Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Januari 2016

Day 17

a part of my mental form is staying at some far far away stanger's porch
laying deep in conversations
and silence as transitions

a part of my mental form lives happily ever after
leaving a blank space in the heart of mine
which certainly I shall remember

Minggu, 01 November 2015

Yang Untukmu Itu

Biar aku tanyakan dulu, Resah
Tentang sebait nama
Yang menggantung-gantung
Di hadapan bola mata
Yang dikatupkan kala petang

Biar aku rasakan dulu, Sayang
Tentang kasih terhadap raga
Yang kadang aku tangkap
Bayangannya cantik mengangkasa
Yang nanti membumi juga

Barubereum, Kaki Gunung Manglayang, 25 Oktober 2015
Biar aku bisikan dulu, Cinta
Padamu sehalus cahaya matahari dan kabut
Yang menyelinap masuk
Diantara daun-daun kecil
Yang akan gugur tertiup angin

Begitu
Seterusnya.


Atas nama aku dan rumput-rumput kering,
N

Jumat, 25 September 2015

Selepas Kebas

Kebenaran adalah luka yang sukar mengering
Sementara kata-kata sekedar obat penenang
Dan ketika syaraf mati terlalu sering dicekoki
Maka habislah

Suaramu indah sekali menyanyi
Tapi telingaku sudah kelewat tuli
Tak bisa kubedakan mana lukisanmu mana jendela
Kurasa aku juga buta

Kabut senja meleburkan semua warna
Entah merah darah atau hitam tanah
Apalagi rona pelangi 

Aku tepat di sisimu, Sayangku
Mengobati kebas hatimu
Yang pilu itu


baru saja kehilangan obat penenang,
N

Rabu, 19 Agustus 2015

Puisi Yang Katanya Soal Asa

Beberapa waktu lalu, Unit Kegiatan Mahasiswa yang sudah lumayan lama saya tinggal berulang tahun. Dibuatlah semacam parade tahunan. Penuh pementasan. Sebagai permintaan maaf karena sudah tidak pernah lagi menyetor muka, saya bersedia menulis puisi yang akan dipentaskan dalam bentuk musikalisasi. Mengusung tema "Asa", cuma ini yang terlintas di benak saya:

Sedang Aku

Ada gemilang bintang yang malah redup ketika petang
Ada jiwa-jiwa malang yang hilang ketika baru dilahirkan
Sedang aku hanya ingin duduk diam bersamamu dan sesendok madu
Meratap manis untuk mereka yang telah jatuh, bahkan sebelum mulai menetes peluh

Ada kado-kado natal yang tak sekalipun terjamah
Ada sekam yang ditinggal tanpa terpisah dari gabah
Sedang aku hanya ingin memelukmu dan bersandar di bahu
Sejenak merenung untuk semua kesempatan yang tersesat di jalan, dan tak pernah sampai tujuan

Satu waktu boleh lagi kita bertemu, bercakap mesra soal cerita-cerita masa lalu
Tertawa lugu dengan sorot mata memburu
Seperti ketika harap masih kerap menggebu

15/4/15

Melihat Secercah

Kala lesung sekelebat hadir di langit mendung
Tetes air lalu jatuh menembus garis senyuman rikuh
Tak bawa ia payung, tak juga ia berlindung

Kala terik terlampau jauh mencabik-cabik
Tetes air lalu jatuh sebagi deras kucuran peluh
Tak sampai ia bergidik, tak sedikitpun ia terusik

Kalau bisa aku menangis darah, maka terjadilah
Biar disimpan sendiri segala keluh kesah
Agar tak rusak ia yang terus menengadah

Tak lelah,
Meski hanya melihat secercah

20/4/15

Terlepas dari susunan kata yang lebih mirip hasil karya poetweet.com ini, pementasannya sangat luar biasa. Baru kali itu saya ingin menangis mendengar apa yang pas-pasan saya tulis bisa dinyanyikan dengan nuansa seindah-indahnya. 

Saya memeluk erat salah seorang tim paduan suara selepas parade rampung.
Berterima kasih.
Lalu tetap tidak menyetor muka sampai sekarang.

Minggu, 28 Juni 2015

Nyamuk

tahukah kau dinding ruangku penuh dengan bangkai nyamuk?
aku menampar mereka satu per satu
karena mereka ramai
dan aku sendiri

aku ingin berwarna seperti nyamuk
hitam dan putih, dua saja
nyamuk tidak mengenal biru, atau jingga, atau hijau, atau cokelat
mata mereka banyak, namun hanya fokus untuk sebuah lubang pori-pori
bagi segala yang hidup, segala yang mengeluarkan energi panas

tahukah kamu nyamuk adalah binatang kesayangan Budha?
ia bertelur dan menetas di dalam teratai Dewi Kwan Im
Dewi tercantik yang memiliki banyak nyamuk di kakinya

aku ingin datang kepadamu seperti seekor nyamuk kecil yang tersesat
hinggap di telinga dan membisikkan
"aku rindu"

lalu kau bebas menamparku dengan kedua telapak tanganmu
menyisakan darah merah yang esok akan kau cuci, lalu luntur
aku meluntur


Jumat, 05 Juni 2015

i saw the brightest star tonight.
and it wasn't above.
it was there right before my eyes.
but it hid in the dark.

they--and i--brought the sky so much closer for the sake of the night.
that i could see those twinkling stars as clear as crystals.
but the star i sought wasn't one of them.
again, it hid in the dark.

like a shooting star, it passed in seconds.
i couldn't take the time to remember.
all is that it hid in the dark.
and is indeed unreachable.

to the tears that flow as the songs go,
N.

Minggu, 16 Maret 2014

Dulu ada

Saya pikir akan tiba masanya,
Dimana kita saling bertatap muka,
Namun semaksimal mungkin berusaha,
Untuk tidak bertemu mata.

Saya harap akan tiba waktunya,
Ketika kita tak perlu lagi bertanya-tanya,
Kemana perginya semua rasa,
Yang dulu sempat ada.

Dan saya yakin akan tiba saatnya,
Kembali tertawa menangis bersama,
Mengingat kembali semua,
Mengapa rasa itu dulu ada.

Jumat, 25 Oktober 2013

Hidup ini...

Hidup ini penuh rintangan
Kau bilang
Tak perlu tinggi berangan
Jadi tak perlu jatuh terbuang

Hidup ini penyiksaan
Kau bisikan
Biar tak usah tertekan
Mati kau jadikan pilihan

Hidup ini tak ada
Ku rasa
Hanya ilusi semata
Hingga tak perlu kau bicara

Senin, 14 Oktober 2013

Hilang dalam kelam

Rumput liar tinggi menjulang
Kerikil kecil diam-diam menusuk badan
Akulah si orang malang
Yang hanya bisa berangan-angan

Langit malam bahkan enggan
Kerlip bintang disapu kelam
Seakan aku yang hilang
Dan keberadaanku hanyalah mengganggu alam

Lembang, 5 Oktober 2013
PDS Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film UNPAD


puisi dadakan kelas sastra yang entah kenapa bisa menang.

Laut

Air tidak pernah takut
Seberapapun ia jauh dari laut
Terik matahari. Awan. Bebatuan. Juga hujan
Apapun itu selama ada jalan pulang

Lautan pun tak pernah ragu
Ia s'lalu setia dan menunggu
Dimana pun akhirnya itu
Ia percaya bahwa mereka satu

Kamu lah air itu
Dan aku lah lautanmu

Rabu, 15 Mei 2013

selamat datang

saya merpati yang berharap keluar dari sangkar.
saya melati yang ingin tumbuh sebesar mawar.
saya adalah saya,
dan pedih yang saya rasa adalah obat termanis yang pernah ada.

kamu adalah cerita, dongeng yang diharap nyata.
kamu adalah arca, ada namun tak bisa berbicara.
kamu adalah saya,
dan kenangan yang kamu punya adalah gula terpahit yang saya rasa.

hidup dalam dongeng yang tak biasa.
mati oleh makhluk yang tak nyata.
selamat datang,
di tempat tanpa "hidup bahagia selamanya".

saya putri yang terperangkap di menara.
kamu pangeran yang mati bahkan sebelum sempat menghirup udara.

kamu adalah saya.
saya adalah kamu.
dan obat termanis adalah kepedihan.
sedang gula terpahit adalah kenangan.

selamat datang,
juga selamat tinggal.


Selasa, 05 Maret 2013

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat.

Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar derap jantungmu"?
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.

Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenagan,
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.


Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

this part...

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa


Soe Hok Gie
Selasa, 11 November 1969

Senin, 18 Februari 2013

Kalau kita memang 2 tetes air, maka aku sudah terserap menuju inti bumi, sedang kamu sudah menguap karena terik matahari.

Sabtu, 08 September 2012

a piece of thought



lalu naskah mulai diketik. seandainya kalimat dapat melukiskan cerita dan kata bisa merefleksikan rasa dengan sempurna, maka tidak ada yang lebih indah dari kita. kita adalah partikel air yang terhuyung menuju air terjun, yang punya impian untuk jatuh bebas dan mencicipi bagaimana aroma kebebasan saat melayang di udara. yang menentang resiko terhempas terlalu jauh, yang kapan saja dapat menempel pada daun dan ranting, atau terserap dan menyatu dengan tanah, juga lenyap menjadi gas karna surya yang belum lelah bekerja. yang saling berjanji untuk kembali bertatap muka, di perbatasan antara sungai dan lautan, pada tempat sederhana yang ku sebut sebagai muara.

lalu bagaimana bila salah satu dari kita tak pernah menampakkan sosoknya? yang mungkin saja telah menyatu dengan tanah dan membuat sebuah kehidupan baru yang nantinya menjadi paru-paru dunia, atau menguap terbang menuju awan dan dijatuhkan entah dimana letaknya. haruskah kita menyesalinya? karna mengganti ketenangan aliran dengan jatuh bebas diantara sela bebatuan.

tidak perlu. 

bukankah setidaknya kita sudah sempat rasakan bagaimana aroma kebebasan saat melayang di udara? 

dan untuk semua yang telah ku rasa.
itu sudah lebih dari cukup.

Jumat, 29 April 2011

ungkapan terakhir

untuk seseorang yg kini tlah samar kuingat
yg bahkan tak dapat lg ku kenal
yg kini tak lg menganggap ku ada
yg berada jauh disana

kenanglah aku jika tak mungkin lagi kita bersatu
ingatlah aku bila tak ada lagi aku di hatimu
ijinkan aku memandangmu jika tak mungkin lagi kita bertemu
lupakan semua bila tak ada lagi asa di hatimu

rasa sesal mungkin tlah melekat di hati ini
membius di stiap kata dan tak mampu lg berbuat apa2
sudah terlalu sulit untuk dibayangkan jika kau akan kembali
meskipun itulah yang slalu ingin ku rasa

rindu ini terpaku janji yg sulit di ingkari
entah apa yg terjadi bila aku memohon harapan mu lg
namun tak dapat ku ungkiri aku masih merasakan hadirmu disini
walau aku tak sanggup ungkapkan meski untuk yg pertama kali

biarlah kenangan membius ku
hadirmu akan menjadi baris cerita dlm hidupku
walaupun aku harus melupakanmu
tapi di dasar hati ku masih terbingkai namamu