Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2016

Dongeng tentang Buku, Mimpi dan Waktu

Aku selalu bermimpi untuk jatuh cinta di perpustakaan semenjak umur 12-an. Namun seiring aku dan buku-buku itu bertambah tua, rasanya mimpiku tadi makin tenggelam, dan pada suatu hari yang sudah aku terka, akhirnya ia karam.

Sore tadi aku habiskan hampir satu jam di lorong buku-buku dongeng. Sekedar memilah-milah, inikah atau itukah. Ilustrasi-ilustrasi dan warna-warni sampulnya membuat aku sulit memutuskan buku mana yang harus aku bawa ke meja kasir, yang lalu akan kubungkus dengan kertas kado dan akhirnya kuberikan sebagai hadiah ulang tahun yang ke-20. Malam ini, pukul tujuh lewat tujuh belas, aku 20 tahun pas.

Sementara sore-sore yang lalu seorang teman bertanya, soal niatanku merayakan ulang tahun ke-20 sendirian di perpustakaan, dengan sebuah kado pemberian diri sendiri yang konyolnya adalah buku dongeng untuk anak ingusan. Sementara, menurut dia, aku bisa saja menghabiskan momentum sakral itu bersama teman-teman sebaya dengan hal-hal sesuai umur. Dan aku tahu pasti ketika ia bilang “sesuai umur”, perkataannya merujuk pada aktifitas di bar-bar malam, dengan sedikit minuman, sentuhan, juga goyangan. Aku tersenyum kecil menanggapi pertanyaan temanku itu, kubilang, “Aku tak pernah dibacakan dongeng sewaktu kecil.” Kami tidak pernah bicara lagi.

“Bah, mau berdoa dengan saya?”

Tanyaku mencuat di antara satu buah kue mangkuk berlilin kecil sebatang dan tumpukan buku-buku dengan kertas kekuningan. Jam dinding menunjukan pukul tujuh lewat lima belas. Dan Abah yang sengaja memakai kemeja rapih hari ini, tahu tentang aku yang resmi berkepala dua terhitung mulai dua menit lagi. Ia mundurkan kursinya lalu berdiri, berjalan pelan setengah pincang dan berhenti tepat dihadapanku dan lilin kecil yang menyala itu.

“Kenapa tidak, Yeng?”

Senyum Abah hangat sekali sampai rasanya gerimis yang sedari tadi mengetuk kaca-kaca jendela tetiba berhenti. Kerut yang seakan terpahat permanen di wajah umur 70-annya itu sama sekali tidak mengusikku. Aku selalu menikmati waktuku bertukar cerita dengan Abah. Seorang Rohman Supriyadi, yang hangat kusapa Abah, memang tidak pernah lulus sarjana, tapi karena hampir setengah hidupnya ia habiskan di perpustakaan, ia selalu punya sesuatu untuk dibahas, dan juga untuk ditertawakan.

Mata abah terpejam, khidmat melantun doa dalam hati yang tidak aku tahu apa isinya. Kedua mata itu lalu terbuka, dan

“Giliran Iyeng yang berdoa sendiri, Abah sudah berdoa yang terbaik buat Iyeng. Semoga cepat-cepat pergi dari tempat jelek ini dan mendapat kehidupan yang Iyeng pantas dapatkan, jangan sampai kayak Abah!”

Gelak tawa mengiringi kalimat Abah yang mungkin sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari itu. Gigi depannya yang hampir ompong semua membuat aku ikut tertawa kecil penuh suka dan pengertian. Abah adalah pustakawan abadi sekaligus pemilik perpustakaan kecil ini, sehingga mau tidak mau, Abah harus melihat wajahku setiap hari tanpa terkecuali. Senin hingga Jum’at pukul empat sampai lima sore. Sedang Sabtu Minggu pukul lima sore sampai sembilan malam—perpustakaan tutup saat maghrib tiba, namun aku diijinkan untuk tinggal lebih lama. Pernah suatu ketika aku absen seminggu dari perpustakaan karena harus dirawat di rumah sakit, belakangan ini aku baru tahu bahwa ketika itu Abah begitu cemas sampai menelpon pihak asrama tempat aku tinggal berulang kali. Nyatanya, Abah adalah figur Ayah yang tidak pernah aku miliki.

“Bagaimana kabar Ayah kamu, Yeng?”

Pertanyaan itu muncul di pukul tujuh lewat tujuh belas, pas setelah aku meniup lilin tanda setahun lagi waktu hidupku berkurang. Baru saja aku resmi keluar dari usia belasan dan pertanyaan pertama Abah padaku adalah tentang Ayah. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu semudah Abah menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang arloji dan biskuit mari, tapi sayang definisi kata “ayah” dalam semesta yang aku kenal hanya sekedar donatur penyambung hidup yang hampir tidak pernah aku temui wujud fisiknya.

“Ayah sehat, mungkin. Buktinya Ia belum pulang juga, kan, menulis lagi menulis lagi, katanya untuk majalah ini lah, koran itu lah, tabloid ini lah, buku itu lah. Saya capek perduli, Bah. Selama saya tidak harus menerima telepon duka dari seseorang di luar sana soal Ayah saya”.

“Bapaknya penulis, anak gadisnya kutu buku. Tidak ada yang aneh dari itu, Yeng. Toh semua orang tua punya cara mencintai yang berbeda-beda”.

Aku tidak mengerti kenapa Abah selalu punya hal baik untuk dikatakan di waktu paling buruk sekalipun. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bagian kecil dari hatiku menghangat, lalu merindu.

“Hey!”

Dengan sengaja Abah membuyarkan kerinduan yang tadi tengah aku hayati dalam-dalam. Seakan mengerti jika saja kerinduan yang aku pendam itu meluap, hal itu hanya akan menuai rasa sakit tanpa obat bila dibiarkan  berlarut-larut. Dan dengan santainya seperti tanpa beban, Abah membanting setir pembicaraan kami ke arah yang entah mengapa terasa lebih pahit dari rindu itu sendiri.

“Tahu tidak, Yeng? Waktu Abah masih sekolah SD dulu, guru Abah selalu nanya apa cita-cita Abah. Abah tidak bisa jawab. Abah bilang kalo mimpi Abah itu tidak muluk-muluk. Abah tidak mau jadi presiden apalagi astronot, Abah cuma mau membuat anak-anak sekolah nanti bisa baca buku tanpa harus membayar sepeserpun. Karena Abah merasa betul beratnya orang tua Abah membelikan buku untuk Abah sekolah”.

Aku terdiam sejenak, mencerna perkataan Abah yang tidak tahu harus ku maknai seperti apa. Dan sebelum otak ku selesai memproses kalimat-kalimat tadi, refleks lidahku bertanya balik,

“Apa untuk jatuh cinta di perpustakaan itu termasuk muluk-muluk, Bah?”

Tawa Abah lepas saat itu juga. Setelah lebih dari enam tahun memberiku kartu anggota perpustakaan, akhirnya Abah menemukan tujuan egoisku yang kalau dipikir-pikir memang teramat menggelikan.

“Kamu jelas salah tempat kalau ingin nyari jodoh di sini, Yeng. Jaman sekarang ini siapa lagi yang masih datang ke perpustakaan untuk duduk dan baca buku? Paling ya hanya kamu, dan Abah, dan si Fitria anak bungsu Pak Haji Makmur yang rumahnya persis di samping masjid itu”.

“Bukan begitu, Bah…”

“Abah sudah tua… Yeng,” 

Aku bisa dengar suara Abah bergetar, “...cuma kamu orang terdekat yang bisa Abah akui sebagai anak. Malam ini kamu bisa meniup lilin itu sama tak terduganya seperti besok pagi Abah tidak bangun dari tempat tidur.”

Mata Abah berkaca-kaca sembari ia membelai kecil rambut sebahuku. Aku tidak mengerti kenapa Abah mendadak berubah melankolis, sementara di hari-hari normal ia akan menyetel lagu-lagu Titiek Puspa dan ikut berjoged selama tidak ada orang yang kedapatan melihat.

“Abah kok begitu bicaranya? Kalau soal umur, manusia tahu apa, Bah. Nenek 112 tahun di Cina tidak menyangka kalau bakal hidup selama itu, sama seperti adik saya yang tidak menyangka kalau bakal mati 2 jam setelah dilahirkan”.

Garis bibir Abah tertarik sepersekian centi. Biasanya, di saat-saat seperti ini Abah akan melakukan serangan balik berupa lelucon yang hampir selalu menempatkan aku sebagai objek tertawaan. Dan benarlah.

“Maka dari itu, Yeng. Kamu cari pacar cepat-cepat, biar nanti tahun depan wisuda sudah punya gandengan untuk foto! Nanti Abah mau cuci fotonya satu yang besar, Abah pasang di ruang tamu”
Abah tertawa lagi. Lepas. Aku sekadar tersenyum. Kecut.

“Tanggalkan saja itu mimpi kamu buat jatuh cinta di perpustakaan, Yeng… Susah! Mau kamu jadi perawan tua? Ujung-ujung nanti malah menikahi buku-buku bau itu. Amit-amit, Iyeng!”

“Abah…” kali ini Pak Rohman mulai keterlaluan. Aku tidak pernah punya niatan untuk menikahi buku seberapapun aku cinta.  Tapi benar juga apa yang Abah coba sampaikan kepadaku. Tentang waktu.

Waktu membuat sesuatu tiada pada akhirnya. Seperti manusia yang mati, atau kertas yang perlahan sisa debu saking tuanya. Seperti waktu yang sudah mendoktrin semua orang agar menjauh dari lorong-lorong perpustakaan. Seperti waktu, yang aku.

Setelah Abah lelah menghujaniku dengan guyonan-guyonan pedih, ia menarik nafas dalam-dalam. Terlalu dalam sampai awalnya ku kira Abah akan menjungkang dari bangku yang ia duduki. Fokus mata Abah lalu tertuju pada bungkusan kecil di sudut meja yang sedari tadi belum aku sentuh. Sengaja tidak aku sentuh.

“Kenapa itu kado tidak dibuka, Yeng?”

“Ini kado harus Abah yang buka. Setuju?”

Aku tersenyum mantap. Giliran Abah mengerutkan kening.

Tapi tanpa diminta lagi Abah langsung menyambar bungkusan kado itu, membukanya dengan sekali robekan tanpa memikirkan tentang waktu yang aku habiskan untuk membungkusnya sedemikian rupawan.

“Anak Itik yang Buruk Rupa? Hans Christian Andersen? Kamu sehat, Yeng?”

Suara Abah cenderung bingung daripada menahan tawa. Aku tidak masalah dengan itu. Senyumku malah makin mantap, dan dengan suara yang sengaja kubuat terdengar sangat serius, akhirnya aku utarakan agenda terbesar malam istimewa ini pada Abah dan kumis berubannya itu.

“Abah tahu apa mimpi saya selain jatuh cinta di perpustakaan? Saya ingin sekali dibacakan Dongen, Bah. Sekali saja. Hitung-hitung membasuh luka tak pernah dibacakan dongeng oleh orang tua sewaktu kecil.”

Kening Abah perlahan mendatar seraya garis bibirnya terarik lebar.

“Dan saya ingin Abah, orang terdekat yang bisa saya anggap sebagai Ayah, yang membacakan dongeng itu spesial di ulang tahun saya ke dua puluh ini. Malam ini. Sekarang. Mau, kan, Bah?”

Garis bibir Abah yang makin melebar lalu robek dengan gigi ompong yang jelas terlihat meski lampu ruangan tidak terlalu terang.

“Kenapa tidak, Yeng?” Hangat. Seperti biasa.

Abah mulai bacakan kalimat demi kalimat, suara paraunya menghantarkanku pada lautan lepas yang tenang dan menenangkan. Hanya aku dan kemilau permukaan biru. Tak pernah aku merasa sebegitu aman.

Sekedar itu yang kuingat.

Embun pagi dari jendela yang terbuka menyadarkanku akan dua hal; Semalam, aku tak bisa berenang. Semalam, di atas gambar seekor anak itik yang tengah menangis, tangan Abah terhenti,

kaku seperti rak-rak kayu jati.

20/11/15

Kamis, 16 Juli 2015

Reinkarnasi Arbor

Kurang lebih sama seperti kemarin, kemarin lusa, dan ratusan hari sebelumnya. Kamu duduk di bangku cantikmu, sendiri dengan hanya ditemani secangkir teh yang ditaruh di sisi. Sementara aku berdiri tepat di tempatku, tidak berubah sama sekali, seperti kemarin, kemarin lusa, dan ribuan hari sebelumnya.

Bukankah suatu keajaiban kita bisa jalani satu hal yang sama setiap hari tanpa merasa bosan? Tanpa merasa lelah dan ingin pergi jauh-jauh. Hari demi hari, bulan demi bulan, sampai tahun berganti. Aku mendapatimu di sini dengan porsi yang sanggup aku tangkap, tidak lebih dan tidak kurang. Begitu juga caramu menikmati apa yang bisa aku beri. Sesuai porsi.

Aku rasa tidak sedikit yang percaya bahwa manusia selalu menginginkan lebih dari pada porsinya, apalagi tentang hal  yang tidak bisa mereka genggam. Tapi tidak, kamu beda cerita. Karena itu aku merasa bahwa kamu lah pasangan paling ideal yang pernah ada. Seperti aku, kamu hanya memberi dan menerima sesuai apa yang kamu bisa.

Kamu memang berbeda, aku percaya. Satu saraf istimewa tertanam dalam tubuh mu entah kenapa. Saraf itu membuatmu melihat lebih dekat, merasa lebih dalam, dan berpikir lebih panjang.  Tapi mereka bilang seharusnya kamu bisa melihat jauh bukan dekat, sedangkan merasa lebih dalam hanya akan menghanyutkan dan berpikir terlalu panjang hanya akan membingungkan.

Mereka lantas menyebutmu gila, dan menempatkanmu di sini bersamaku untuk waktu yang sangat lama.

Tapi nampaknya kita memang punya definisi berbeda tentang lama-tidaknya suatu masa. Belasan tahunmu terasa hanya belasan minggu, membuatku merasa bisa hidup selamanya untuk sekedar menemani setiap detikmu. Itu membuatku mengingat semua detail yang kemungkinan besar kamu lupa. Seperti saat pertama kali aku melihatmu duduk di kursi cantik itu, bersetelan rapih layaknya wanita muda kebanyakan meski kamu terlihat sedikit lebih rapuh dari dalam. Seperti ada secuil jiwa yang hilang dari tempatnya.

Beberapa hari kemudian aku melihatmu lagi di tempat yang sama, duduk cantik di kursi yang cantik pula. Hanya saja saat itu kamu terlihat sangat berbeda, tidak ada mantel bulu dan topi mahal seperti kali sebelumnya. Aku mendapatimu dengan hanya pakaian putih sederhana serta gelang tipis yang bertuliskan nomor dan nama. Sama seperti yang lainnya. Meski kamu telah jadi bagian baru dari ‘keluarga’, entah kenapa aku merasa secuil jiwa mu sudah kembali pada tempatnya.

Aku mendengar bisik orang di sekitar, bahwa kamu di sini karena cinta sudah mengecewakanmu untuk yang kesekian kalinya. Bahwa cinta telah membuatmu hidup di satu sisi dunia dimana hanya ada benci dan putus asa. Cinta membuatmu bertanya tentang siapa yang mencintai siapa, karena apa dan untuk apa. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu gila, membuatmu benci, membuatmu putus asa.

Aku akan duduk di sampingmu seandainya aku bisa. Mendatangimu ke sana, menggenggam tanganmu sambil berkata bahwa tidak masalah kamu ini siapa dan siapa yang kamu cinta. Karena pada akhirnya, di tempat ini kita akan selalu punya ‘siapa’ yang berbeda-beda, ‘siapa’ yang tidak sama.

Karena tidak ada lagi poin menjadi siapa ataupun siapa, kamu bebas menjadi apapun yang kamu suka. Entah itu manusia, burung dara, ataupun segelas manis es kelapa muda. Setidaknya itulah yang kita semua lakukan di tempat ini, menjadi apapun yang kita mau tanpa peduli apapun yang mereka kata.

Aku juga dengar bisik orang di sekitar, bahwa seiring tahun berganti, lukamu itu perlahan terobati. Namun bukan dengan cara yang mereka sudah rencanakan. Ironis karena semakin hari hatimu terobati, semakin juga mereka menganggapmu perlu diobati lagi dan lagi. Mereka bilang kamu sudah jatuh cinta pada sesuatu yang seharusnya tidak kamu cintai. Kamu sudah menaruh hati pada sebuah pohon muda yang tertanam dekat dari tempatmu biasa menghabiskan hari. Kamu semakin gila, kata mereka.

Nampaknya kamu sudah menentukan ‘siapa’ macam apa yang kamu suka. Kamu memilih untuk jadi seorang wanita yang punya konsistensi jatuh cinta pada sosok kayu berdaun di depannya. Sosok yang hanya diam, tidak bergerak apalagi berbicara. Kamu pantas berbahagia karena bagaimanapun, pertanyaan-pertanyaan yang menghantuimu sedikit-sedikit menemunkan jawaban. Siapa yang mencintai siapa, kamu yang mencintai ‘ia’.

Namun aku percaya saraf istimewa itu membuatmu mengerti arti semua meskipun ia tidak bersuara. Aku percaya kamu bisa menangkap segala isyarat yang terkirim lewat udara. Bahwa cintamu terbalaskan sudah, bahwa cintamu tidak pernah sia-sia. Tidak ada lagi penghianatan, benci, apalagi putus asa. Kamu pantas berbahagia.

Dan aku percaya cepat atau lambat kamu akan menemukan jawaban-jawaban lainnya. ‘Untuk dan karena apa kamu jatuh cinta?’. Hati kecilku yakin bahwa saraf istimewamu akan bisa melihat apa yang orang lain tidak. Orang lain melihat terlalu jauh sampai-sampai menganggap yang dekat tidak ada. Karena itulah kamu jatuh cinta, karena kamu hanya menghayati apa yang bisa kamu punya. Saat ini kamu punya sebuah pohon yang setia meneduhkanmu, yang setia menanakanmu oksigen setiap harinya tanpa ada libur kerja. Apalagi yang bisa kamu harap lebih baik dari itu?

Tapi memang mereka tidak bisa mengerti kamu, mereka hanya mau kamu kembali menjadi ‘siapa’ yang memakai mantel bulu dan topi mahal, yang terlihat sedikit rapuh dari dalam. Ketika kamu sudah menjadi ‘siapa’ yang mirip manekin itu, kamu akan menerima kartu bebasmu. Orang-orang akan mulai menerimamu lagi sebagai ‘siapa’ yang mereka mau, bukan ‘siapa’ yang kamu suka. Kamu akan keluar dari tembok beton dan pagar besi ini, karena mereka pikir bukan tempatmu lagi untuk dikelilingi jiwa-jiwa yang tengah terganggu ini.

Kamu akan jalani hari-harimu lagi, namun sudah tidak akan sama dengan kemarin, kemarin lusa, dan ratusan hari sebelumnya. Tidak ada lagi pakaian sederhana dan gelang nama, tidak ada kursi cantik dengan secangkir teh di sisi, tidak ada jatuh cinta dan tidak ada aku yang berdiri di tempat biasanya.

Aku akan tetap di sini ketika kamu sudah menjalani hari-hari lamamu lagi. Aku akan tetap mencintai sesuai apa yang bisa aku terima dan aku beri, tanpa peduli tentang ‘siapa’ yang mencintai ‘siapa’ karena itu tidak ada gunanya. Aku akan percaya bahwa nanti akan tiba suatu hari, di mana aku akan menemuimu lagi. Tidak di tempat ini, bukan seperti ini lagi.

Nanti, ketika mungkin saja kamu adalah bunga dan aku adalah kupu-kupu, kamu jadi secamangkuk kolak dan aku adalah sendokmu, atau bila kita beruntung, kita akan mendapati satu sama lain dalam bentuk yang sama. Entah itu manusia, burung dara, atau dua gelas manis es kelapa muda.

Tapi aku diajarkan untuk hidup di hari ini, bukan kemarin, bukan nanti-nanti. Hari ini, di mana aku dapati kamu duduk di bangku cantikmu, sendiri dengan hanya ditemani secangkir teh yang ditaruh di sisi. Seperti itulah bentuk sempura dari bahagia yang aku punya. Maka, biarkan aku kembali menghayati kamu sesuai porsi yang aku sanggup, sambil tetap menanakan oksigen untuk terus kamu hirup.

Aku mencintaimu dengan segenap akar, batang, ranting dan daun yang aku punya, sampai nanti reinkarnasi mengubah itu semua.

Untuk semua yang bertanya,
kenapa cinta itu buta.
14/8/2014

Obrolan tentang Takjil dan Pulang

Aku melihatmu di persimpangan jalan pagi tadi, di dekat pos polisi. Cantik, seperti biasa. Sempat-sempatnya kamu membantu seorang nenek tua menyebrang jalan. Memang jalanan lumayan ramai, mudik lebaran. Hatiku sepi sekali, aku tak punya rumah untuk pulang.

Tanpa maksud mendeklarasikan diri sebagai penguntit, kadang aku mengikuti langkahmu sampai ke depang gang, saking aku tak tahu harus melangkah kemana lagi. Seluruh sudut kota sudah ku jajahi. Dari awal setahuku semua gang disebut “Mawar”—seperti nama samaran korban pelecehan seksual—sampai sekarang aku hafal mati ada berapa gang tikus di sini dan kemana saja mereka bercabang. Aku tidak akan tersesat lagi. Nafasku sudah bersatu dengan nafas kota. Bersatu dengan asap knalpot bis Damri tua.

Karena itu kah aku memilih untuk tetap tinggal?

Jarum jam sudah hampir menampar angka lima. Hanya tinggal tiga-empat pedangan yang masih mengadu nasib di sepanjang jalan depan gerbang lusuh ini. Mereka bergantung pada orang-orang semacam aku. Orang-orang yang hilang. Orang-orang yang bertahan tanpa alasan. Aku sudah menghabiskan hampir setengah jam untuk duduk di bangku panjang ini, sambil fokus berpikir; es pisang hijau, bubur sumsum, kolak, es buah, ataukah sekedar es teh melati dari kios kopi rasa-rasa milik mas-mas seram bertindik itu?

Es pisang hijau sudah jadi takjil abadiku semenjak dua minggu yang lalu, kalau sampai hari ini aku memilihnya lagi, lidahku pasti sudah bosan sebosan si Bapak penjualnya melihat wajahku setiap sore. Tapi aku sedang tidak ingin bubur sumsum atau kolak. Aku benci es buah dan aku malas melihat wajah penuh tindik yang menyebalkan itu.

Mungkin aku harus menunggu setengah jam lagi duduk di sini, di bangku panjang ini. Barangkali tiba-tiba kamu muncul dari balik gerbang-gerbang itu, sama-sama bingung memilih manis macam mana yang mau kamu nikmati maghrib ini. Atau barangkali akan ada seorang dermawan yang tiba-tiba datang membagikan kotak bukaan, sehingga aku tidak perlu memilih lagi. Aku benci sekali pilihan.

Kaki ku pegal terlalu lama diam. Aku bangkit dan mulai berjalan meski kantor pusat di atas sana belum memutuskan ingin membeli apa. Diam. Mengamati sekitar. Sepi sekali sudah. Aku ingat betul awal-awal bulan ini dimulai; tempat ini seperti pasar siluman. Pasar yang tiba-tiba sesak dalam hitungan detik, membuat orang sulit bergerak, sulit bernapas. Sekarang hanya tinggal napas berat para penjual melihat dagangannya belum juga laku meski hari semakin gelap.

Ibu-ibu bercelemek tiba-tiba duduk di sampingku. Sambil sibuk mengelap tangannya yang penuh minyak gorengan dengan serbet robek-robek seperti milikku di kostan. Nadanya hangat sekali bertanya.

Naha teu acan mudik, sep?”
“Enggak, Bu. Kayaknya saya di sini aja lebarannya. Ibu mudik?”
“Ibu mah asli sini, makanya sampe sekarang masih jualan juga. Yang lain mah udah pada balik, udah pada mudik. Mahasiswa juga udah pada mudik, sepi kieu. Gorengan Ibu belum habis-habis ini teh. Karunya si ade teu acan dipangmeulikeun acuk anyar keur solat Ied

Aku terdiam sejenak. Ibu-ibu pedagang yang bahkan belum pernah kubeli gorengannya ini tiba-tiba mencurahkan keresahannya akan baju lebaran anak, sedang aku bahkan tidak bisa menyebutkan satu dua kata perihal keresahanku akan rumah pada sahabat yang kukenal sejak masa rambutku botak sampai sekarang gondrong sebahu. Mungkin memang seperti itu, lebih sederhana hidup sebagai Ibu-ibu penjual gorengan ketimbang jadi sosok seperti aku.

“Gorengannya satunya berapa, Bu?”

Ku akhiri pembicaraan itu dengan mengeluarkan uang lima ribu dari dompet. Hitung-hitung untuk bantu dana baju lebaran anak. Tempe goreng dan tahu isi? Aku alergi kedelai.

Aku kembali duduk di bangku panjang tadi, masih berpikir andai saja bisa bertukar tempat dengan si  Ibu penjual gorengan. Aku rela setiap hari berhadapan dengan katel besar penuh minyak panas, menggoreng tempe dan tahu, pisang dan sukun juga kalau perlu. Sekali dua kali terciprat minyak, toh nantinya juga akan kebal, akan terbiasa. Seperti aku terbiasa dengan kota ini. Dengan panas, terik, asap, dan sepi. Aku terbiasa akan sepi.

Sudah hampir setengah enam. Aku cuma punya dua tempe goreng dan tiga tahu isi di genggaman; yang aku beli tanpa pilihan. Teknisnya aku belum memilih apa-apa. Kantor di atas sana masih sibuk menentukan. Aku coba buka kresek hitam gorengan itu, aku lihat lagi bentuk-bentuknya, aku hayati remah-remah tepungnya.

Setelah aku lempar lagi pandangan ke arah depan, sudut mataku menagkap bentuk baru—yang bukan tempe goreng dan tahu isi. Kamu. Bahu kita terpaut tepat lima jengkal.

Tahukah kamu bahwa ini adalah jarak terdekat kita? Lima jengkal. Tidak lebih. Aku bisa saja rebah ke arahmu dan tidur dipangkuan itu kalau saja aku mau. Tapi entah, mungkin lebih baik aku tanyakan dulu siapa namamu. Tapi entah juga, mungkin lebih baik langsung aku curahkan saja segala yang ada di pikiranku sekarang. Tentang gorengan. Tentang es pisang hijau. Tentang teh melati. Dan tentang pulang ke rumah.

“Saya sering sekali melihat kamu di sekitar sini. Kenapa belum mudik?”

Kamu tidak merespon. Matamu tetap mengamati benda-benda bergerak di hadapan. Maka aku gerakan juga tanganku supaya kamu sadar, setengah melambai. Kamu menoleh, akhirnya. Tersenyum kecil. Manis. Manis sekali. Lalu membuang muka. Seperti itu. Senyummu tinggal kenangan.

Aku bertekad untuk tetap melanjutkan apapun itu yang ingin aku ceritakan padamu. Tidak peduli bagaimana kamu merespon. Diam kah. Tertawa kah. Menangis kah. Atau pergi menjauh sekalipun. Tidak bisa kubendung lagi. Aku harus mencurahkan resah ini pada satu manusia. Kamu.

“Saya tidak mudik lebaran kali ini. Bapak menyuruh pulang. Ibu juga. Tapi dua-duanya minta saya untuk pulang ke rumah yang berbeda. Sementara saya sendiri merasa tidak punya rumah. Saya harus apa?”

Aku menelan ludah.

“Kamu pasti orang sini ya? Tidak mudik. Kadang saya iri dengan pribumi, saya perantau bisa apa. Hanya menumpang. Kalo hari besar seperti ini, yang menumpang biasanya diharapkan untuk balik ke asalnya masing-masing. Kalau saya tidak mau, bagaimana? Lagi pula saya ingin tahu bagaimana rasanya lebaran di sini. Saya penasaran mesjid dan lapangan mana saja yang akan dipakai untuk solat Ied nanti. Kamu tahu? Tidak ya? Hehe. Memangnya apa juga esensi dari mudik itu sendiri? Supaya bisa berkumpul dengan sanak saudara? Itu saja? Toh bisa juga bertemu di luar euphoria lebaran. Saya belum mengerti sampai sekarang.”

Kamu masih diam. Kakimu menggantung dan kamu ayun-ayunkan. Tampak sedang menunggu sesuatu.

“Saya sudah biasa seperti ini. Dari dulu, ditemani sepi. Sudah bersahabat dekat bahkan semenjak saya, Bapak, Ibu dan Adik masih satu atap. Sekarang saya lebih suka di sini. Sudah nyaman. Sudah kenal dengan kuncen-kuncen tiap sudutnya. Kadang juga saya tidur siang di rumput arboretum, kalau sedang suntuk-suntuknya masalah kuliah. Dari pada tidur di kamar kostan, kalau saya tiba-tiba mati, kasian tetangga nanti kebauan.”

Kamu tiba-tiba mendongak sedikit, lalu melambai. Seseorang dari seberang jalan berlari menghampirimu. Ia memelukmu. Erat. Erat sekali. Lima jengkal dari tubuhku. Kalian terlihat seperti teman lama yang akhirnya bertemu kembali. Aku memang tidak yakin seberapa lama, tapi aku cukup yakin bahwa ia jauh lebih mengenalmu, ketika ia mulai menggerakaan tangannya begini begitu.

Kamu tuna rungu.

Enam jengkal. Tujuh jengkal. Delapan jengkal. Sembilan jengkal. Sampai kalian menghilang di balik gerbang. Lalu tinggal aku sendiri.  Seperti biasa. Sepi.

 “Sebenarnya, saya ingin sekali pulang” cuma angin yang mendengar.

Adzan akhirnya berkumandang. Para penjual takjil sudah dorong gerobak, pulang. Mungkin bersiap untuk takbiran.

Stok CTM-ku sudah habis di kostan.


Perantau kecil yang tidak tahu harus pulang kemana,
N


Wonosobo, 16/7/15

Sabtu, 25 April 2015

Southern Cross of a Dying Rose

My story starts with a gleam of light, and somewhere in time will end also with it. The beauty of the thing that has been taken away since the very beginning, for I was born in one dark October, finally reaches upon my eyes in this exact ticking time. Enlighten the space of my shadowy gasping breath; my brand new flashlight. The different particle of a shining thing gives a touch of strangeness to my whole senses. My eyes catch a different shade, my nose even senses a different scent. Every single inch of fabrics in the rack seems to have its own nameable spectrum, and every single page of my books looks like offering a new unreadable narrative. And as the oddness is fused with the oxygen I consume, the fear of something huge that is going to happen today crawls out from the dark hole in my deepest heart. It’s May the forth, and here I am, Rouse, first name Evalindya, sitting tight in silence among the floral skirts, the long-sleeved shirts and the furry coats, wondering about how could two or three or four and more share an unbreakable bond. 
It feels like I might gaze out the window asking for one acceptable answer to the stars, but sadly there’s none near, for I am breathing air out of a closet. Here, it’s only a rack of fabrics, a pile of books, and an enormous mound of disappointment. Is it about the idea? The bond. Or something less abstract like the red sherry which streams through the tiny pipes under our tearable skin? Pipes do break. And the mystery of the bond persistent still remains like a locked Pandora box. Since there’s no soul to share thoughts with, I’ve always been the luckiest girl on earth for having Veronika right by my side. Veronika is fictional, but it’s not a big deal, since we’re all living a fictional version of our life, aren’t we? I asked for her opinion once, she never answered. I believe we share the same ignorance.
I met her a couple weeks ago in one bookstore in town. I couldn’t see her face—she appeared as a silhouette of a young woman, walking through the snow all by herself, surrounded by the shadow of high trees and the dark blue sky—but I knew she was beautiful all wrapped in blue. Dark blue. I felt like I could relate to whatever the thing she’s been through, even though my heart was just 250 grams of tears and silence, I totally did. She plays piano, and I enjoy music. Aren’t we one perfect combination, though we don’t share the same blood and breast milk once we’re younger?
But today, I can hardly hear her play. It isn’t because of the loud melody which streams down my earphones. She just simply doesn’t feel like playing her white piano keys for now. And no matter how deafening my music is, I can still receive the sound of some termites chewing the walls, the sound of something I cannot describe inside my flashlight, and the sound of bumping and crashing things from somewhere inside the house—probably from the living room where Carson likes to bring in his tricycle and Mom will grumble over it like all day.
I remember one of the stories Veronika told me the other day. It was about one honorable King, one loving Queen, and one vicious Witch in a joyful kingdom. One day, the witch poisoned the kingdom well with madness, and everybody in the kingdom was gone mad, except the King and the Queen. The kingdom turned into a mess; chaos happened all over the place.  The King was no longer capable of holding his throne, and then, the loving Queen said that it’d be best if they drink the water from Well of Madness just like everybody else. They finally drank it and turned as mad as the people they led, and The King continued to hold his kingdom in ‘peace’ until his very last breath. The story makes me think, what is madness? Isn’t it all about one’s perspective? I can be mad, as well as you, Veronika, The King, The Queen and everybody else. So when one tries to cut their arm, which I’ve done once, you don’t give them medicines and psychiatrist’s appointments. Because when you do, that one person is going to do the same thing over and over again until they actually dies, and when they dies, it’s their blood on your hands. I shared the thought with Veronika, we both totally agreed on this thing she also can relate to, because she once swallowed a handful of sleeping pills, and hoped for never being awakened no more. She lost it, everybody lost it. 
But I’m glad that she survived through the times. She is a warrior, a brave one. I miss her play. This one song that is played in my earphones for like a thousand times in a row starts to bother me. Not because of the depressing lyrics and melody, but for it cannot hide the sound of the outside world, no matter how often I press the volume button. I still can hear the termites. I still can hear Carson shouting from downstairs. Is it my earphones? Or is it me that slowly turn into Roderick Usher? Roderick Usher hears things that shouldn’t be heard. He is capable of catching every single sound in his huge mansion, for he is on the edge of his sanity. His brain boils. And he is dead. Am I insane? Am I going to die?
It is funny to think that this song might be literally my ‘Last Flowers’, which brings me to my grave, my eternal bed, my gate to the afterlife that I don’t really know about. Nobody knows about the afterlife. If somebody claims that they know about it, either they’re lying or they’re losing their mind. I am losing my mind, because as the sound of the ticking clock repeats itself, the sound from downstairs becomes louder and louder and louder. It feels like my brain is boiling because of it. I can hear the burst of laughter from Carson’s tiny mouth that somehow I begin to hate. I can hear Mom’s clapping hands and Dad’s flattering lines. A wonderful family, isn’t it?
Frederick Anderson Rouse, 52, a father of two, a husband of one. A former marine who loves to sit in the porch, and wave hand to the neighbor who passes by. He used to take me to the Edy’s once in a month when I was still 11. He would kiss me good night, and make me pancakes when I woke up. He loved to play with my tangled hair, and said that little girls were not supposed to have one like Barbie had. “Little girls should play with flowers in an open garden; they don’t need hours in saloons.”
 Halley Cordelia Rouse, 44, a mother of two, a wife of one. A beautiful woman who dedicated all her life in being a florist, who ended up marrying a man whose last name was pronounced like the flower Rose. She fell for it from the very first time she heard it. It was her that always had something nice to say. It was her smile that could lighten up one dark room better than my new flashlight would ever do. It was her, and always gonna be her.
Carson Alexander Rouse, 5, a long-desired son and brother, who gave the family a reason to keep smiling and living gratefully as he grew taller and bigger.  
Evalindya Wren Rouse, 19. I cannot remember.
All I can think about is why I can feel the sea breeze in my skin all of sudden. Why can I see the twinkling stars, as if it is a transparent ceiling above my head? The sound of the waves and the singing of the ocean, they’re calling me in whispers. I really want to go, I do, but I need Veronika to come along with me. And she definitely cannot, for she lives in Villete, a mental care facility somewhere in Slovenia.
The sound of the waves breaking on reef slowly transforms to a roaring thunder, and the scent of the sea slightly turns to some dead flowers in my old garden. It makes me think, is it Carson’s laugh I’ve been hearing for the past hours, or is it his scream that makes my ears nearly bleed and my brain practically boils.  Is it the tricycle that bumps all over the furniture, or is it the appliances that have gone berserk and scattered all over the floor. I don’t know. Stars have left; it’s all dark low ceiling hanging above me.
Louder, louder, and louder. It haunts me like a ghost of a Christmas past. I’ve tried to seal my eyes, hoping that the sound will disappear because it is all only in my mind. I am going insane. I am Roderick Usher. But then there’s this one sound which every man can hear, yet none can bear. A broken glass. One earsplitting broken glass. My heart seems like stop beating. It’s horrifying. But it isn’t about the sound of the broken glass; it is about the following perfect silence. As if the world suddenly goes away and I am nothing but a stringless kite flying over an empty space.
I sense loneliness. ‘Cause even the stars appear as unrecognizable faces of people I’ve never met before. They’re trying to expel me from where I belong, this place, my undoubtedly beautiful land of closet. They say that I need to see what is going on there, downstairs. What is happening downstairs? And why is it a thundering heartbeat restarts playing inside my chest? I am terrified. No matter the voices inside my head tell me to walk toward the truth, I cannot move a single muscle. I am not the controller of my body anymore. And I can see Veronika’s eyes begging me to stay on my seat that she needs accompany, she needs me. But who is Veronika? I cannot even recall her last name, or her hair color, or the way she speaks to me.
I am lost.
All I can recall is that my name is Evalindya Wren Rouse, “Rouse” like the thorny flower “Rose”. I remember when I was 8, sitting in the backseat heading to the hospital for a desired birth, and then heading back home by a big black car, with a little black coffin inside. I remember what Mom said in her sobbing voice, that the tiny lifeless creature was supposed to be named Carson. Carson Alexander Rouse. I can still picture Mom’s motionless body on the floor, and Dad’s alcoholic breath filling the air. All the bruised cheeks and bleeding lips. I also remember that Dad stopped talking to me since I was 9, and Mom stopped growing roses at the same time. And whenever both started throwing and breaking things, I remember hugging my knees to my chest in the silence, in the dark, among the floral skirts, the long-sleeved shirts and the furry coats, far away from the confusing earth. 
But now, I need the shouting, the yelling, the cursing, and the breaking things. It is too much silence that I cannot deal with anymore. I don’t want to be left alone. Nobody wants to.
The scars on my arms are smiling to me, offering a hug of a long lost friend, and a way to escape all the fear of breathing air. The amount of temptation is so great that it is blowing my mind just like how the wind blows dandelions. But then the sea breeze comes back and I can feel the wave dancing under my deck. I am alone, but I am no longer lost, for I can see The Crux hanging there brightly, and the light confounds me.      
The Southern Cross then alters itself into a gleam of light, shaping a body of a 5 years old child, who breaks the border of my land of shyness, and my world of gore; he opens the closet door. Like the other stars, he appears in the face of a person that I have never met before. His smile is so much brighter than my new flashlight, and even brighter than the biggest bonfire. He lends a hand, and says “We’re holding a dinner party out among the roses, you should come ‘cause there will be cakes and juices.” And as my fingers sail to his palm of fair, the unbreakable bond is created out of the thin air. It’s May the forth, and here I am, Rouse, first name Evalindya, walking outside with an exceptional guest for The Southern Cross shines at its best.   


PS. Tulisan ini tugas mata kuliah Creative Writing. Maaf kalau masih terasa kaku sekali, baru 
kali ini saya berani menulis prosa pendek dalam bahasa Inggris.


References: 
(n.d.). Retrieved from http://www.huffingtonpost.com/2012/07/05/chicagos-best-ice-cream-l_n_1652523.html
(n.d.). Retrieved from http://www.gdi-solutions.com/areas/maps/region/maps_us_il_chicago_metro.htm
(n.d.). Retrieved from http://en.wikipedia.org/wiki/Crux
Coelho, P. (2000). Veronika Decides to Die. New York: Harper.
Jackson, P. (Director). (2009). The Lovely Bones [Motion Picture].
Radiohead (Performer). Last Flowers.
Lestari, D. (2011). Madre. Yogyakarta: Penerbit Bentang.
Poe, E. A. (n.d.). Retrieved from http://www.ibiblio.org/ebooks/Poe/Usher.pdf
Coil, T. M. (Performer). Song to The Siren. 

Jumat, 26 Desember 2014

Nahkoda, Jangkar dan Dermaga

             Pernah aku membaca kisah tentang kutukan Narcissus yang mati akibat jatuh cinta pada diri sendiri, dulu sekali. Menemukan refleksi diri pada permukaan kolam, berusaha menggapai apa yang dicinta namun berakhir tenggelam. Genangan kopi dalam cangkirmu mengingatkanku akan kisah itu, dan menghabiskan waktu pagi bersamamu disini membuat aku berpikir ulang; Narcissus mungkin saja memang salah karena jatuh cinta pada sosok yang tidak lain adalah dirinya sendiri, namun andai kata ada seseorang yang jatuh cinta, bukan pada dirinya sendiri tapi bukan juga pada orang lain yang pantasnya ia cintai.
Apakah seseorang itu patut disalahkan atas jatuh cinta ke orang yang salah?
Aku memutar otak untuk sekedar mencari tahu apa sajakah jawaban-jawaban yang mungkin masuk di akal, dan jujur saja rasanya begitu tidak menyenangkan. Aku lebih memilih bernasib sial seperti Narcissus ketimbang membakar pikiran dengan pertanyaan tadi, aku akan lebih memilih tenggelam dalam kopimu yang menggenang sampai mati.
Kamu bertanggung jawab atas penderitaan kecilku ini. Atas mengapa kamu mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan aneh sepeninggal laki-laki yang kamu temui pagi ini, laki-laki yang dengan segala kemisteriusannya menyapamu dari kejauhan, mendatangimu sampai ke meja dan berbicara denganmu hampir setengah jam lamanya.
Diantara potongan-potongan pai kecil kesukaanku dan secangkir kopi hangat favoritmu, pertanyaan-pertanyaan itu mulai menguak ke permukaan. Dimana kata-kata nahkoda, jangkar dan dermaga terdengar berulang-ulang, sampai kuping ini bosan rasanya mendengar. Pertanyaan-pertanyaan mu sungguh menyita perhatian, aku bisa saja berkhayal bahwa tempat ini adalah dermaga yang penuh dengan kapal-kapal, sehingga pertanyaan-pertanyaanmu terdengar sedikit lebih masuk akal. Tapi tidak, aku tidak bisa. Dermaga tidak punya meja cantik seperti ini. Dermaga tidak punya ornament dinding yang penuh ukiran-ukiran kecil. Dermaga tidak punya lampu hias, tidak punya gelas-gelas, dan pastinya tidak menyajikan menu sarapan pas. Ini adalah sebuah kedai pai kecil, yang letaknya hampir di tengah kota dan termakan gedung-gedung pencakar langit kokoh dengan segala kemoderenannya, jauh dari besi-besi karatan tempat kapal biasa bersandar. Tempat dimana pertanyaan-pertanyaanmu itu jelas mengusik perhatian.
Kamu tahu apa yang dilakukan kapal saat berlabuh di dermaga?
Itu pertanyaan pertamamu. Seandainya saja kamu sadar betapa konyolnya pertanyaan itu terdengar. Selain karena kalimat itu tidak wajar ditanyakan di tengah-tengah sarapan, siapa yang peduli dengan kapal yang berlabuh? Kecuali mereka orang-orang yang punya kepentingan dengan berlabuhnya kapal. Tapi aku bukan seorang turis penumpang, aku bukan seorang kuli angkat barang, dan pastinya aku bukan anak buah kapal. Aku tidak punya sedikitpun alasan untuk menerima pertanyaan konyolmu itu. Namun dengan segala hormat yang tersisa, aku memutuskan untuk menjawabmu. “Menurunkan jangkar”. Jawaban yang sangat singkat apabila dibandingkan dengan untaian kata yang berputar di kepalaku. Untaian kata yang lebih mirip roll film super panjang yang terus berputar, membosankan sekaligus memancing penasaran.
Lucu bagaimana rasa penasaranku mulai bertanya-tanya siapakah laki-laki yang berbicara padamu tadi. Karena intuisi yang aku punya mulai berkata bahwa dia lah seseorang yang patut aku salahkan atas penderitaan kecilku ini. Mungkin terlalu berlebihan bila kukatakan kamu tidak lagi ada disini. Bahwa laki-laki tadi sudah pergi membawa tiga per empat dirimu dan hanya menyisakan satu per empat untuk duduk disini bersamaku, meminum secangkir kopi sambil bertanya tentang hal-hal yang nampaknya tidak butuh jawaban sama sekali.
Pikiran tentang siapa laki-laki itu terus mengganggu pikiranku. Terbayang lagi badan tingginya, kemeja birunya, aroma musk semerbaknya, dan tangannya yang mendarat di bahu kursimu. Aku sadar aku merasa bersyukur karena meja ini memang didesain khusus untuk dua orang. Sehingga memaksa ia tetap berdiri disana selama ia berbicara denganmu. Tidak ikut duduk disini bersamamu, ikut duduk di sini bersamaku.
Rasanya percuma aku ingat-ingat lagi detail pembicaraan kalian, tidak ada satupun yang aku mengerti karena nampaknya itu hanya membicarakan tentang hal terjadi jauh di masa lalu, sedang aku baru mengenalmu tidak lebih dari 4 tahun kebelakang. Satu-satunya yang bisa aku tangkap dari setengah jam pembicaraan kalian hanyalah bau kecanggungan, semerbak memenuhi ruangan seperti membuka rice cooker berisi nasi basi tiga hari. Kecanggungan yang terlalu kental membuat aku percaya, mungkin saja ia seseorang yang dulu pernah membawakanmu bunga, membelikanmu cincin, atau mengundangmu makan malam bersama ayah-bundanya.
Kamu tahu apa guna jangkar itu?
Lanjutan tanyamu. Yang membuat aku yakin kamu tidak puas atas jawaban terakhirku meski kamu tersenyum manis untuk itu. Kamu tidak akan mengerti perasaanku hari ini, Tuhan punya rencana yang terlalu aneh karena membuat aksiku menelponmu pagi buta mengajak sarapan bersama berujung dengan kelas khursus dasar perkapalan yang malah sedikit berbau filosofis di setiap katanya. Jelas kubilang filosofis, karena dari caramu berkata aku tidak yakin maksudmu sama.
Aku sengaja membuat jeda dalam pembicaraan ini. Melirik kanan-kiri mencari keberadaan pelayan kedai lalu memanggilnya untuk sebuah pesanan ekstra. Secangkir kopi hangat, persis seperti apa yang tengah kamu nikmati saat ini. Nafasku mendadak berat, berharap kamu tangkap pesan yang sangat ingin aku sampaikan; kopi membantuku lepas dari ketegangan.   
Suaramu mulai terdengar lagi setelah pelayan kedai pergi, tidak terkesan kesal meski aku baru saja mengabaikan pertanyaan konyolmu tentang jangkar tadi. Bukankah semua orang harusnya tahu jangkar berfungsi sebagai pemberat? Supaya kapal tetap diam pada tempatnya. Aku mulai berpikir bahwa kamu tengah mempermainkanku, menganggapku tidak cukup berpengetahuan untuk mengerti akan hal semacam itu. Dan akhirnya, aku yang tetap diam penuh kesengajaan membuatmu berusaha menjawab pertanyaanmu sendiri—yang membuatmu terlihat bahkan lebih konyol lagi.
 Ketika sebuah kapal memutuskan untuk berlabuh. Ia akan menjatuhkan jangkar. Jangkar membuat kapal tetap berada di tempatnya. Bisa dibilang, jangkar adalah penahan dan pengikat. Aku pikir seorang nahkoda tidak akan sembarangan menjatuhkan jangkar. Ia tahu betul kenapa dan kapan jangkar itu harus diturunkan.
Begitu kira-kira jelasmu, aku tidak hafal betul tiap katanya karena kalimatmu yang patah-patah. Meskipun kamu dengan mantap mengatakannya, aku cukup bisa melihat apa yang ada di balik itu semua; gadis gagap yang tengah berusaha mendeskripsikan fakta bahwa alien itu nyata. Begitu kira-kira.
Aku memutuskan untuk mengikuti permainan kecilmu, karena aku tahu tidak ikut andil di dalamnya hanya akan memperburuk keadaan. Aku bertanya bagaimana jadinya bila kapal harus pergi. Tidak peduli betapa bodohnya pertanyaan itu terdengar, kamu malah tersenyum dan mulai menjawabnya dengan penuh antusias.
Jangkar akan ditarik kembali. Tapi jangkar itu bukan benda yang terbuat dari gabus kardus teve, dan tidak bisa ditarik secepat kamu membalikan telapak tangan apalagi mengedipkan mata. Butuh waktu.
Suaramu jelas terdengar lebih yakin kali ini. Berbeda dengan sebelumnya yang terdengar begitu tidak benar dan mencurigakan. Jadi kuputuskan untuk lanjut bertanya, pertanyaan yang tak kalah bodohnya; bila kapalnya tidak punya cukup waktu, bagaimana?
Aku sedikit terkejut dengan tanggapanmu atas pertanyaan itu. Bukan masalah apa yang kamu ucapkan, melainkan bagaimana caramu mengucapkannya. Emosi dalam penyampaianmu, benar-benar di angka nol. Nol berarti tanpa emosi, dan tanpa emosi membuatmu terdengar seperti orang yang tidak mau hidup tapi tidak bisa mati. Begitu menyeramkan sekaligus menggiurkan di waktu yang sama. Seandainya aku bisa merekam momen itu, dimana kamu berkata dengan penuh kekosongan rasa;
Nahkoda akan melepas jangkarnya. Begitu saja. Ditinggalkan.
Aku terdiam beberapa saat. Sementara kamu meneguk lagi kopimu yang sudah tidak terlalu hangat. Bagaimana kamu mendadak berubah dingin, seperti es krim dalam kulkas di sudut ruangan, yang sudah membeku entah untuk waktu berapa lama. Kopi hangat tidak bisa mencairkanmu, sama halnya seperti aku yang juga terpaku di sini, tidak bisa berkata apalagi berbuat sesuatu, untuk menghangatkan beku-mu.
Sementara kamu menyeruput lagi cangkir kopimu, aku mengutuk siapapun itu laki-laki yang sudah membawa tiga per empat jiwamu pergi, dan membuat satu per empat sisanya beku seperti es batu disini. Melihatmu yang sudah mirip manusia purba dalam bongkahan es, bawah sadarku terpacu untuk meraih jemarimu di sudut lain meja. Secepat itu pula kamu tiba-tiba tersedak parah dan menarik tanganmu untuk segera ditempatkan tepat membekap mulut. Jelas kedinginan akut.
Siapapun laki-laki itu, tidak diragukan lagi, ia bertanggung jawab atas semua ini. Atas menculik tiga per empat jiwamu ketika aku butuh sepenuhnya untuk merayakan sebuah hari bahagia.
Selamat Ulang Tahun, Meira.
Tidakkah kamu ingat itu? Bukankah aku sudah menandai kalendermu? Bagaimana bisa kamu tidak ingat tentang hari ini, hari dimana tepat 24 tahun lalu kamu mulai bernafas dari hidungmu sendiri, dimana kamu menangis untuk yang pertama kali, dan dimana kamu juga melupakan semua hal yang sudah pernah kamu tanda tangani.
Ya, aku pernah membaca sebuah buku dulu sekali, jauh sebelum aku membaca tentang Narcissus kita yang patut dikasihani. Buku itu membuat  aku percaya bahwa sebelum roh dihembuskan ke sebuah janin di perut seorang ibu, roh itu sudah menandatangani sebuah kontrak hidup. Dimana semua sudah tertulis dan tidak bisa diganggu-gugat lagi. Namun ketika bayi yang sudah di-roh-i itu terlahir ke dunia, ia lupa. Ia lupa tentang semua poin kontrak yang sudah ia baca dan ia tanda tangani itu. Sehingga ketika ia tumbuh dan beranjak dewasa, ia akan sering mengartikan suatu hal sebagai sebuah kebetulan. Padahal kebetulan yang ia maksud sudah pernah ia baca dan setujui sebelumnya, lama sebelum ia mengenal a b c d itu apa. Tapi tentu saja, ia lupa.
Kamu lupa hari ini, Meira. Tapi aku yakin kamu tidak melupakan laki-laki tadi. Kamu tidak melupakan hari dimana mungkin saja ia membawakanmu bunga, membelikanmu cincin, atau mengundangmu makan malam bersama ayah-bundanya. Tidak seperti aku yang lupa, bahwa dulu aku sudah menandatangani kontrak dimana aku harus bertanya-tanya, siapakah laki-laki itu dan mengapa bisa ia merenggut kamu yang aku tahu.
Aku tahu benar kamu memang masih disini, masih berusaha menghabiskan secangkir kopi yang pasti mulai terasa pahit berlebihan dan tidak karuan, sepahit pembicaraan kita pagi ini, sepahit bola mata yang lebih sering kamu pejamkan sejak bertemu laki-laki tadi. Tapi aku juga tahu bahwa tiga per empat jiwa mu itu masih mengambang tinggi, dan jelas bukan di langit-langit kedai ini. Meski aku bisa melihatmu tepat di hadapanku, meski kenyataannya tubuh kita hanya berjarak hitungan jengkal. Entah kenapa rasanya sulit sekali kamu untuk ditemui.
Seakan aku berada di kejauhan, mengamatimu dari ketinggian mercusuar. Kamu nampak dibalut gaun selutut, berdiri di tepi dermaga dengan topi yang berusaha kamu jaga dari hembusan angin laut. Menunggu, ataukah mengantar sesuatu, aku tidak tahu. Kamu hanya berdiri diam disana. Tanpa tas atau barang bawaan, sehingga aku tahu pergi bukanlah niatanmu. Mungkin kamu menunggu seseorang kembali pulang, menunggu berlabuhnya kapal.
Sementara kamu berdiri diam disana, aku berpikir tidakkah lucu bagaimana aku bisa duduk disini, bersamamu, dengan lutut kita yang nyaris bersentuhan, mendengarkan pertanyaan dan jawaban tentang nahkoda, jangkar juga dermaga. Aku tidak akan menutup mata dan berkata bahwa kejadian hari ini adalah sebuah kebetulan. Aku hanya lupa, Meira. Aku lupa pernah menandatangani ini semua. Untuk duduk disini bersamamu, menghabiskan sepotong pai dan secangkir kopi, mendapatimu hadir tanpa jiwa yang lengkap karena seorang laki-laki telah merenggutnya pergi.
Tidak ada yang namanya ‘kebetulan’, Meira. Kita hanya lupa. Semua terjadi dengan tujuan. Semua. Entah itu mengapa nyamuk diciptakan, ataupun mengapa aku bisa duduk di sini bersamamu menghabiskan sepotong pai dan secangkir kopi, mengapa kamu bisa bertemu seorang laki-laki yang seharusnya sudah jadi fosil dalam ruang terkunci sudut hati, mengapa ia bisa muncul lagi di hadapanmu pagi ini. Kamu yang tengah duduk di hadapanku, di sini, bersamaku. Bukankah itu lucu?
Aku mengerti, bahwa kamu tidak akan mengerti letak kelucuannya. Karena bahkan kamu tidak ada disini. tiga per empat jiwamu itu masih berdiri di sana, di tepi dermaga dengan gaun biru muda dan topi yang masih berusaha kamu jaga. Apa yang kamu lakukan disana? Siapakah yang kamu tunggu, Meira?
Lalu aku putuskan untuk memecah keheningan sejak suara terakhirmu, yang tidak berperasaan itu. Aku bertanya tentang kemungkinan kecil yang terdengar sedikit tidak mungkin. Tentang kesalahan yang bisa saja dilakukan seorang nahkoda biarpun sangat kecil kemungkinannya. Bukankah nahkoda juga manusia, Meira? Bagaimana kalau ia keliru? Bagaimana kalau ia berlabuh di dermaga yang salah?
Lagi, aku terpana. Bukan masalah apa yang kamu ucapkan, bukan juga bagaimana caramu mengucapkannya. Kamu bahkan tidak—belum—berkata apa-apa. Kamu hanya diam, dengan sorot mata yang penuh akan rasa. Berbanding terbalik dengan jawaban terakhirmu sebelumnya. Sarat akan rasa membuatmu jauh lebih menyeramkan ketimbang tanpa rasa sama sekali, ternyata. Bagaimana tidak? Sorot mata itu jelas merefleksikan amarah hendak membunuh orang, kasih sayang tulus serta kepolosan, dan seorang gadis kecil yang meringkuk menangis ketakutan. Sekaligus, dalam satu waktu yang bersamaan.
Apa kamu bisa menyalahkan diri mu atas jatuh cinta ke orang yang salah?
Itu bahkan bukan sebuah jawaban, Meira. Itu pertanyaan. Dan itulah pertanyaan yang membuat aku merasa lebih baik bertukar nasib dengan Narcissus saja. Mengapa kamu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan seperti itu? Bukankah kita tengah bicara tentang nahkoda, jangkar dan dermaga?
Kenapa matamu mulai berair, Meira? Aku yakin kamu tidak sedang kelilipan, dan cukup yakin tidak ada yang sedang memotong bawang. Kamu menangis, Meira. Kristal bening berjatuhan dari kelopak matamu. Kenapa? Kenapa aku hanya diam, Meira? Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kamu menangis, Meira. Jangan buat aku menangis juga.
Aku benci bagaimana rasa panik membuatku lari kesana kemari dalam pikiran. Sementara di kehidupan nyata aku hanya duduk diam tanpa tahu harus berbuat apa. Aku merasa seperti pengecut, Meira. Aku tidak berani menenangkanmu yang makin mengisak di tengah-tengah kedai pai yang ramai.
Tapi tangisanmu membuat aku mengerti, Meira. Butiran kristal bening itu membuatku akhirnya mengerti. Bukankah itu hebat? Aku menemukan benang yang menghubungkan ini semua; nahkoda, jangkar, dermaga, dan orang misterius yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Meskipun setiap partikel dalam tubuhku menolak untuk percaya, tapi aku tahu.
Kamu sudah jatuh cinta, Meira. Kamu masih jatuh cinta.
Aku benci mendapati kenyataan bahwa sesorang yang mungkin saja pernah membawakanmu bunga, membelikanmu cincin, atau mengundangmu makan malam bersama ayah-bundanya itu sudah membujukmu untuk menjatuhkan hati, menjatuhkan diri ke kolam dalam dimana kamu kamu tahu kamu tidak bisa berenang. Bukankah kamu bisa mati tenggelam, Meira? Tapi tidak apa, aku yakin kamu sudah menyetujui itu semua. Kamu sudah menandatangani semua poin kontrak hidupmu. Termasuk untuk jatuh cinta, sepaket dengan segala sakit hatinya.
Aku tidak lagi bertanya-tanya siapakah dia. Tangisanmu menjelaskan itu semua. Dia pastilah seseorang yang hebat hingga bisa membuat kamu yang kuat menjadi terisak kehabisan nafas, aku percaya dia juga yang mengenalkanmu pada semua omong kosong ini, tentang nahkoda, jangkar, dan dermaga. Persis seperti apa yang baru saja kamu lakukan padaku pagi ini. Apakah itu kebetulan, Meira? Aku tidak tahu, tapi bila memang itu sebuah kebetulan, maka itu adalah kebetulan yang manis sekali.
Memang seperti itu cinta, Meira. Manis. Dan pastinya kamu tahu manis berlebihan akan membunuhmu perlahan-lahan. Apakah sekarang kamu juga berpikir lebih baik terkutuk layaknya Narcissus?
Echo, tahukah kamu tentang gadis itu? Mungkin ia adalah kamu, mungkin ia juga rasakan apa yang kini kamu rasa. Ia adalah gadis yang malang karena jatuh cinta pada Narcissus, Meira. Ia biarkan dirinya terperangkap dalam rasa yang ia ciptakan sendiri, begitu lama hingga yang tersisa dari dirinya hanyalah bisikan-bisikan yang kadang terdengar orang. Dewi Nemesis menghukum Narcissus atas hal itu, atas mengabaikan cinta Echo yang tulus sekian lamanya.
Aku rasa memang seperti itulah cinta, Meira. Penuh pengabaian dan karma. Tapi tetap saja, sekarang aku percaya, Echo tidak bisa disalahkan atas jatuh cinta pada Narcissus, Narcissus tidak dapat disalahkan atas jatuh cinta pada dirinya sendiri. Kamu, Meira, tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri atas jatuh cinta pada laki-laki itu. Bukankah nahkoda tidak pernah keliru? Bukankah nahkoda tidak akan sembarangan menjatuhkan jangkar? Ia tahu betul kenapa dan kapan jangkar itu harus diturunkan.
“Selamat Ulang Tahun, Meira.” Kali ini kuucapkan bukan hanya dalam hati saja. Aku tidak khawatir lagi akan tiga per empat jiwamu yang pergi; aku akan menjemputnya sendiri.
Percayakah kamu? Aku akan mendatangimu kesana, Meira, menemanimu yang tengah sendiri memegangi topi di sisi dermaga. Aku akan turun dari mercusuar tempatku mengamatimu, tempatku menunggu kamu menarik balik jangkar yang telah kamu jatuhkan entah untuk waktu berapa lama itu.
Aku akan mendatangimu, Meira, dengan kotak kecil berpita biru yang kusembunyikan di balik saku jas-ku. Tepat setelah kamu lupa semua tentang nahkoda, jangkar dan dermaga. Aku akan berdiri di belakangmu, mengeluarkan kotak berpita biruku sambil meminta kamu sejenak pejamkan mata. Aku akan berbisik pelan dari belakang helai rambutmu, membawakanmu kabar bahwa kapalnya sudah bersandar, sambil mengalungkanmu sebuah liontin jangkar.
Aku adalah nahkoda, Meira. Nahkoda tidak pernah salah.
Kapalku berlabuh sudah.


Untuk semua dermaga,
 yang masih menunggu kapalnya


2/08/14