Sabtu, 23 Juni 2012

Yang Tidak Memiliki Nurani


kini ukiran namamu telah hilang tertutup debu dan airmata ku,
telah hancur termakan waktu juga betapa sakitnya hatiku.
semua semu,
sama seperti ukiran namamu itu.

dulu..
ketika aku mulai mencintaimu, ketika aku mulai berharap bahwa perasaanku bukan hanya bagian dari permainan kecilmu. tanganku bak robot yang telah diatur untuk mengukir nama itu, nama seseorang tidak tau diri yang datang dan pergi sesuka hati, nama seseorang yang tidak tau permisi mengambil hati dan tidak mau mengembalikannya lagi. kamu. wahai yang tidak memiliki nurani.

aku tau semua pilihan memiliki resiko masing-masing yang mau tidak mau harus dirasakan juga, yang aku tidak tau, rasanya akan seperih ini, akan sehancur ini. rasa perih yang sulit diobati, karna tau orang yang bersikap seakan menyayangi malah mencintai orang lain dibalik kelambunya. pernahkah kamu merasakannya? wahai yang tidak memiliki nurani.

pada awalnya memang semua terlihat baik-baik saja, terlihat menjanjikan dan dipenuhi harapan-harapan bahagia. aku mencintaimu dan memulai penantianku. tapi penantian itu tak kunjung berujung, tetap berjalan hingga aku lelah dan kehabisan waktu, kehabisan hati untuk diberikan, kehabisan hati untuk diharapkan.
hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.
dan kamu tetap menjadi seorang teman baik ku, seorang teman biasa tanpa ada kata cinta. bahkan kamu mulai menjauh, kamu mulai hilang dari pandanganku sementara aku tak henti mencari keberadaanmu. kamu lari. kamu sembunyi. kemanakah kamu wahai yang tidak memiliki nurani?

namun waktu membuktikan segalanya, kamu semakin diam tak bersuara, menyelinap keluar bak tikus got hitam yang berjalan melewati tempat gelap, yang lari saat di dekati, yang beraksi saat di jauhi. merasakah engkau wahai yang tidak memiliki nurani?

lalu harapan ku mulai mati, mulai kehabisan alasan untuk dipertahankan.
lalu aku biarkan ukiran namamu itu tetap sendiri, meskipun aku berharap suatu saat nanti akan ada ukiran namaku dibawahnya, kamu dan aku, tapi itu tak pernah terjadi.

dan kini aku telah mengerti,
kamu, wahai orang yang tidak memiliki nurani,
sudah berapa banyakkah orang sepertiku yang kau masukkan dalam permainan kecilmu?

aku tersenyum. tidak.
aku tertawa.

masihkah kamu ?

aku titipkan selembar surat untuk mu, pada angin, hujan, debu, udara dan berkas cahaya.
tidak terlihat, tidak tersentuh, hanya isyarat yang dapat kamu pahami, bukan dengan kekuatan otak, tapi dengan hati.

sehingga kamu bisa menerimanya setiap saat, saat sepoi angin menerpa tubuhmu, saat butiran air hujan membasahimu, saat tanpa sadar kamu menyentuh debu, dan saat kamu bernafas, juga saat sinar matahari tenggelam di kuitmu. setiap saat. apa kamu tau?

surat itu tidak berisikan kata, tidak melampirkan gambar juga tidak membutuhkan alamat. karna aku tau kamu mengerti apa yang ingin aku sampaikan, karna aku tau kamu tidak butuh bukti untuk mempercayai perasaanmu sendiri, dan karna aku tau tepat kemana surat ini akhirnya akan tertuju.

dari hati kecil ku, untuk kamu.

aku masih menyimpan perasaan itu, masihkah kamu?

Minggu, 17 Juni 2012

belum pernah rasanya sebahagia ini, tenang sekaligus gemetar, canggung sekaligus senang. dan aku berusaha cari jawaban terlogis yang bisa kucerna. gak ada. yang keluar malah 1 pertanyaan baru yang mungkin bisa mendukung perasaan ini.

seseorang yang mengitari dunia akan kembali pada posisi awalnya.
tangga nada dimulai dari do dan kembali ke lagi ke do.
manusia yang tercipta dari tanah akan kembali ke tanah.

bukankah pada akhirnya kita selalu kembali ke awal?
mungkin. aku gatau.

Kamis, 07 Juni 2012

empty soul

setiap jengkal tubuhmu serasa mengejang, seakan semua partikel dalam tubuhmu menolak mentah-mentah aura kehidupan. dadamu sesak sementara pepohonan hijau berada di sekelilingmu. matamu merah sementara tidurmu tidak pernah kurang dari 8 jam. kamu pudar. kamu sekarat. bukan sekarat seperti orang kelaparan, bukan seperti korban kecelakaan atau bencana alam, bukan termakan penyakit atau dihalau usia. kamu sekarat. benar-benar sekarat dan butuh pertolongan. kamu tidak batuk, tidak muntah, apalagi mengeluarkan darah. tapi kamu sakit. satu titik dalam dirimu rusak dan kerusakan itu menyebar secepat bisa ular. secepat apel jatuh dari pohonnya. secepat nyala lampu. bahkan secepat kedipan mata. kamu sakit. kamu sekarat dan akhirnya kamu akan mati. jasadmu akan tetap berjalan di permukaan bumi. kamu akan tetap berkaca di cermin setiap pagi dan diam mengantre di kasir supermarket. kamu tetap bernafas dan tubuhmu akan tetap menjalankan metabolismenya. kamu hidup. hidup dalam satu jiwa yang sudah lama pergi. kamu kosong. lalu senyummu hanya tinggal garis melengkung bibir yang datang secepat ia pergi. tanpa arti. tawamu hanya tinggal suara heran akan keadaan yang tidak pernah kamu pahami. dan tangismu hanya tinggal tetesan air yang entah kenapa keluar dari sudut mata. kamu hampa. kamu bukan siapa-siapa. 

lalu kamu siapa? kamu hanya seonggok daging berjalan yang bahkan tidak pantas memiliki nama.

Rabu, 16 Mei 2012

the end

"siapa yang lebih adil?"
"kamu"
"bukan.."
"lalu?"

entah apa yang ada dipikiranmu saat ini. kamu hanya diam di sudut itu, menghindar sejauh mungkin dari jangkauan semua orang, termasuk aku. kepalamu tertunduk, kedua tanganmu menjadi topangan kepala, mungkin kepalamu terasa terlalu berat untuk ditopang hanya oleh leher saja, mungkin matamu terpejam karena tidak kuat melihat kenyataan, dan lebih memilih gelap karena dalam gelap kita tak tau apa-apa.

sedangkan aku memilih menjaga jarakku, sama seperti kamu. karna satu-satunya hal yang paling masuk akal untuk ku saat ini adalah tidak menyulut api, entah api cinta ataupun api benci. aku berusaha berdiri semampuku,  mengetahui tidak ada lagi yang bisa menangkapku jika saja aku tiba-tiba rubuh dan tidak bangun lagi.

es masih menyelubungi tiap rongga mulutku, tidak bisa berkata apalagi menjawab pertanyaanmu, tiap kali kata-kata itu sudah ada di ujung lidah dan siap ku lempar keluar, alhasil hanya sekelabut uap dingin yang keluar dari es-es itu. kau pun tidak melanjutkan, hanya diam dan menunggu jawaban. tangan masih jadi topangan kepalamu.

saat itu aku mulai meyakini satu hal yang sudah ku sadari sejak dulu, bahwa tidak ada satupun kejadian tunggal dalam dunia ini. mirip kehidupan yang selalu berakhir dengan kematian. mirip bunga mekar yang akhirnya tetap saja akan layu. 

yang punya awal, selalu punya akhir.  

mata ku terpejam dan nafasku mendalam, air mata mungkin saja bisa mengalir kala itu. tapi tidak kali ini. tidak lagi. kamu mendongak, mata kita bertemu untuk sepersekian detik lamanya. hampir menyerupai kedipan mata saking cepatnya. dan keheningan masih mendera suasana.

jarum panjang jam melewati entah berapa garis banyaknya, jam itu tidak lagi terlihat penting, ketika ada hal yang harus segera diputuskan, hal yang tidak bisa di nilai dari detik jam ataupun stopwatch di tangan. ataupun kalender yang akan dicoret setiap hari dan bulan berganti. 

"bukannya yang hidup pasti akan mati?"

kamu tetap diam.

"Tuhan, itu jawabannya." 


Kamis, 10 Mei 2012

the stars

belasan tahun aku mengenal kata 'kerlip bintang' dan lagu bintang kecil ataupun bintang kejora. dan baru malam ini aku benar-benar tau apa itu kerlip bintang. cahayanya aneh, aneh dan menakjubkan. pertama mama bilang sekaligus nanya, "itu bintangnya kelap-kelip ya?". refleks mataku langsung ngelihat ke arah yang ditunjuk mama. "bukan lah, masa bintang kayak gitu". ada jeda hening yang cukup lama setelah itu. aku mulai berfikir benda macam apa yang bisa ada dilangit sana sambil kelap kelip dan keren tingkat dewa. langit sudah bener-bener gelap waktu itu. lampu tower? gak mungkin. satelit? entahlah. aku mulai memperhatikan benda itu lagi, cuma dangakkan kepala sambil diam, sampai aku sadar bahwa bukan cuma ada satu benda yang seperti itu. aku lihat sekelilingnya. bintang. dan semuanya sama. kelap kelip yang gak tau kenapa bisa bikin hati tenang dan mata gak berkedip. 

"iya ma, itu bintang".

merah, biru, putih,
berulang-ulang.
itu kerlip yang tertangkap di mataku.

weird and lovely

Daftar "kebutuhan" wajib kelas



anggap saja ini diangkat dari kisah nyata :)



sebagian bergaya, sebagian alakadarnya









-N-

Sabtu, 05 Mei 2012

sayap dan malaikat

Dulu aku pernah baca satu novel tentang manusia bersayap, malaikat yang jatuh dari dunianya hingga sayapnya patah dan hanya tersisa sebelah. Itu jadi satu-satunya novel yang bikin aku buang air mata.  Aku lupa siapa nama malaikat itu, yang jelas namanya aneh dan mirip nama perempuan. Yeah, dia itu laki-laki. Jadi tanpa diceritakan sebabnya, dia jatuh dan terluka parah, sayapnya patah. Dituliskan ia selalu pakai jaket hitam panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, buat nyembunyikan sayapnya itu. Dia tau bahwa ia diburu.

Sebagian orang menganggap manusia bersayap adalah orang suci, yang darahnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tapi sebagian orang menanggapi hal itu dengan cara lain, memburu dan membunuhnya, meminum darahnya untuk menyembuhkan diri. Aku ingat, namanya Beppu. 

Lalu cerita berpindah pada seorang ibu yang kewalahan dengan anaknya yang tidak kunjung sembuh, sudah berapa minggu anaknya demam. Si ibu tau tetang kabar yang beredar, ada kabar burung tentang manusia bersayap yang berjalan di tanah tempat mereka tinggal. Si ibu diam2 menyelinap keluar saat anaknya tidur, berkeliaran tengah malam untuk membuktikan kebenaran kabar itu. Ia menemukannya. Aku lupa gimana ceritanya, yang jelas dia berhasil dapat sedikit darah Beppu. Dia kembali dan meminumkan darah itu ke anaknya. 

Alhasil, esoknya anak itu bangun dengan kondisi bak terlahir kembali. Kejadian2 aneh mulai terjadi, malamnya, ditemukan sesosok bayi yang sudah tidak karuan lagi bentuknya. Mirip habis dicabik2 dan di minum habis darahnya. Beppu yang sedang tidur di bawah pohon, yang sialnya dekat dengan lokasi penemuan mayat bayi itu, dianggap sebagai tersangka oleh warga, terlebih ia adalah orang baru yang tidak diketahui asal usulnya. Tapi si ibu tau, bukan Beppu pelakunya.

Ia mengerti apa arti kutukan itu sekarang. Kutukan untuk orang2 yang telah meminum darah manusia bersayap. Darah manusia bersayap memang akan menyembuhkan, namun untuk tetap bertahan hidup, tubuh itu harus terus menerus meminum darah. Tidak bisa berhenti. Si ibu tau jelas siapa pelaku keji yang meminum darah di bayi, putri kecilnya.  Ceritanya panjang, hingga akhirnya si anak kecil itu membakar dirinya sendiri, karna tau hanya api yang bisa menyucikan nya kembali. Disini, dalam kematiannya si anak berpesan tentang kutukan manusia bersayap, ia berharap tidak ada lg yang berakhir seperti dirinya, tidak ada lagi orang yang memburu manusia bersayap demi hidup dalam keabadian. Dan bila suatu saat ada yang bertemu dengan seorang wanita bersama laki-laki bersayap sebelah, maka sampaikan salam cintanya pada wanita itu, karna baginya, wanita itu adalah segalanya. Karna si ibu akhirnya memilih pergi, bersama malaikat jatuh dengan sayap yang tak utuh.


Sejak itu aku terobsesi dengan kata ‘sayap’, menyadari bahwa manusia tidak akan pernah punya sayap selain lempengan besi yang dipasangi mesin jet. Bahwa bila memang ada spesies seperti itu di dunia ini, mungkin dia lah makhluk termulia sejagat raya. Karna itu aku suka segala hal berbau sayap, sayap dan malaikat. Membayangkan bisa terbang tanpa bantuan apapun itu bener2 menabjubkan, Cuma dengan sepasang sayap yang entah bagaimana caranya bisa menempel di punggung kita. Keajaiban, pikirku.

Malaikat jatuh, itu judul novelnya.   

Minggu, 01 Januari 2012

cuap.cuap awal tahun

hanya saya, laptop saya, film transformers dan segelas green sand yang hampir habis.
hanya suara tv, kipas angin, keyboard laptop, dan samar2 suara dengkuran ayah saya.


gak ada lagi warna warni kembang api.
gak ada lagi suara2 dentuman macam ada di medan perang.

happy new year buat semua..
yg lg baca ini, maupun yg lg gak baca.
yg lagi berduaan sama pacar, maupun yg lg peluk guling di kamar.
yg lagi nonton tv, maupun yg lagi seneng2 di alam mimpi.
happy new year buat kalian..

gelasnya udah kosong, green sand nya udah abis.
transformers nya udah mulai lagi.

ya terus?

yang mau saya katakan..
gak penting seperti apa perayaan tahun baru itu.
tiup terompet waktu jam 00.00.01
nyulut kembang api abal2 di depan rumah
melongo ngeliat kayak apa kembang api betulan di jalan
atau ngidupkan tv terus buka blog nulis postingan *ekhem

yg penting apa yg akan kita lakukan buat ngisi tahun baru itu,
perbaiki sikap. tambah pengalaman. belajar dari kesalahan.
banyak.

tahun baru bukan cuma masalah tiup terompet sama jalanan macet.
jauh lebih besar dari pada itu.


yakan?

Selasa, 27 Desember 2011

sebotol anggur putih

kau sendirian disana, diam dengan menu makanan yang sedari tadi kau pegang.
dan aku, yang seharusnya segera menghampirimu dan duduk di depanmu, malah terdiam disini.
bersembunyi sejenak, entah dari dirimu.. atau dari diriku sendiri.

aku tetap sembunyi sementara dalam hatiku aku memohon maaf dan pengertianmu.
karna membuatmu menunggu terlalu lama. karna aku ingin kau mengerti bahwa wajar saja aku seperti ini.
mengingat aku habiskan lebih dari satu jam di kamar mandi, dan hampir 3 jam memilih pakaian apa yg akan ku pakai, untuk acara sederhana ini.
untuk makan malam ini.

tapi aku tak terlalu berharap kau mengerti. karna aku tau persis seperti apa watakmu.
kau tak akan menganggap lazim seseorang yang tiba2 saja bersikap malu-malu dan jaga image pada sahabatnya sendiri yang sudah dikenalnya hampir 3 tahun ini.
tapi ini berbeda. benar-benar berbeda.

mengambil nafas dalam2 tak berguna lagi saat ini. ku rapihkan pakaian ku sejenak lalu beranjak keluar dari persembunyianku. menghampirimu. menuju tempatmu.

"maaf membuatmu menunggu.." aku tersenyum.
"tenang saja, aku baru saja sampai disini" balas mu tersenyum juga.

senyumku tak kunjung hilang karna tau bahwa kau berbohong. karna kau berkata baru saja sampai sedang aku mengamatimu duduk dikursi ini sejak 1 jam yang lalu.

"sepenting ini kah makan malam ini?" sambung mu
"maksudmu?"
"gaun ungu mu itu belum tentu keluar setahun sekali. high heels itu baru saja ku lihat di toko beberapa hari yang lalu. dan model rambutmu, butuh berjam2 untuk mengaturnya, kecuali kau ke salon dan menghabiskan lebih banyak waktu."

tawa ku lepas saat itu juga. seperti biasa, kau selalu bisa membuat suasana sedingin apapun menjadi penuh kehangatan.

"aku hanya ingin tampak berbeda" aku masih tertawa
"sudah lama aku tak melihatmu tertawa selepas itu. seharusnya kau putuskan hubunganmu dengannya sejak dulu"

tawa ku terhenti. lalu semua hening.

"entahlah. jujur saja kau lebih terlihat bahagia setelah resmi berpisah dari dia"

aku tersenyum.

salah seorang pelayan menghampiri meja kami, diatas nampannya berdiri sebotol anggur putih dan 2 buah gelas tinggi.

"anggur putih?" tanyaku heran.
"hal ini butuh perayaan bukan? selamat datang pada hidup barumu yang terbebas dari dia.."

"cheerss..!!!" gelas kita saling berbenturan.

"lalu? setelah kau resmi lepas dari dia.. apa rencanamu?"
"mencari seseorang yang lebih baik.."
"secepat itukah?"
"sebenarnya, aku tak perlu mencari lagi. aku telah temukan orang itu..."

kau terdiam sejenak, mungkin kau tengah memutar pikiran soal kata2ku itu.

"lalu, siapa orang itu?"

suara alunan biola yang ada disudut sana benar2 bisa menenangkan hati seseorang.
dan tata lampu seperti ini membuat ilusi mata tentang manusia bersayap dengan kilauan matahari ditiap pori-porinya.
makan malam ini, bukan makan malam biasa..



"orang itu.. kamu" kembali ku teguk anggur putihku.

Kamis, 22 Desember 2011

berakhir

hampir 15 menit kita disini. berhadapan namun saling bungkam. tak ada suara, bahkan nyaris tak ada gerakan. kita hanya menatap sudut2 ruangan, sudut mana saja yg bisa dilihat agar meminimalisasi kemungkinan terjadinya kontak mata langsung antara kita. terasa begitu sunyi. lalu suara pertamamu terdengar. memecah keheningan yang tengah ku hayati dalam2..
"Jadi?"
"Jadi apa?" jawabku kembali bertanya, masih tetap membuang muka
"Ada yang harus kita bicarakan bukan?"
"Entahlah" jawabku singkat, kini aku berani menatap matanya
"Aku ingin minta maaf sebenarnya.."
"Untuk apa? kau tak salah apa2" aku berusaha mati2an agar nada suaraku terdengar meyakinkan
"Tapi aku merasa bersalah, kau tau, aku tau tentang itu semua..." jawabmu lirih
aku tak mampu membendung air mataku lagi, ingin rasanya aku mengucapkan "Semua apa? tentang dia? tentang pacarmu? atau tentang fans2 mu termasuk aku? atau kau mau bilang kau menyesal karena sudah terlalu banyak memberikan harapan pada ku??!" tapi aku tak mengatakannya. aku sadar itu hanya akan memperburuk keadaan. maka aku memilih diam. diam dan menangis. seperti biasanya, lemah seperti biasanya.
malam itu berakhir seperti dugaanku, tak jauh-jauh dari sesak nafas dan air mata. sangat klasik. sangat gampang ditebak.
kau meninggalkan aku sendirian disana, entah karena memberiku ruang untuk sendiri, atau malah karna kau sudah benar2 lepas tangan atas hal yang kau mulai sendiri, aku tak peduli, yang ku tau aku butuh ruang untuk sendiri, berpikir apa jalan terbaik yang harus ku lalui saat ini.

"Seharusnya kamu berpikir sebelum kamu putuskan untuk mendekati seorang gadis saat kamu sendiri sudah memiliki seorang kekasih. karna pada akhirnya kamu akan buat gadis itu terikat sedang kamu dan gadis itu sendiri tau bahwa tak akan ada hubungan yang bisa dipertahankan, bila memang hubungan itu ada." kata2 itu yang selalu ku jadikan pukulan buat mu, untuk menghakimi mu meskipun kalimat itu tak pernah tersampaikan padamu. aku selalu diam. selalu terima keadaan dan membiarkan semua terjadi begitu saja. aku terlalu sabar...

kau coba menghubungiku malam itu, menelpon berulang kali dan mengirim pesan belasan kali. hanya untuk memastikan aku baik2 saja sepeninggalmu. tapi itu semua tak ku hiraukan, sudah kubilang, aku butuh waktu untuk berfikir.

malam itu ku habiskan untuk mengeluarkan isi kepala dan hati, kucampur aduk dan entah mau ku apakan lagi. aku sudah terlanjur memakai perasaan pada hubungan kita, terlanjur memakai terlalu banyak perasaan yang ternyata tak mengubah apapun juga. kau tetap memilih dia. dia yang pertama mengisi hatimu. dia yang lebih dulu merenggut jiwa mu. bukan aku.

dan akhirnya aku dapatkan jawaban yg kucari, sudah mantap dan tak mau ku ganti lagi. kini hanya tinggal mengumpulkan keberanian untuk mengatakan jawabanku itu. mengumpulkan keberanian untuk sekedar mengangkat telepon dari mu dan mengatakan apa mauku. mengumpulkan keberanian untuk 'bicara' pertama kalinya, setelah sekian lama.

ponsel ku berbunyi lagi, kau masih jadi orang yg berdiri diujung sana yang menunggu kemunculan suaraku. aku tak peduli lagi, aku harus berani. ku ambil ponsel itu dan mengangkatnya, untuk beberapa detik tak ada suara. kau diam, aku juga.
lalu kau lontarkan kalimat pertama dan terakhirmu disana,
hanya ada 2 kalimat dalam percakapan kita.

"keputusanmu?"

"berakhir..."

semua kembali hening. kau diam, aku juga.

hujan dan perasaan

hujan tak selalu membawa duka,
hujan membuatku percaya, tentang arti cinta yang sebenarnya.

"apa kau yakin?" sapa mu seraya mendatangi ku.
"tentang?"
"tentang penjelasan mengapa kau rela berdiri di tengah hujan untuk sekedar menunggunya melihat keluar jendela!"
"kau tak mengerti, aku mencintainya dan satu2nya cara untuk membuktikannya adalah dengan melakukan ini."
"tapi ini bukan sinetron! tak ada acara hujan2an yg bisa membuat org yg kau cinta membalas cinta mu!"

aku terdiam, mataku sayu dan hujan menyembunyikan tangisanku.
menyembunyikan tangisanku dari semua orang, kecuali kamu.

"aku tak bawa tisu untuk hal itu, kalau pun aku bawa, pasti hujan terlebih dulu menghancurkannya..."
aku tetap diam, berdiri membelakangi mu.
"dengar.. aku tau kata2ku tadi melampaui batas. aku hanya tak mau kau korbankan dirimu untuk seseorang yang tak tau diri itu.."
"tapi seseorang yg tak tau diri itu adalah seseorang yang aku cinta!" jawabku sedikit berteriak.

kini kamu yang kehabisan kata, diam, menahan emosi dan berusaha mengurungkan niat untuk mendekap seseorang didepanmu ini.
tak banyak bicara, kau lepaskan jaketmu yang setengah basah itu lalu kau kalungkan di bahuku. "ini akan sedikit menghangatkanmu.."

"lalu, sampai kapan kau akan berdiri disini?"
"sampai ia membuka tirai dan melihat keluar jendela..."
"bagaimana kalau itu tak pernah terjadi?"
"ia mencintaiku, pasti itu terjadi"
"setengah jam sudah kau menunggu, hujan bisa membuatmu mati kedinginan"
"setidaknya itu membuktikan bahwa aku rela mati untuknya..."
"tapi aku tak rela bila kau mati karna dia, kau lebih berharga dari itu"

aku tak bicara, diam menatap jendela kamar yg sedari tadi ku harap akan terbuka.

"apa kau yakin ia masih mencintaimu? maksudku, acara menentang hujan ini harus punya alibi yang kuat.."
aku tetap diam... memutar pikiran.
mulai ketakutan atas pertanyaan mu itu.
"mungkin kau harus berhenti mengharapkannya, dan melihat betapa banyak orang2 yang tulus mencintaimu dan tdk memaksamu untuk hujan2an seperti ini"

kali ini hujan tak sanggup lagi menyembunyikan tangisanku,
semua orang tau, apalagi kamu.

aku mulai berpikir bahwa tirai itu memang tak akan terbuka, sama seperti hatinya yang sudah terkunci rapat untuk seseorang seperti ku.
dan aku sadar cinta seseorang yang rela hujan2an menemani ku ini lebih besar dari semua cinta yang pernah aku berikan untuk orang tak tau diri yang menunggu dibalik tirai jendela itu. aku sadar butuh alibi yang kuat untuk memutuskan akan habiskan waktu menemani seseorang di tengah hujan yang sedang menanti laki-laki lain melihat keluar dari jendela kamar. aku sadar ketulusan hatimu itu diluar batas logika, lebih gila dari pada acara hujan2an yang ku buat tanpa alasan yg jelas ini, lebih gila dari pada keputusanku yang masih akan mengharapkannya sementara aku memiliki mu disetiap hembusan nafasku.



"jaketmu mulai membuat kulit ku beku. aku ingin coklat panas, kau mau?"

Sabtu, 10 Desember 2011

salju di matamu

mataku terpaku pada butiran salju yang tak henti mendera.
dari balik jendela, aku hayati semua.

semua,
termasuk kau dan tatapanmu, kau dan tatapan sedingin salju mu itu.
salju memperkuat kesan dingin dimatamu, kesan kosong dalam tatapanmu.
tatapan yang kau tujukan khusus buatku.

tatapanmu buatku beku dan membatu, terkubur dalam timbunan sajlu bersama kenangan tentang tatapan penuh harapan yang terakhir kali kudapatkan darimu musim lalu.
aku rindu tatapan itu, dan aku benci tatapan sedingin salju mu.

kristal bening mulai jatuh membasahi pipiku, ku hapus dan ku sembunyikan dari mu yang kini telah duduk di hadapanku. aku tersenyum, berusaha mengubur pertanyaan yang semusim ini selalu menghantuiku. "kemana perginya kau yang dulu?"

kau tetap diam membisu di sudut itu, mungkin salju telah membuat lidahmu kelu.
atau,
keberadaanku yang membuatmu membatu seperti itu.

seketika ingatan tentang mu terputar kembali di kepalaku.
seperti menyaksikan sebuah moment masa lalu yang dibintangi oleh kau dan aku.
kristal bening seraya kembali membasahi pipiku, menelan kenyataan tentang apa yang telah berubah antara kau dan aku, menelan kenyataan tentang ketidakjelasan sebab perubahanmu itu.

dan salju masih tetap membekukan lidahmu.

ku palingkan wajahku untuk waktu yang cukup lama, untuk menghayati lalu melepas semua memory masa lalu itu. dan kau tetap diam, membeku bersama tatapan salju mu.

ingin saja aku ucapkan,
ingin saja aku tanyakan,
tentang alasanmu yang mendadak berubah kala musim itu,
karna aku tak suka.
aku rindu tatapan kasih mu yang dulu kau tujukan khusus buat ku.
aku rindu senyum manis mu yang dulu tak henti kau pertahankan kala bersamaku.
aku rindu setiap jengkal perhatian mu yang hanya kau tunjukan pada ku musim lalu.
aku rindu semua canda mu yang selalu ada untuk menghapus sedihku.

aku rindu semua hal itu, semua hal yang telah membuat ku terlalu banyak berharap.
semua hal yang telah membuatku melakukan sebuah penantian.
dan terlalu melibatkan perasaan tanpa berpikir resiko apa yang akan ku dapatkan.

sekarang kau tak lagi ada dihadapanku, kau telah kembali menghilang dibalik hujan salju di luar ruangan itu. datang dan pergi tanpa sedikitpun ucapan yang tertuju khusus buatku.
kau biarkan salju itu benar2 membekukan lidahmu, juga hati mu.

"besok, akan ku akhiri semua.
dan dimataku, kau akan kembali pada sosok awal mu,
sosok seorang teman, yang tak lebih dari sekedar teman.
besok, adalah batas penantian."

musim lalu... kata2 itu mulai terangkai di benak ku,
ketika hati kecilmu berubah menjadi penuh amarah.
ketika kau mulai kehilangan senyuman yang slama ini aku idamkan.
ketika bintang2 dimatamu memudar dan hanya menyisakan hitamnya malam.

dan detik ini, butiran salju itu mulai menyakan kepastian,
tentang kapan aku akan mengakhiri penantian,

namun jawabanku masih sama seperti musim lalu...

besok.
besok, akan ku akhiri semua penantian sia2 ini.

Senin, 28 November 2011

tak perlu bermimpi

ia tersenyum. menatap pada satu titik yang entah karena sebab apa ia anggap menarik. sehelai daun, kering dan mati. bahkan daun itu sudah tak utuh lagi. dan ia terus tersenyum...

aku ada tak jauh darinya, berdiri mematung dengan wajah dan pikiran penuh pertanyaan.
apa yg kau lakukan?
apa yang kau pikirkan?

pikiranku mulai bermain, liar dan tak tentu arah tujuannya.
sementara disudut lain, kau masih tetap tersenyum bersama khayalan dan mimpi mu.

hari ini kau benar2 berbeda. tak seperti biasanya.
pasti sesuatu tengah mengisi pikiranmu, sesuatu yang kau suka. sesuatu yang pasti kau cinta.
dan yang hingga kini ku yakini adalah, aku bukanlah jawabannya.

semua orang tau, kita dekat tak seperti layaknya laki2 dan perempuan yang menjalin hubungan pertemanan. semua orang tau, hubungan kita lebih dari itu.

tapi ada 2 hal yang semua orang tak tau..

pertama, kita tak pernah benar2 sedekat itu.
kita tak pernah saling berhubungan lewat jejaring sosial, sms, apalagi telepon. kita tak pernah jalan bersama atau menghabiskan waktu diluar sekolah bersama2.. dan kenyataannya.. hubungan kita hanya sebatas pintu kelas saja.
kedua, mereka tak tau, semua orang tak tau, bahwa aku berharap menembus batas hubungan kita itu...

aku yakin sesuatu tengah mengisi pikiranmu, sesuatu tentang seseorang dalam mimpimu, seseorang dalam khayalanmu.
dan aku yakin, seseorang itu bukanlah diriku.

dan kau tetap duduk disudut itu,
menatap pada satu titik tanpa memperdulikan aku yang ada di dekatmu.
menatap pada satu titik dan tetap mempertahankan senyum dibibirmu.

kau pasti tau,
untuk bersamaku, kau tak perlu bermimpi seperti itu.

dan sekarang aku tau,
kau memang bukan tengah memimpikan aku.

breathe

I see your face in my mind as I drive away,
Cause none of us thought it was gonna end that way.
People are people,
And sometimes we change our minds.
But it's killing me to see you go after all this time.


Music starts playin' like the end of a sad movie,
It's the kinda ending you don't really wanna see.
Cause it's tragedy and it'll only bring you down,

Now I don't know what to be without you around.

And we know it's never simple,
Never easy.
Never a clean break, no one here to save me.
You're the only thing I know like the back of my hand,


And I can't,
Breathe,
Without you,
But I have to,
Breathe,
Without you,
But I have to.

Never wanted this, never wanna see you hurt.
Every little bump in the road I tried to swerve.
But people are people,
And sometimes it doesn't work out,

Nothing we say is gonna save us from the fall out.

And we know it's never simple,
Never easy.
Never a clean break, no one here to save me.
You're the only thing I know like the back of my hand,


And I can't,
Breathe,
Without you,
But I have to,
Breathe,
Without you,
But I have to.


It's two a.m.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know it's not easy,
Easy for me.
It's two a.m.
Feelin' like I just lost a friend.
Hope you know this ain't easy,
Easy for me.


And we know it's never simple,
Never easy.
Never a clean break, noone here to save me.



BIG THANKS to Taylor Swift!
ini lagu keren banget.
keren karna bisa bikin aku sesak nafas waktu ngedengerinnya.
keren karna bisa nyampaikan apa yang gak bisa aku katakan.
atau apa yang percuma aku katakan.

Jumat, 25 November 2011

the empty chair

mereka ada disana, 5 orang terpenting dalam hidupku yang duduk tepat di barisan paling depan kursi penonton yang sengaja ku siapkan. orang2 spesial, dengan kursi2 yang spesial. semua ada, kecuali 1 orang yang sebenarnya sudah berjanji akan menghadiri penampilan perdana sahabatnya ini. aku gelisah, berulang kali aku lihat jam ditangan sambil mengoceh dalam hati "Kapan kau akan datang? pertunjukan akan segera dimulai, dan aku yakin kau tak mau kelewatan.."

tak pernah seperti ini sebelumnya, aku kenal kau begitu dekat. setidaknya cukup dekat untuk mengerti bahwa kau tak akan pernah melewatkan event besar sahabatmu. cukup dekat untuk mengerti bahwa kau akan lakukan apa saja untuk hadir tepat waktu. kau benci keterlambatan, kau benci ketidakpastian. tapi lihat sekarang. lihat kursi kosong di barisan paling depan. seharusnya seseorang telah duduk manis disana, menyaksikan penampilan perdana sahabatnya... sejak 5 menit yang lalu...

aku masih bertanya-tanya, pasti ada sesuatu yang cukup gila untuk menghancurkan gelar "mr. on time" yang selama ini dengan bangganya kau sandang. tapi ini memang bukan hari keberuntunganmu, kau membuat gelar itu tak lagi berlaku. tapi kenyataannya, aku masih menunggumu, menunggumu duduk dikursi itu... sejak 30 menit yang lalu...

aku masih ingat ketika itu, 2 tahun lalu tepat saat hari jadiku yang ke-17. sweet seventeen yang tentunya hanya ku alami sekali seumur hidupku. dan aku sempat ragu kau akan datang tengah malam bila untuk sekedar mengetuk pintu kamar ku dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan kue tart ditanganmu. mengingat saat itu hujan deras dan aku yakin kau tak akan mampu melewati hujan itu. kau bisa terkena flu berat selama 2 atau 3 minggu. aku tak mau. lalu suara itu tiba2 memecah keheningan ditengah derasnya hujan, suara ketukan pintu kamar yang sedari tadi ku impikan. tepat waktu seperti biasa, di menit pertama hari sabtu tanggal 26 september 2009. ku temukan kau basah kuyup tak karuan di balik pintu, dan kau mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku, aku sampai menangis karena tak tega melihat sahabatku yang gila menantang penyakit dengan hujan-hujanan tengah malam seperti itu. lalu perasaan terharuku seketika berubah jadi keinginan untuk menampar wajahmu saat kau bilang "Maaf aku tak sempat beli kue tart, tadi aku ada urusan di kampus hingga jam 10.30, toko kue sudah pada tutup.." betapa bodohnya kamu, apa kamu tak mengerti bahwa melihatmu ada disini pun sudah menjadi hadiah paling menabjubkan yang pernah ada, melebihi kalung berlian apalagi hanya kue tart. kau memang bodoh, bodoh dan nekat. kau sahabatku yang bodoh dan nekat. dan aku menyayangimu..

aku sadar, kau memang orang paling tepat waktu di dunia ini, dan aku percaya ada suatu hal yang benar2 gila terjadi  hingga kau kehilangan waktu berhargamu itu. dan inilah kenyataannya sekarang, seluruh lampu teather sudah dimatikan, pertunjukan sudah selesai, tak ada satupun orang disini kecuali aku, menunggumu duduk dikursi itu, sejak berjam-jam yang lalu...

Jumat, 29 April 2011

ungkapan terakhir

untuk seseorang yg kini tlah samar kuingat
yg bahkan tak dapat lg ku kenal
yg kini tak lg menganggap ku ada
yg berada jauh disana

kenanglah aku jika tak mungkin lagi kita bersatu
ingatlah aku bila tak ada lagi aku di hatimu
ijinkan aku memandangmu jika tak mungkin lagi kita bertemu
lupakan semua bila tak ada lagi asa di hatimu

rasa sesal mungkin tlah melekat di hati ini
membius di stiap kata dan tak mampu lg berbuat apa2
sudah terlalu sulit untuk dibayangkan jika kau akan kembali
meskipun itulah yang slalu ingin ku rasa

rindu ini terpaku janji yg sulit di ingkari
entah apa yg terjadi bila aku memohon harapan mu lg
namun tak dapat ku ungkiri aku masih merasakan hadirmu disini
walau aku tak sanggup ungkapkan meski untuk yg pertama kali

biarlah kenangan membius ku
hadirmu akan menjadi baris cerita dlm hidupku
walaupun aku harus melupakanmu
tapi di dasar hati ku masih terbingkai namamu