mengingat pemikiran, bukan orang. Karena orang memang tidak abadi dan kapanpun ia bisa mati. Tapi pemikiran tetap bisa hidup selama ada orang lain yang meyakininya, selama ada orang lain yang melanjutkan perjuangannya. Dan memang sosok pemimpin muda bernama Soe Hok Gie sudah lenyap dari muka bumi, namun sekarang, 44 tahun sejak kematiannya, pemikiran tentang terciptanya keadilan yang sebenarnya di Indonesia masih ada dan diyakini. Dan itu akan menciptakan Soe Hok Gie-Soe Hok Gie baru. Melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

Samarinda, Februari 2013
5 besar essai terbaik Dies Natalis IBMT Internasional University Surabaya

Minggu, 13 Oktober 2013

Catatan Seorang Demonstran, buku idaman.

Saya benar-benar naif hari ini. Dengan setumpuk tugas yang harusnya jadi oleh-oleh hari libur, saya malah berkutat disini dengan alih-alih ingin menghidupkan lagi blog saya yang nampaknya tidak bisa lagi diselamatkan. Padahal saya ragu blog ini masih dihiraukan oleh orang-orang. Ya, memang seperti itu. Saya tidak peduli.

Beberapa hari lalu saya senang tak karuan, buku yang saya cari sejak beberapa tahun silam akhirnya ada di genggaman. Pencarian saya ke semua toko buku besar itu berakhir pada satu toko buku petakan pinggir jalan. Tempat yang biasa jadi tempat mahasiswa beli photo copy-an buku pelajaran itu sekarang benar-benar saya agungkan. Dan demi Tuhan, buku itu bukan hasil photo copy-an. Buku yang pertama kali diterbitkan beberapa puluh tahun lalu itu cetakan asli, bahkan cover-nya pun sama persis. Saya ingat, itu cetakan kedua belas.

Catatan Seorang Demonstran. Iya. Buku itu yang saya maksud. Salah satu bukti nyata keabadian pesona Gie, sekarang ada dalam genggaman saya. Saya merasa terlengkapi. Sempat ada diskusi singkat antara saya, si bapak petugas toko, dan mbak-mbak yang sedang beli puluhan buku photo copy-an untuk kelasnya. Kami bertiga sama-sama tertarik soal Gie, meskipun saya yakin saya yang paling tahu soal Gie di antara kami. Saya betul-betul tidak terima saat si bapak pemilik toko bilang kalau mayat Gie tidak pernah ditemukan, langsung saya tolak argumen itu mentah-mentah. Memang mayat Gie tidak langsung dievakuasi, saya lupa butuh waktu berapa lama tepatnya evakuasi itu, tapi saya tahu akhirnya mayat Gie dievakuasi dan dimakamkan dengan layak.

Rasanya miris sekali bila saya mengingat kisah hidupnya, tapi lebih miris lagi kisah matinya. Saya ingat kata-kata yang ditulis dalam buku itu, tubuh Gie dibawa dengan dibalut plastik dan digantungkan di bambu. Sungguh prihatin keadan Mahameru saat itu. Saya berpikir, dibanding sepi yang ia rasakan di setiap detik hidupnya, pasti jauh lebih sepi terbungkus dalam plastik itu.

Sudah setengah jalan, saya mau cari Orang-orang di persimpangan kiri jalan setelah yang ini selesai.

Selasa, 11 Juni 2013

"Gie itu seperti tentara. Semua orang memuja dia atas jasa dan karya2nya. Namun bila sudah menyangkut meminang anak gadis orang. Tidak akan di beri. Semua orang tua tidak mau anak gadisnya bersama dia. Seperti tentara, terancam mati kapan saja."

Catatan Seorang Demonstran

Selasa, 05 Maret 2013

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat.

Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar derap jantungmu"?
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.

Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenagan,
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.


Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

this part...

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa


Soe Hok Gie
Selasa, 11 November 1969

Sabtu, 05 Januari 2013

surat cinta, sepertinya.

saya gak tau harus mulai dari mana. mungkin saya memang gila. anomali. sinting. atau apalah itu namanya. tapi saya gak bisa berhenti berpikir soal kamu. soal cerita kamu. soal tulisan-tulisan kamu. semua soal kamu terlebih belakangan ini. mungkin memang apresiasi saya terlalu berlebihan terhadap kamu. toh, kamu bukan siapa-siapa saya. mukzizat pun sepertinya gak bisa mengenalkan saya pada kamu. hukum alam. sudah peraturan. saya masih belum mengerti apa yang sebenarnya saya tulis. tapi saya yakin kamu gak akan keberatan soal ini. toh, kamu tidak akan baca. sudah 3 hari terakhir saya hampir gak tidur malam. saya dedikasikan waktu istirahat saya buat mengenal kamu lebih dalam. dan sialnya, saya makin jatuh cinta. tapi ya biar saja. toh, kamu tidak terganggu. saya tau ini agak ringkuh untuk disebut surat cinta. tapi mau dinamakan apa lagi? toh, saya memang jatuh cinta.

saya yakin yang saya rasa ini gak seharusnya. sinting. gila. saya gak akan bisa tersenyum lebar sambil bilang kalo saya sudah jatuh cinta, sama orang yang sudah gak ada. yang bahkan belum sempat saya temui. seseorang yang bahkan lebih dulu dilahirkan ketimbang ayah dan ibu saya. seseorang yang sudah mati. seorang aktivis mahasiswa yang entah kenapa harus mati muda. yang entah kenapa harus diambil nyawanya tepat sehari sebelum merayakan ulang tahun yang ke 27. yang entah kenapa harus menghirup asap beracun mahameru. yang entah kenapa harus mati disana. entah entah dan entah. saya gak tau lagi harus ngomong apa.

seandainya masih ada sosok seperti kamu hidup di jaman ini. sosok nyata yang bisa saya sentuh dengan tangan. bukan cuma bayang-bayang.


manusia memang pasti mati. tapi pesonanya bisa abadi.


seperti yang kamu tulis,
berbahagialah mereka yang mati muda. 
berbahagialah dalam ketiadaanmu.

Gie,