Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Oktober 2017

Saya dan Identitas

Pada suatu waktu di Kamis malam, tanggal 26 September 1996, saya dilahirkan. Bayi perempuan yang lalu dinamai dengan nama mirip laki-laki ini tumbuh menjadi sosok yang tidak berbadan apik, tidak berkulit cerah, dan tidak berambut “seperti dari salon.” Saya anak ketiga dari tiga bersaudara, dan entah karena orang tua saya yang mungkin sudah bosan memotret anak-anak, atau hanya bentuk saya saja yang kurang menarik untuk diabadikan, sulit untuk saya menemukan potret-potret diri ketika balita di album-album keluarga. Bentuk balita yang saya miliki adalah kulit (sangat) gelap dan rambut ikal menempel pada kulit kepala, seperti orang-orang timur. Guyonan yang paling sering Ibu saya lontarkan hingga saat ini adalah bahwa dulu sekali seorang suster tanpa sengaja menukar bayi perempuannya.

Seiring waktu berjalan, saya mulai meyakini bahwa guyonan itu memanglah sekedar guyonan belaka. Di usia saya yang memasuki kepala dua, orang-orang mulai berbicara tentang wajah saya yang entah bagaimana mengingatkan mereka pada Ibu saya—yang berarti dulu sekali tidak ada cerita soal tukar-menukar bayi. Tapi bukankah sesuatu yang menyebalkan ketika seseorang, dan bukan hanya sekali kejadian, bertanya “Mama kamu putih, Papa kamu ya tidak hitam juga. Kamu anak siapa?” Lebih menyebalkannya lagi ketika pertanyaan itu bertransformasi menjadi kalimat tanya berbasis lelucon sehari-hari. Seorang Dosen pernah berkata bahwa tubuh sebagai identitas yang paling kasat mata justru kadang menimbulkan kesan ambigu. Saya mengerti benar perkataannya itu.

Ibu saya seorang Sunda sementara Ayah saya seorang Jawa, keduanya sama-sama tulen. Ketika seseorang menanyakan apa suku saya, saya ingin sekali dengan mudah menjawab “Saya orang Jawa”, karena sepengetahuan saya anak perempuan mewarisi suku Ayahnya. Tapi saya tidak bisa berbahasa Jawa, karena semenjak kecil saya hidup di lingkungan yang mayoritas penduduknya bersuku dan berbahasa Banjar. Saya juga ingin sekali menjawab “Saya orang Sunda”. Tapi orang-orang Sunda terkenal dengan kulit yang saya tidak punya. Belum lagi mata bulat dan hidung mancung ini membuat beberapa orang bertanya “Kamu keturunan India, ya?” Pertanyaan tentang suku dan asal-muasal akhirnya hanya saya jawab dengan rangkaian senyum kecil, meninggalkannya seperti itu, tetap ambigu.

Kembali pada pertanyaan “Kamu anak siapa?”, tiga kata itu menghantarkan saya pada masalah yang lebih menyebalkan lagi. Saya mengerti ketika pertanyaan itu dilontarkan si penanya bermaksud mempermasalahkan warna kulit saya yang cenderung gelap. Ibu saya punya kulit putih yang bahkan terlihat seperti Cina, sementara rona kulit saya adalah skala paling bawah penggaris pengukur warna kulit milik produk-produk pemutih wajah. Tapi di situ lah letak kekonyolannya; tidak ada yang salah dengan berkulit gelap, permasalahan muncul ketika kita hidup di tempat yang secara sadar ataupun tidak sadar menganut paham “putih=cantik” dan sebaliknya. Paham ini berlaku sampai ke titik paling dasar sehingga kita tidak sempat menyadarinya. Contoh paling sederhana bisa kita temukan di upacara-upacara bendera, ketika ada perwakilan murid perempuan yang akan dipanggil ke depan untuk semacam penyerahan simbolis, maka yang dipilih selalu murid perempuan berparas cantik, dan cantik berarti berkulit putih. Dari hal-hal semacam itulah bibit diskriminasi tak kasat mata tercipta, dan bentuknya semakin serius dalam beberapa kasus yang selama ini saya hadapi.

Perlakuan berbeda itu membuat perempuan dalam berbagai kesempatan berusaha memutihkan diri baik secara fisik maupun digital, untuk mengurangi kesenjangan antara putih dan tidak putih yang ciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Produk kosmetik pemutih wajah laku keras, sekeras frekuensi pengunduhan aplikasi penyunting gambar di berbagai gadget. Saya sendiri merasakan dorongan ini, dorongan untuk “memutihkan.” Tapi setiap kali saya melihat potret diri yang sudah disulap sedemikan rupa sehingga terlihat lebih cerah, rasanya seakan menatap pada sosok yang tidak pernah saya kenali. Dan secuil hati saya merasa kehilangan identitas kala itu terjadi.  

Pergulatan saya tentang tubuh tidak berhenti sampai di situ. Saya memiliki tubuh yang orang bilang mirip “papan penggilasan”, papan untuk ibu-ibu biasanya mencuci baju, tipis dan rata. Sementara saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang percaya bahwa pembeda paling konkret antara laki-laki dan perempuan adalah bentuk tubuh. Di mana perempuan harus “memiliki” dada dan bokong sementara laki-laki dapat tenang dengan berbadan rata. Bukankah dengan pandangan seperti itu saya berhak menuntut bahwa laki-laki harus berbadan kekar dan berdada bidang seperti binaragawan? Hal yang lebih sulit untuk saya terima adalah bagaimana pandangan ini digunakan bukan hanya di kepala-kepala orang dewasa, melainkan juga di kepala-kepala anak ingusan. Dulu sekali seorang teman perempuan pernah berkata dengan santainya, “Cepet dibesarin itu dada, kalo udah SMP masih gak punya dada nanti malu!” Kalimat itu begitu membekas di benak saya hingga saat ini, kami masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar waktu itu.

Saya ingat bagian paling menyebalkan dari bersekolah adalah pelajaran olahraga. Saya terpaksa menggunakan kaos yang dimasukan ke celana training demi mengikuti mata pelajaran tersebut, sementara kaos yang dimasukan ke celana training membuat bentuk tubuh rata saya menjadi lebih tidak berbentuk lagi.  Saya ingat berusaha mengeluarkan ujung kaos dari celana itu kapanpun ada kesempatan, demi menutupi bentuk tubuh yang sangat tidak “perempuan” itu.

Apa yang salah dengan seorang perempuan berbadan rata? Apakah dengan lekuk tubuh yang tidak terlalu mencolok lalu seorang perempuan tidak bisa mengandung dan melahirkan anak-anak pintar yang begitu dibutuhkan di masyarakat ini? Anak-anak pintar yang tidak berpikir bahwa dada dan bokong besar adalah modal utama seorang perempuan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seksualitas yang ada pada tubuh perempuan seringkali dijadikan patokan. Bukan hanya oleh kaum laki-laki, melainkan juga oleh kaum perempuan itu sendiri. Perempuan yang memiliki postur tubuh ideal akan berjalan penuh percaya diri, meyakini bahwa orang lain akan melihat dia seperti dia melihat relfeksi tubuhnya di cermin; sempurna. Sebagai dampak dari kepercayaan ini, pakaian-pakaian dalam “istimewa” mulai beredar di pasaran. Membuat para perempuan memilih pakaian dalam sedemikian rupa sehingga dada dan bokong mereka tampak terangkat, menyumpal anggota-anggota tubuh yang seharusnya apa adanya itu dengan buntalan-buntalan busa dan mungkin silikon juga.

Pandangan akan seksualitas dan kecantikan yang wajib dimiliki setiap perempuan begitu merasuk pada diri saya, sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya akan tetap hidup meski tanpa postur ideal dan kulit putih sekalipun. Saya akan tetap memiliki teman untuk bertukar pikiran dan saya akan tetap menjalin romantisme biarpun tubuh saya rata dan gelap seperti papan penggilasan. Semua orang akan mengenali saya sebagai saya, meski saya mengaku Jawa, Sunda, atau India sekalipun. Ada perbedaan besar antara tidak berusaha memperbaiki dan tidak berusaha merubah. Di sini saya tidak akan berusaha merubah diri saya menjadi layaknya bintang-bintang iklan sabun yang hampir selalu dijadikan kiblat kecantikan, namun saya terus berusaha untuk memperbaiki tubuh semampu saya sebagai seorang perempuan normal. Dan pada akhirnya, saya berdiri di hadapan cermin bukan hanya untuk membayangkan bagaimana orang lain melihat diri saya, namun juga untuk berdamai dengan tubuh sebagai identitas paling konkret yang saya miliki. 

Terlepas keliru-tidaknya label yang disematkan si suster pada bayi perempuan itu bertahun lalu.

Rabu, 23 Desember 2015

Di Balik Senyuman Topeng Fawkes V for Vendetta: Kemelut Fasis dan Anarkis

“Kita diajarkan untuk mengingat pemikiran, bukan manusia. Karena manusia bisa gagal. Ia bisa tertangkap. Ia bisa mati dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian, sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan sejak awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat bagaimana manusia membunuh dengan mengatasnamakan pemikiran, dan juga mati karenanya. Tapi kau tak bisa mencium sebuah pemikiran, kau tak bisa menyentuhnya, atau mendekapnya. Pemikiran tidak berdarah, ia tidak merasakan sakit, ia tidak merasakan cinta.“

Disuarakan oleh tokoh Evey (Natalie Portman), narasi di atas hadir sebagai pembuka film V for Vendetta garapan sutradara James Mc Teigue tahun 2005. Aktor Hugo Weaving yang memerankan tokoh sentral V tidak menampakan wajahnya sama sekali sepanjang film berdurasi 132 menit ini, berbalut pakaian serba hitam dan bertopeng ala Guy Fawkes ia berhasil menyampaikan cerita tentang pencarian “dewi keadilan yang tengah berlibur”. Secara garis besar, film ini berkisah tentang pencarian jati diri wanita muda Evey yang dipacu oleh pertemuan tanpa sengajanya dengan tokoh V, pria bertopeng misterius yang lalu meledakan dua landmark kota London dan mengambil alih British Television Network untuk menyebar pesan revolusioner, ditengah tirani Konselor Sutler yang totaliter.

Sejak awal berbicara tentang “pemikiran”, film ini sangat lekat membahas tentang aspek-aspek ideologi. Menurut Ajidarma dalam Diktat Kuliah Kajian Sinema, sebagaimana dituliskan oleh Mega Subekti dalam esai “Kontesasi Wacana Barat dan Timur dalam Film Sang Pencerah”, ideologi dalam sebuah film sering dimaknai sebagai ruang rekonstruksi dan representasi realitas sosial yang telah direkam melalui pendekatan realisme estetik. Sehingga V for Vendetta dengan sinematografi apik dan tertata menggambarkan bagaimana anarkisme kadang dibutuhkan demi tersulutnya revolusi, sehingga tercapailah merdeka yang hakiki.

Terminologi anarkisme sendiri secara luas disalahpahami oleh kebanyakan awam. Dalam tatar politik, anarkisme selalu disamakan dan disangkutpautkan dengan chaos, sehingga para anarkis seakan dimaknai sebagai orang-orang yang mendukung diberlakukannya lagi hukum rimba yang cenderung bar-bar.  Seorang anarkis L. Susan Brown menyatakan dalam buku The Politics of Individualism, “Meski pemahaman umum mengenai anarkisme adalah suatu gerakan anti negara kekerasan dengan kekerasan, anarkisme adalah suatu tradisi yang bernuansa lebih dalam daripada sekedar perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah. Kaum anarkis menentang pemikiran bahwa masyarakat memerlukan kekuasaan dan dominasi, dan malah membela bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang anti hierarki dan lebih kooperatif.”

Dalam pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa anarki ada sebagai reaksi kekerasan atas aksi yang juga merupakan kekerasan. Tokoh V di sini juga berlaku demikian. Di bawah pemerintahan Konselor Sutler yang cenderung menciptakan terror massa bagi rakyatnya sendiri, seorang misterius yang hanya samar diceritakan asal usulnya hadir dengan wajah tertutup topeng. Meminjam identitas Guy Fawkes, seorang yang dihukum gantung atas percobaannya meledakan gedung parlemen pada 5 November 1605, V beranggapan bahwa “Rakyat tidak seharusnya takut pada Pemerintah”. Tokoh V percaya bahwa “pemikiran” Guy Fawkes memang benar adanya, bahwa meledakan gedung bukanlah hanya membuat bangunan kokoh menjadi runtuh. Meledakan sebuah gedung adalah upaya menghancurkan simbol yang dapat menuntun orang-orang pada perubahan mendasar tentang siapa sebenarnya yang berkuasa dalam suatu negara.

Latar cerita dalam film adalah  Inggris Raya yang telah menyerahkan kebebasan dan hak-hak individualnya pada pemerintahan totaliter dengan sebutan “Norse Fire”. Unsur Fasisme jelas terlihat pada sisi ini. Fasisme sendiri adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Para Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai upaya untuk memberikan perubahan positif dalam masyarakat. Estetika politiknya menggunakan simbolisme romantis, mobilisasi massa, pandangan positif kekerasan, dan kepemimpinan karismatik.




Semuanya seakan divisualisasikan dalam V for Vendetta. Unsur otoriter dan militerisme terang-terangan diangkat dengan tatanan sinematografi dramatis. Konselor Sutler juga digambarkan sebagai tokoh karismatik yang menjadi penyelamat rakyat di tengah kerusuhan yang terjadi. Meski lalu dijelaskan lagi bahwa Konselor Sutler lah yang bertanggung jawab atas kerusuhan-kerusuhan itu. Perang, terror dan penyakit diciptakan oleh pemerintah sendiri demi mengingatkan rakyat akan kebutuhan mereka pada pemerintah. Pandangan positif kekerasan diterapkan atas nama ketertiban yang harus tercipta, dengan bumbu romantisme bahwa pemerintah ada untuk menjaga rakyatnya dari segala keburukan diluar partai tunggal tersebut.

Dalam menggancangkan politik “blame the victim”nya, pemerintah membuat peran media begitu penting. Konsentrasi sinematografi film ini pun cenderung terletak pada televisi, entah itu di rumah-rumah, di bar, bahkan di sebuah panti jompo.



Hal ini sejalan juga dengan aksi tokoh V yang mengambil alih Britain Television Network untuk mengudarakan video pidatonya di saluran darurat. Pergulatan antara fasis dan anarkis ini dibuat seakan jadi sinetron yang tayang bergantian dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kemenangan salah satu pihak pun dengan nyaris puitis juga disampaikan lewat sisi sinematografi.

Dalam teknik pengambilan gambar, dikenal istilah high angle dan low angle. Dimana kedua teknik itu digunakan para sinemaker untuk menyampaikan dan menciptakan kesan yang sesuai dengan ide awal gagasannya. High angle adalah teknik pengambilan gambar dari atas, sehingga menciptakan kesan ciut pada objek gambar. Sebaliknya, low angle menciptakan kesan agung pada objek gambarnya karena diambil dari sisi bawah. Teknik ini digunakan juga dalam V for Vendetta, dalam usahanya mengisyaratkan kekuasaan yang berpindah tangan.


Hampir sepanjang film berdurasi lebih dari 2 jam itu, Konselor Sutler sering kali dimunculkan dalam televisi raksasa seperti pada gambar di atas. Gambar di atas ini merupakan suasana “rapat” antara Sang Konselor Agung dengan para kaki tangannya. Meski posisi atasan-bawahan jelas terjadi, teknik low angle tidak dijadikan pilihan, dan sutradara memilih hanya menyorot objek gambar dari sisi depan saja (datar).


Perbedaan muncul ketika film ini menampakan video pidato V yang disiarkan di saluran darurat. Dengan telivisi yang ‘jauh’ lebih raksasa dan terletak di pusat kota, teknik low angle digunakan. Kesan agung terlihat sangat jelas, mengisyaratkan kekuasaan yang sudah berpindah tangan dari Sang Konselor ke V. Bila kita lihat lebih teliti pada gambar, ironi jelas disuguhkan pada scene ini. Tepat di samping televisi raksasa yang memutar pidato revolusioner V, terdapat lambang partai “Norse Fire” pimpinan Sutler.

Perpindahan kekuasaan dari fasis ke anarkis lebih ditekankan pada siaran pidato terakhir Konselor Sutler. Dengan televisi super raksasa yang sama, teknik high angle “ekstrim” dipergunakan sebagai simbol kekalahan besar-besaran. 


Scene ini juga diparalelkan dengan scene televisi-televisi biasa di tempat-tempat lain yang entah mengapa ditinggalkan dalam keadaan hidup meskipun tidak ada satupun orang yang menonton. Simbolisme ini menyatakan bahwa suara Sang Konselor Agung tidak lagi didengarkan oleh siapapun.


V for Vendetta ditutup dengan nasib Konselor Sutler dan V yang sama-sama tidak baik. Tapi seperti yang dikatakan oleh V menjelang ajalnya, “Pemikirian itu anti-peluru” dan tetap hidup meski pemikirnya telah mati. Kemenangan anarkis atas fasis yang disajikan dalam film bertumpu lagi pada topeng yang digunakan oleh V. Alih-alih bersembunyi di balik identitas Guy Fawkes, tokoh V merepresentasikan dirinya atas nama semua orang yang menyadari akan ketidakberesan jalannya pemerintahan. Bahwa ketika ditanya siapakah sebenarnya sosok V, Evey dengan tenang menjawab “Dia adalah ayahku, dan ibuku, kakakku, temanku. Dia adalah aku, dan kamu.” 

V adalah rakyat, dan rakyat tidak seharusnya takut pada pemerintahnya. 
Rakyat seharusnya merdeka. 


Jatinangor, 23 Desember 2015
Ananda Bayu Pangestu

Selasa, 15 Oktober 2013

Bangkitkan Lagi Semangat Juang Generasi Muda

Ada sebuah pemikiran dimana untuk mengenali seseorang, kita tidak perlu mengenal seseorang itu secara pribadi, melainkan cukup dengan karyanya saja. Karena sosok seseorang menjelma seutuhnya ke dalam karya yang ia ciptakan. Seperti kita yang menilai burung dari merdu kicauannya, menilai orang dari apa yang ia ucapkan, juga menilai penulis dari apa yang mereka tuliskan.
Saya mengenal satu sosok pemimpin muda, meski belum pernah bertatap muka, meski kami hidup di masa yang berbeda hampir 5 dekade lamanya. Saya tahu namanya Soe Hok Gie, saya tahu ia lahir tanggal 17 Desember 1942 dan meninggal ketika berumur 27 tahun kurang sehari, saya tahu ia adalah mahasiswa UI Fakultas Sastra, dan menjadi sosok yang begitu berpengaruh pada masanya.
Peranan Soe Hok Gie dalam penegakkan Orde Baru yang dipimpin Jendral Soeharto memang tidak kecil, sebagai seorang jurnalis juga aktivis. Ia berharap Orde Baru dapat menegakkan keadilan sosial, dan ia tidak segan melontarkan kritikan pedas yang mengundang banyak pro dan kontra di berbagai kalangan. Meskipun itu berarti harus terkucilkan atau bahkan dilempari surat kaleng berisi ancaman.
Kritik-kritik dan kecaman yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur dan realistis. Ia memang tidak selalu benar, namun ia selalu jujur. Setiap kritik dan kecamannya pun tidak pernah dilontarkan tanpa perasaan prihatin. Sayang sekali sosok pemimpin muda ini juga mati di usia muda. Saya yakin bila nasibnya sedikit lebih baik, ia akan menjadi tokoh yang lebih besar, lebih berperan, dan lebih terkenal. Saya yakin akan menemukan namanya di buku-buku pelajaran sejarah yang saya punya saat ini, jika saja ia hidup lebih lama dan melanjutkan perjuangannya.
“Kita, generasi muda ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti (…). Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.” (Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie, Penerbit LP3ES, 1983).
Kutipan di atas adalah salah satu tulisan Soe Hok Gie pada buku hariannya, yang akhirnya (setelah ia meninggal) diterbitkan setelah disunting, karena dianggap terlalu beresiko apabila tetap mencantumkan nama seperti pada buku harian asli miliknya.
Soe Hok Gie adalah salah satu figur pemimpin muda berkarakter yang sudah sulit ditemukan di masa sekarang. Sedang waktu yang terus berjalan selalu membawa kita selangkah demi selangkah ke masa depan. Dan masa depan perlu diisi dengan penerus-penerus baru, pejuang-pejuang muda yang dapat diandalkan untuk mengurusi kemana bangsa dan negara ini mau dibawa.
Kaum muda memang identik dengan perubahan yang dibawanya. Perubahan-perubahan yang diharapkan dapat  membawa bangsa ke arah yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Pandangan ini muncul karena cita-cita golongan tua yang berharap bangsanya akan menjadi lebih baik di kemudian hari, dan ambisi golongan muda untuk memperbaiki kecacatan juga kerusakan-kerusakan yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelumnya.
Sosok seorang Soe Hok Gie sebagai pemuda pada masanya, sangat jauh berbeda dengan kita. Ia lahir ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik, sedang generasi kita lahir di masa yang tinggal terima jadi dan tidak perlu tahu apa-apa.
 Barangkali ini adalah salah satu faktor mengapa generasi muda pada jaman itu lebih peka terhadap keadaan yang tengah terjadi di tengah-tengah mereka. Mereka yang merasakan pahit akan mati-matian mencari tahu bagaimana rasanya mengecap manis. Dan mereka yang sudah terbiasa merasakan manis, tidak sudi untuk sekali saja mengecap pahit.
Lepas dari masalah pahit-manisnya pengalaman yang dirasa, masa depan bangsa masih menggantung di hadapan kita. Harus ada penerus, atau Indonesia hanya tinggal nama. Mau tidak mau pemimpin-pemimpin muda berkarakter harus lahir kembali untuk meneruskan perjuangan kaum tua, memperbaiki kesalahan-kesalahan, dan membawa Indonesia pada keadilan sosial yang sesungguhnya, seperti cita-cita Soe Hok Gie pada masa Orde Baru dulu.
Lalu, bagaimana caranya melahirkan pemimpin-pemimpin muda dengan semangat juang tinggi seperti dulu lagi?
Kaum muda Indonesia saat ini dapat dibilang sudah tertidur terlalu lama. Terbuai dengan segala kenyamanan dan fasilitas yang mereka punya, sehingga semakin merasa bahwa bangsa yang di tempatinya ini baik-baik saja. Dan tidak memikirkan bahwa bagaimanapun harus ada penerus yang melanjutkan perjuangan bangsanya.
Tentu bukan kaum muda sembarangan yang dapat dijadikan calon-calon penerus dan pemimpin bangsa. Calon-calon pemimpin harus memiliki dasar moral yang kuat. Seperti halnya agama, moral juga menjadi pondasi setiap pemimpin, juga setiap manusia. Mereka yang memimpin tanpa moral yang tinggi tidak akan pernah bertahan lama, karena membangun rumah dengan pondasi yang salah sama saja loncat indah ke dalam jurang.
Mari kita ingat lagi konsep menulis Soe Hok Gie, ia memang tidak selalu benar karena memang tidak ada manusia sempurna, namun ia berkata jujur dan apa adanya. Kejujuran adalah salah satu hal terpenting untuk membentuk jiwa seorang pemimpin. Kekuasaan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan tikus-tikus pemakan uang yang bersembunyi di balik meja-meja pemerintah. Koruptor-koruptor busuk yang berdansa sementara rakyat menderita. Dan pejabat-pejabat hina yang berfoya-foya sementara rakyat meminta-minta.
Kejujuran itu sendiri bukanlah sepaket karakter yang bisa dengan instan diperoleh dalam jiwa seseorang. Seperti kata orang, ‘bisa karena biasa’. Kejujuran dan ketidak jujuran berawal dari kebiasan. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini dimulai dari usia yang sangat muda dan hal-hal yang dianggap sangat sederhana.
 Contohnya, seorang anak yang sejak kecil  terbiasa mencontek dalam ulangan, kemungkinan besar akan berakhir menjadi koruptor ketika sudah dewasa dan menjadi pejabat. Karena sejak kecil sudah terbiasa menghalalkan segala cara untuk memenuhi apa yang ingin dicapainya. Mencontek untuk mendapatkan nilai ulangan tinggi tanpa belajar, lama kelamaan bertransformasi jadi menggelapkan uang untuk mendapatkan penghasilan besar tanpa susah payah bekerja lebih.
Sedangkan, jika seorang anak terbiasa bersikap jujur semenjak kecil. Ia akan terbiasa mencapai apa yang ia inginkan tanpa berbuat curang, atau menyalahi aturan. Sampai dewasa, anak ini akan tetap berbuat jujur, karena meyakini bahwa apa yang dilakukannya semenjak kecil adalah benar. Dari anak-anak seperti ini pemimpin-pemimpin muda akan tercipta. Dengan berkembangnya kemampuan berpikir seiring bertambah usia, ia akan mulai tersadar kalau kejujuran adalah hal yang sarat ditemukan, dan ingin meluruskan kembali apapun itu yang sudah menyimpang.
Namun bila bicara kenyataan, memang generasi muda yang seperti itu sudah sulit ditemukan. Banyak generasi muda yang memiliki potensi, namun tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Generasi muda jaman ini hampir bisa dibilang kehilangan semangat juang.
Padahal, jika membandingkan masalah perkembangan IPTEK dan semangat juang pada jaman dulu dengan jaman sekarang. Tentu saja kita akan temukan kenyataan ‘lucu’ yang kadang memilukan. Kaum muda jaman dulu memiliki semangat juang tinggi untuk memajukan bangsa, meski perkembangan IPTEK pada jaman itu tentu saja masih jauh di bawah apa yang sudah kita rasakan saat ini. Sedangkan pada masa ini, ketika IPTEK tengah pesat berkembang, dan segala fasilitas sudah dalam genggaman kita, kita malah hampir tidak punya lagi semangat juangnya. Kita tidur. Hampir seperti mati karena dibuai teknologi.
Bayangkan saja, apa yang bisa terjadi bila kedua sisi positifnya digabungkan. Semangat juang tinggi yang sudah difasilitasi segala teknologi. Saya yakin dalam kurun waktu yang singkat, bangsa Indonesia bisa lebih maju dalam berbagai bidang. Entah itu politik, perekonomian, atau sosial.
Jadi, bangunlah dulu dari mimpi hidup bahagia selamanya. Dan mulai melakukan sesuatu yang bisa mewujudkan mimpi itu serta cita-cita bangsa Indonesia. Sudah tiba saatnya kita generasi muda untuk bangkit kembali. Dan mewujudkan segala cita-cita pendiri bangsa untuk kemajuan Indonesia. Meneruskan apapun yang sudah dibangun. Meluruskan apapun yang sudah menyimpang. Dan memperbaiki apapun yang pernah rusak.

Kita diajarkan untuk mengingat pemikiran, bukan orang. Karena orang memang tidak abadi dan kapanpun ia bisa mati. Tapi pemikiran tetap bisa hidup selama ada orang lain yang meyakininya, selama ada orang lain yang melanjutkan perjuangannya. Dan memang sosok pemimpin muda bernama Soe Hok Gie sudah lenyap dari muka bumi, namun sekarang, 44 tahun sejak kematiannya, pemikiran tentang terciptanya keadilan yang sebenarnya di Indonesia masih ada dan diyakini. Dan itu akan menciptakan Soe Hok Gie-Soe Hok Gie baru. Melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

Samarinda, Februari 2013
5 besar essai terbaik Dies Natalis IBMT Internasional University Surabaya

Budaya Pembentuk Watak Bangsa

“Buku membentuk watak bangsa.” Kata salah satu Bapak Proklamator kita, Bung Hatta. ”Buku adalah jendela dunia”, begitu pula bunyi kata bijak milik sejuta umat. Lalu, bisakah anda bayangkan bagaimana hidup kita tanpa buku? Akankah kita perlahan berubah menjadi individu-individu tanpa identitas yang sepatutnya dipertahankan? Yang pada akhirnya akan menciptakan fenomena bangsa tidak berwatak, ideologi yang terhapus, dan sejarah yang terlupakan.
            Na’asnya, masalah yang kita hadapi dewasa ini di Indonesia sudah sangat menjurus ke arah fenomena itu. Berita terakhir menyatakan bahwa angka minat baca penduduk Indonesia masih sekitar 0.01 persen. Terlampau jauh bedanya dengan negara-negara Asia lain, seperti Jepang (45 persen) dan Singapura (55 persen). Apakah itu menjelaskan mengapa Jepang dan Singapura menjadi salah satu negara maju di kawasan Asia? “Buku membentuk watak bangsa”, seperti kata Bung Hatta.
            Bila bicara soal membentuk watak bangsa, tentu saja yang kita bicarakan adalah soal generasi muda. Karena generasi muda lah penerus bangsa yang akan menggambil posisi setelah generasi tua dilengserkan. Generasi muda lah yang seharusnya banyak-banyak membaca,  menghidupkan lagi budaya baca yang dulu sempat kuat dimiliki bangsa Indonesia.
            Badan-badan perpustakaan ataupun Dinas Pekerjaan Umum, telah berupaya meningkatkan angka minat baca tersebut dengan cara mengangkat duta-duta baca baru setiap tahunnya. Dari kalangan pelajar dan atau mahasiswa yang dianggap sanggup juga pantas menjalani tugasnya. Namun kenyataan yang ada, pengangkatan duta-duta tersebut belum dirasa efektif dan masih jauh dari kata berhasil, bercermin pada persentase minat baca di Indonesia yang masih saja bertengger di angka 0 koma.
            “Buku membentuk watak bangsa”, berkali-kali saya tekankan pendapat Bapak Proklamator kita ini. Karena tidak dapat kita pungkiri, kalimat itulah jelmaan paling sempura dari sebuah hubungan antara manusia, apa yang ia baca, dan bagaimana nasib bangsanya. Buku menjadi salah satu faktor terkuat yang ikut berperan dalam watak dan kepribadian bangsa. Lalu, bagaimanakah tentang kualitas isi buku yang menjadi bahan bacaan generasi muda dewasa ini?
               Bila kita menilik sekitar 3-4 dekade kebelakang, kita akan temui perbedaan drastis yang mencuat dari kualitas bahan bacaan yang beredar di masyarakat. Mengapa? Meskipun dengan sarana pendidikan yang masih cukup terbatas, generasi muda jaman itu memiliki semangat yang jauh lebih tinggi dalam bidang bacaan. Ini tercermin dari jenis buku yang mereka baca pada umumnya. Dibawah Bendera Revolusi, Pasang Naik Kulit Berwarna, dan The Edventure of Idea, adalah beberapa buku bacaan yang populer diantara pelajar.
            Sedang bila kita melihat kabar hari ini, seakan-akan yang kita temui hanyalah setumpuk novel-novel humor dan cinta ala penulis-penulis kemarin sore dari jejaring sosial. Salah seorang teman pernah berkata; “Jaman sekarang, cukup punya followers banyak di twitter sudah bisa jadi penulis dan punya buku sendiri.”.  Dengan kalimat itu yang terucap dari mulut orang lain, saya semakin yakin, saya bukan satu-satunya orang yang beranggapan bahwa penerbit-penerbit buku di Indonesia telah terlalu jauh keluar dari jalurnya. Dan faktanya lagi, buku-buku itu pun laku keras di masyarakat khususnya kalangan muda. Lalu bagaimanakah watak yang akan di bentuk dari buku-buku tersebut? Akhirnya hanya akan tercipta generasi-generasi “Galau” yang tidak punya pendirian teguh. Dan selangkah demi selangkah membawa kita pada fenomena ideologi yang jatuh.
            Budaya baca adalah budaya pembentuk watak bangsa. Dengan kenyataan bahwa Indonesia memiliki angka minat baca yang sangat rendah, apakah tidak semakin buruk bila penyumbang angka persentase tersebut didominasi oleh novel-novel roman picisan yang kurang berbobot? Sebagai calon mahasiswa sastra, tentu saya menganggap hal ini sebagai masalah yang besar dan harus cepat diatasi. Saya percaya akan kemungkinan bahwa buku-buku yang populer beredar di masyarakat, khususnya kawula muda, memiliki pengaruh pada persentase angka minat baca di Indonesia.
            Kita perlu konsepsi dewasa ini. Seharusnya, pihak penerbit melakukan koreksi besar-besaran terhadap kategori-kategori buku yang diterbitkannya. Memang buku-buku entertainment juga dibutuhkan, namun tidak berarti hal itu harus menutupi semua jenis buku yang beredar di pasaran. Tidak dapat dipungkiri bahwa penerbit buku adalah satu badan komersil yang berusaha meraup untung semaksimal mungkin. Sehingga penerbit akan terus mengikuti perkembangan kemauan pasar. Padahal, apabila penerbit berani sedikit idealis dan tidak sembarangan mengikuti zaman, kemungkinan konsumenlah yang akan berbalik mengikuti apa yang penerbit sajikan.  
            Ketika pihak penerbit tidak lagi dapat diajak kompromi, Sudah saatnya kita, generasi muda, mengubah pola pikir dalam memilih bahan bacaan. Terlepas dari bacaan wajib yang diharuskan oleh sekolah dan universitas, kita harus dengan penuh kesadaran memilih buku bacaan yang dapat ‘mendidik’ kita, bukan hanya penghibur semata. Dan saat semua telah kembali pada jalurnya, angka minat baca di Indonesia akan perlahan meninggi dengan sendirinya. Belum lagi, persentase itu didominasi oleh buku-buku bacaan yang berbobot, bukan hanya setumpuk roman picisan belaka.
“Buku membentuk watak bangsa”, Apa yang lebih puitis, selain berbicara soal nasib bangsa yang kita rela mati untuknya? Kita hidup di masa dimana ‘kata’ lebih kuat dari pada apapun juga, lebih berpengaruh terhadap semua. Karena itulah, kita, generasi muda, harus mempertahankan watak bangsa kita lewat kata-kata. Kita harus hidupkan lagi budaya baca, karena apa yang kita baca, merefleksikan kata apa yang kita cipta. Dan itulah yang akan memakmurkan Indonesia.

Bandung, Agustus 2013
112 Essai terbaik pra-PKM Universitas Padjadjaran
2 besar Fakultas Ilmu Budaya
PRABU Unpad 2013