Tampilkan postingan dengan label Foto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2015

Selamat 17 Desember. 

Saya belajar mengenang kelahiran.
Bukan ketiadaan.
Memang begitu rasanya,
tapi tetap saja.


Berbahagialah mereka yang mati muda.

Senin, 09 November 2015

Salam dari Semacam Kedai Kopi

Sementara saya mengetik tulisan ini, seorang pemuda bertopi dan bercelemek tengah mengangkat nampan-nampan kosong sambil mengepel lantai. Ia terlihat begitu giat bekerja ketika temannya yang juga bertopi dan bercelemek tertidur di salah satu kursi pelanggan. Pencahayaan ruangan yang tadi terasa sangat kuning sekarang makin terihat pudar dibarengi langit yang semakin berubah biru terang. Gelas-gelas kosong dan sisa camilan berantakan diantara komputer-komputer jinjing kami. Iya. Saya tidak sendiri. Di depan saya duduk seorang teman yang sama-sama fokus pada layar masing-masing, mengerjakan hal-hal yang seharusnya dikerjakan sejak berhari-hari yang lalu. Ini adalah pengalaman baru, jujur saja. Bukan berarti saya (dan teman saya ini) selalu tepat waktu dalam mengerjakan tugas, tapi ini adalah kali pertama kami tidak melakukannya di kamar kosan masing-masing, mendekam sendiri, dengan resiko ketiduran. Disini, gerung mobil-mobil besar dan lampu-lampunya tidak akan membiarkan mata kami terkatup, biar hanya 4-5 detik saja.


sementara sosok ber-sweater rajutan di depan saya ini terus dan terus mengetik, konsentrasi saya terbagi antara menulis, membaca, memotret dan mendengar gas-gas motor dua tak yang tidak pernah berhenti berkumandang. Lalu tanpa saya sadari langit sudah berubah warna, 


dan rak-rak kosong sudah terisi lagi dengan donat-donat kecil.


selamat pagi,
dari jari-jari dingin yang dihangatkan radiasi komputer jinjing,
N

Minggu, 01 November 2015

Yang Untukmu Itu

Biar aku tanyakan dulu, Resah
Tentang sebait nama
Yang menggantung-gantung
Di hadapan bola mata
Yang dikatupkan kala petang

Biar aku rasakan dulu, Sayang
Tentang kasih terhadap raga
Yang kadang aku tangkap
Bayangannya cantik mengangkasa
Yang nanti membumi juga

Barubereum, Kaki Gunung Manglayang, 25 Oktober 2015
Biar aku bisikan dulu, Cinta
Padamu sehalus cahaya matahari dan kabut
Yang menyelinap masuk
Diantara daun-daun kecil
Yang akan gugur tertiup angin

Begitu
Seterusnya.


Atas nama aku dan rumput-rumput kering,
N

Kamis, 09 Januari 2014

Hari kedua; sepi

Saya merasa tidak benar hari ini. Seperti ada di tempat yang tidak seharusnya. Mungkin karena saya sudah terbiasa hidup di kosan. Dan sekarang terjebak di rumah kontrakan besar ini yang malah sering kali tidak ada orang. Lebih baik tinggal sendiri dari pada ditinggal sendirian. Iya, bukan?

Saya betul-betul tidak nyaman. Apa saya hanya rindu seseorang?


iya, mungkin saja.

Jumat, 06 Desember 2013

Wahai mata

"Apa hal yang pertama kamu lihat waktu kamu melihat warna putih?"

Begitu tanya seorang teman, kemarin dulu. Dia bilang, saya hanya harus menuangkan apa yang saya lihat. Saya tahu semua mata itu berbeda. Apa yang saya lihat belum tentu sama di lain mata.

Karena mata adalah bagian paling emosional dari manusia, kata seseorang di masa lalu.

Saya penasaran. Adakah mata lain di luar sana yang sefrekuensi dengan mata saya? Sehingga kami bisa melihat hal-hal yang sama, tanpa perlu bicara panjang lebar sekedar menjelaskan tentang apa yang tertangkap oleh masing-masing mata. Saya mencari mata itu. Saya ingin bertemu, menatap, lalu menyelaminya. Memastikan setiap detail partikelnya, sampai saya temukan secuil mata saya dalam matanya. Lalu mencari tahu hal apa yang membuat mata kami ada di jendela yang sama.

Mungkin saja saya sudah bertemu mata itu, di persimpangan jalan, di trotoar, di kursi taman, di tangga, bahkan di bangku sebelah saya. Mungkin mata itu ada di sekitar saya. Mungkin mata itu tertanam dalam tubuh yang suaranya pernah sampai ke telinga saya. Mungkin mata itu pernah menatap mata saya, namun tak menyadari apa-apa karena tak tahu apa-apa juga saya soal dia.

Saya mencari kamu, wahai mata.
Mata saya ingin sekali bertemu teman yang sebangsa.
Saya ingin sekali bertemu orang yang semata.




Kerapuhan, itu hal yang pertama saya lihat pada warna putih.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Rencana akhir tahun

Akhir tahun ini saya, Dina, Sarah, Dila, Vina dan Rizka punya rencana untuk jadi backpacker dadakan ke Jogja. Saya sudah punya list tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Semoga semuanya lancar. Semoga saya dibolehkan.
Amin.

Selasa, 15 Oktober 2013

Ingin jadi pendaki

Kapan-kapan saya ingin naik gunung. Saya tidak tau sejak kapan tepatnya saya mulai tertarik pada hal maskulin satu ini. Mungkin sejak sekolah dasar, mungkin lebih muda lagi. Dulu pernah ayah cerita soal kami liburan di Bromo, saya masih terlalu kecil saat itu, masuk sekolah Tk saja belum. Tidak ada yang saya ingat selain anak tangga yang begitu banyak, itu saja sudah kabur-kabur dari ingatan. Kalau lihat foto-foto yang ada di album, waktu itu saya pakai kaos kuning dan dilapis baju kodok, kupluk rajutan belang-belang, dan bawa boneka kucing kecil yang dinamai Mika. Saya juga naik kuda, tapi saya tidak ingat sama sekali. Ayah bilang dulu saya yang paling semangat naik sampai ke puncak, tentu saya juga tidak ingat soal itu.
Belakangan ayah suka iseng-iseng bercanda, mengajak liburan ke Bromo lagi. Saya merasa diberi harapan kosong (begitu kata anak-anak sekarang). Saya ingin sekali naik gunung. Iri setengah mati ketika teman bercerita kalau ia dan 'sahabat'nya punya rencana untuk naik gunung Semeru. Lalu lebih iri lagi ketika teman di London bercerita soal liburannya, ia dan teman-temannya juga naik gunung di sana. Ia janji mengirimi saya foto-foto. Kapan giliran saya?
Begitu tau ada ukm pendaki di fakultas, saya langsung kegirangan bukan main. Akhirnya saya punya kesempatan untuk naik gunung. Betapa senangnya. Sampai sekarang saya masih menunggu kapan ukm itu membuka recruitment.
Kadang saya berpikir, bisa-bisanya orang seperti saya tertarik dengan hal seperti ini. Mungkin turunan dari ayah, memang ayah lumayan suka hal-hal berbau alam. Namun pernah sekali waktu ayah bilang, "Gunung kalau dilihat dari jauh bagus sekali. Tapi menakutkan ketika didatangi.". Saya cuma tertawa-tawa. Ketika itu kami sedang di pantai, beliau menunjuk ke arah tebing-tebing tinggi yang lebat ditumbuhi pohon.
Di gunung, kita bisa melihat sosok asli diri seseorang. Memang begitu kira-kira. Kalau sudah ada di gunung dengan segala keterbatasan, apa masih sanggup orang-orang memainkan peran? Mereka bakal menampakan sosok aslinya. Percaya atau tidak. Jadi kalau kamu betul-betul ingin kenal seseorang, bawa saja ia ke gunung.
Saya ingin dibawa ke gunung.

Selasa, 07 Mei 2013

Rabu, 16 Mei 2012

the end

"siapa yang lebih adil?"
"kamu"
"bukan.."
"lalu?"

entah apa yang ada dipikiranmu saat ini. kamu hanya diam di sudut itu, menghindar sejauh mungkin dari jangkauan semua orang, termasuk aku. kepalamu tertunduk, kedua tanganmu menjadi topangan kepala, mungkin kepalamu terasa terlalu berat untuk ditopang hanya oleh leher saja, mungkin matamu terpejam karena tidak kuat melihat kenyataan, dan lebih memilih gelap karena dalam gelap kita tak tau apa-apa.

sedangkan aku memilih menjaga jarakku, sama seperti kamu. karna satu-satunya hal yang paling masuk akal untuk ku saat ini adalah tidak menyulut api, entah api cinta ataupun api benci. aku berusaha berdiri semampuku,  mengetahui tidak ada lagi yang bisa menangkapku jika saja aku tiba-tiba rubuh dan tidak bangun lagi.

es masih menyelubungi tiap rongga mulutku, tidak bisa berkata apalagi menjawab pertanyaanmu, tiap kali kata-kata itu sudah ada di ujung lidah dan siap ku lempar keluar, alhasil hanya sekelabut uap dingin yang keluar dari es-es itu. kau pun tidak melanjutkan, hanya diam dan menunggu jawaban. tangan masih jadi topangan kepalamu.

saat itu aku mulai meyakini satu hal yang sudah ku sadari sejak dulu, bahwa tidak ada satupun kejadian tunggal dalam dunia ini. mirip kehidupan yang selalu berakhir dengan kematian. mirip bunga mekar yang akhirnya tetap saja akan layu. 

yang punya awal, selalu punya akhir.  

mata ku terpejam dan nafasku mendalam, air mata mungkin saja bisa mengalir kala itu. tapi tidak kali ini. tidak lagi. kamu mendongak, mata kita bertemu untuk sepersekian detik lamanya. hampir menyerupai kedipan mata saking cepatnya. dan keheningan masih mendera suasana.

jarum panjang jam melewati entah berapa garis banyaknya, jam itu tidak lagi terlihat penting, ketika ada hal yang harus segera diputuskan, hal yang tidak bisa di nilai dari detik jam ataupun stopwatch di tangan. ataupun kalender yang akan dicoret setiap hari dan bulan berganti. 

"bukannya yang hidup pasti akan mati?"

kamu tetap diam.

"Tuhan, itu jawabannya." 


Kamis, 10 Mei 2012

weird and lovely

Daftar "kebutuhan" wajib kelas



anggap saja ini diangkat dari kisah nyata :)



sebagian bergaya, sebagian alakadarnya









-N-

Sabtu, 05 Mei 2012

sayap dan malaikat

Dulu aku pernah baca satu novel tentang manusia bersayap, malaikat yang jatuh dari dunianya hingga sayapnya patah dan hanya tersisa sebelah. Itu jadi satu-satunya novel yang bikin aku buang air mata.  Aku lupa siapa nama malaikat itu, yang jelas namanya aneh dan mirip nama perempuan. Yeah, dia itu laki-laki. Jadi tanpa diceritakan sebabnya, dia jatuh dan terluka parah, sayapnya patah. Dituliskan ia selalu pakai jaket hitam panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, buat nyembunyikan sayapnya itu. Dia tau bahwa ia diburu.

Sebagian orang menganggap manusia bersayap adalah orang suci, yang darahnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tapi sebagian orang menanggapi hal itu dengan cara lain, memburu dan membunuhnya, meminum darahnya untuk menyembuhkan diri. Aku ingat, namanya Beppu. 

Lalu cerita berpindah pada seorang ibu yang kewalahan dengan anaknya yang tidak kunjung sembuh, sudah berapa minggu anaknya demam. Si ibu tau tetang kabar yang beredar, ada kabar burung tentang manusia bersayap yang berjalan di tanah tempat mereka tinggal. Si ibu diam2 menyelinap keluar saat anaknya tidur, berkeliaran tengah malam untuk membuktikan kebenaran kabar itu. Ia menemukannya. Aku lupa gimana ceritanya, yang jelas dia berhasil dapat sedikit darah Beppu. Dia kembali dan meminumkan darah itu ke anaknya. 

Alhasil, esoknya anak itu bangun dengan kondisi bak terlahir kembali. Kejadian2 aneh mulai terjadi, malamnya, ditemukan sesosok bayi yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Mirip habis dicabik2 dan di minum habis darahnya. Beppu yang sedang tidur di bawah pohon, yang sialnya dekat dengan lokasi penemuan mayat bayi itu, dianggap sebagai tersangka oleh warga, terlebih ia adalah orang baru yang tidak diketahui asal usulnya. Tapi si ibu tau, bukan Beppu pelakunya.

Ia mengerti apa arti kutukan itu sekarang. Kutukan untuk orang2 yang telah meminum darah manusia bersayap. Darah manusia bersayap memang akan menyembuhkan, namun untuk tetap bertahan hidup, tubuh itu harus terus menerus meminum darah. Tidak bisa berhenti. Si ibu tau jelas siapa pelaku keji yang meminum darah di bayi, putri kecilnya.  Ceritanya panjang, hingga akhirnya si anak kecil itu membakar dirinya sendiri, karna tau hanya api yang bisa menyucikan nya kembali. Disini, dalam kematiannya si anak berpesan tentang kutukan manusia bersayap, ia berharap tidak ada lg yang berakhir seperti dirinya, tidak ada lagi orang yang memburu manusia bersayap demi hidup dalam keabadian. Dan bila suatu saat ada yang bertemu dengan seorang wanita bersama laki-laki bersayap sebelah, maka sampaikan salam cintanya pada wanita itu, karna baginya, wanita itu adalah segalanya. Karna si ibu akhirnya memilih pergi, bersama malaikat jatuh dengan sayap yang tak utuh.


Sejak itu aku terobsesi dengan kata ‘sayap’, menyadari bahwa manusia tidak akan pernah punya sayap selain lempengan besi yang dipasangi mesin jet. Bahwa bila memang ada spesies seperti itu di dunia ini, mungkin dia lah makhluk termulia sejagat raya. Karna itu aku suka segala hal berbau sayap, sayap dan malaikat. Membayangkan bisa terbang tanpa bantuan apapun itu bener2 menabjubkan, Cuma dengan sepasang sayap yang entah bagaimana caranya bisa menempel di punggung kita. Keajaiban, pikirku.

Malaikat jatuh, itu judul novelnya.