Senin, 14 Oktober 2013
Hilang dalam kelam
Laut
Seberapapun ia jauh dari laut
Terik matahari. Awan. Bebatuan. Juga hujan
Apapun itu selama ada jalan pulang
Lautan pun tak pernah ragu
Ia s'lalu setia dan menunggu
Dimana pun akhirnya itu
Ia percaya bahwa mereka satu
Kamu lah air itu
Dan aku lah lautanmu
Minggu, 13 Oktober 2013
Siapa diri saya
Saya gila menulis hari ini. Mungkin hanya wujud pelarian dari final paper yang seharusnya sudah saya buat draft-nya. Saya tidak punya inspirasi. Seorang Dosen pernah berkata, "Ada 3 alasan orang menulis, pertama, untuk mengungkapkan sesuatu, kedua, untuk mencari tahu sesuatu, dan yang terakhir, karna saking tidak tahu.". Saya pikir saya masuk kategori yang terakhir, sering kali saya menulis karena saking tidak mengerti apa yang harus ditulis. Aneh memang.
Mengenai menulis, saya terpikir soal orang-orang di sekitar saya. Orang-orang terdekat saya. Sulit untuk menyatakan suatu hal dari hati paling dalam, kalau pendengarnya adalah orang-orang yang hidup bersama kita, yang non stop kita lihat wajahnya 7 hari 24 jam. Keluarga. Orang tua. Saudara. Kadang jadi orang terakhir yang tahu siapa diri kita sebenarnya. Apa yang kita mau sesungguhnya. Untuk kasus saya, malah sering kejadian.
Rasanya jauh lebih nyaman bicara pada orang yang baru kita kenal. Tanpa takut dihakimi atas pandangan seseorang terhadap kita. Saya bebas bicara. Saya bisa tunjukan siapa diri saya. Alhasil, tidak ada satupun saudara saya yang tau saya suka menulis. Saya selalu diam-diam saat menulis, pergi ke ruangan lain untuk sekedar membuka laptop dan mengetik. Saya kurang suka menulis tangan. Tulisan saya tak karuan.
Orang tua pun baru sadar saya senang menulis saat saya bilang saya ingin masuk sastra. Ketika beberapa tulisan saya berhasil menjuarai lomba yang tidak bisa dibilang gampangan, ibu saya baru berkata "Berarti kamu punya bakat, kembangankan saja. Beli buku-buku yang bisa menginspirasi kamu.". Saya cuma ingin tertawa. Ketika seorang ibu menjadi salah seorang yang terlambat mengetahui apa minatmu, bukan kah agak ironis.
Memang hidup seperti ini tidak enak.
Catatan Seorang Demonstran, buku idaman.
Beberapa hari lalu saya senang tak karuan, buku yang saya cari sejak beberapa tahun silam akhirnya ada di genggaman. Pencarian saya ke semua toko buku besar itu berakhir pada satu toko buku petakan pinggir jalan. Tempat yang biasa jadi tempat mahasiswa beli photo copy-an buku pelajaran itu sekarang benar-benar saya agungkan. Dan demi Tuhan, buku itu bukan hasil photo copy-an. Buku yang pertama kali diterbitkan beberapa puluh tahun lalu itu cetakan asli, bahkan cover-nya pun sama persis. Saya ingat, itu cetakan kedua belas.
Catatan Seorang Demonstran. Iya. Buku itu yang saya maksud. Salah satu bukti nyata keabadian pesona Gie, sekarang ada dalam genggaman saya. Saya merasa terlengkapi. Sempat ada diskusi singkat antara saya, si bapak petugas toko, dan mbak-mbak yang sedang beli puluhan buku photo copy-an untuk kelasnya. Kami bertiga sama-sama tertarik soal Gie, meskipun saya yakin saya yang paling tahu soal Gie di antara kami. Saya betul-betul tidak terima saat si bapak pemilik toko bilang kalau mayat Gie tidak pernah ditemukan, langsung saya tolak argumen itu mentah-mentah. Memang mayat Gie tidak langsung dievakuasi, saya lupa butuh waktu berapa lama tepatnya evakuasi itu, tapi saya tahu akhirnya mayat Gie dievakuasi dan dimakamkan dengan layak.
Rasanya miris sekali bila saya mengingat kisah hidupnya, tapi lebih miris lagi kisah matinya. Saya ingat kata-kata yang ditulis dalam buku itu, tubuh Gie dibawa dengan dibalut plastik dan digantungkan di bambu. Sungguh prihatin keadan Mahameru saat itu. Saya berpikir, dibanding sepi yang ia rasakan di setiap detik hidupnya, pasti jauh lebih sepi terbungkus dalam plastik itu.
Sudah setengah jalan, saya mau cari Orang-orang di persimpangan kiri jalan setelah yang ini selesai.
Rabu, 31 Juli 2013
Hadiah dari Tempat Sampah
Selasa, 11 Juni 2013
Rabu, 15 Mei 2013
selamat datang
saya melati yang ingin tumbuh sebesar mawar.
saya adalah saya,
dan pedih yang saya rasa adalah obat termanis yang pernah ada.
kamu adalah cerita, dongeng yang diharap nyata.
kamu adalah arca, ada namun tak bisa berbicara.
kamu adalah saya,
dan kenangan yang kamu punya adalah gula terpahit yang saya rasa.
hidup dalam dongeng yang tak biasa.
mati oleh makhluk yang tak nyata.
selamat datang,
di tempat tanpa "hidup bahagia selamanya".
saya putri yang terperangkap di menara.
kamu pangeran yang mati bahkan sebelum sempat menghirup udara.
kamu adalah saya.
saya adalah kamu.
dan obat termanis adalah kepedihan.
sedang gula terpahit adalah kenangan.
Selasa, 07 Mei 2013
Senin, 06 Mei 2013
siapa peduli ?
saya bisa jadi kamu. jadi dia. jadi dia yang satunya lagi. siapa saja. tinggal dari mana aja saya bercerita, dari mana sudut pandangnya.
seenggaknya, itu yg saya tangkap.
bukannya memang itu yang semua orang cari?
kesempatan buat gak-jadi-apa-yang-seharusnya-menjadi. kesempatan buat mengekspresikan apapun yang ada di pikiran tanpa peduli apa kata orang. apa tanggapannya. kesempatan buat mengekspresikan apapun yang gak bisa kita ekspresikan di dunia nyata.
seenggaknya, itu yang saya cari.
bukannya itu lah sisi spesialnya?
bukan berarti gak jadi diri sendiri. tapi mengungkapkan diri yang sebenernya. yang belum terlihat. yang gak pernah disangka ada dalem tubuh yang biasa kita liat di kaca sehari-hari.
seenggaknya, itu yang saya percaya.
dan kalo ditanya, siapa saya?
siapa peduli.
hehe.
Sabtu, 20 April 2013
Last Flowers - Radiohead
Oh ya, kalo mau tau lagunya, bisa streaming disini: http://videokeman.com/radiohead/last-flowers-to-the-hospital-radiohead/#ixzz2Qtv0E03l
Selasa, 05 Maret 2013
Sebuah Tanya
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
Ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
Apakah kau masih akan berkata, "ku dengar derap jantungmu"?
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta.
Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenagan,
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
this part...
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Senin, 18 Februari 2013
sweet-risky-things
komitmen?
Sabtu, 05 Januari 2013
surat cinta, sepertinya.
saya yakin yang saya rasa ini gak seharusnya. sinting. gila. saya gak akan bisa tersenyum lebar sambil bilang kalo saya sudah jatuh cinta, sama orang yang sudah gak ada. yang bahkan belum sempat saya temui. seseorang yang bahkan lebih dulu dilahirkan ketimbang ayah dan ibu saya. seseorang yang sudah mati. seorang aktivis mahasiswa yang entah kenapa harus mati muda. yang entah kenapa harus diambil nyawanya tepat sehari sebelum merayakan ulang tahun yang ke 27. yang entah kenapa harus menghirup asap beracun mahameru. yang entah kenapa harus mati disana. entah entah dan entah. saya gak tau lagi harus ngomong apa.
seandainya masih ada sosok seperti kamu hidup di jaman ini. sosok nyata yang bisa saya sentuh dengan tangan. bukan cuma bayang-bayang.
manusia memang pasti mati. tapi pesonanya bisa abadi.
seperti yang kamu tulis,
berbahagialah mereka yang mati muda.
berbahagialah dalam ketiadaanmu.
Gie,
Rabu, 26 September 2012
2 jarum di arah Utara
jarum super ramping warna merah terus beputar, suara detaknya terdengar menyerupai irama. di benakku ia berkata... hai, selamat malam kamu yang menunggu 2 jarum hitamku bertemu diarah utara. tidak lelahkah kamu menunggu? orang yang kamu cinta saja sudah pergi menutup hari. siapa lagi yang kamu tunggu?
penyangga mata itu masih terpasang di tempatnya. menantang jarum jam yang terus berputar dengan irama. bernyanyi mengolok keberadaaku yang masih menunggu seseorang terjaga dan berucap apa yang seharusnya. lalu saat itu pun tiba, 2 jarum hitam bertemu diarah utara. mataku menatap layar ponsel, berharap sebuah nama muncul disana. detak jarum jam kala itu benar-benar mengusik keberadaanku. mengolok dan menghakimi sesuka hati. aku kalah dan ia menang, jarum hitamnya tidak lagi bertemu diarah utara, dan layar ponselku tak kunjung jua menyala.
rasanya aku baru saja di pukul jatuh oleh jam dinding kamarku sendiri. direndahkan dan dipermalukan. setidak berarti itu kah aku sekarang? karna terakhir kali jarum jam itu bertemu di arah utara di tanggal yang sama, layar ponsel ku masih rajin menyala dan nama orang-orang bermunculan disana.
jarum panjang sudah menemui arah utara untuk kedua kalinya, sedang jarum pendek bergerak pelan menuju arah timur laut. manis sekaligus pedih. rasanya seperti menghayati detik-detik usai gerhana. dan ponselku tetap duduk manis dengan layar gelapnya. mengajak aku untuk ikut memejam mata dan menggelapkan dunia.
aku dengar bisikan jam dinding diantara irama detak jarumnya, sudah cukup acara menunggu, terima saja bahwa kamu bagi orang-orang disekitarmu tak seberarti kamu yang dulu.
aku berdamai dengan jam dan jarumnya. berlapang dada dan menganggap bahwa mungkin saja pemikiran itu ada benarnya. tanganku mulai menarik bantal mendekat, hanya ditemani detak jarum jam dan suara kipas angin berputar. juga samar suara televisi yang berasal dari luar ruangan. tanpa lilin warna-warni dan blackforest seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan tanpa satupun pesan ucapan dari orang-orang yang aku cinta.
jarum pendek semakin menjauhi utara, timur sudah ada di hadapannya.
dan rasanya aku tak ingin bertambah usia.
Sabtu, 08 September 2012
a piece of thought
lalu naskah mulai diketik. seandainya kalimat dapat melukiskan cerita dan kata bisa merefleksikan rasa dengan sempurna, maka tidak ada yang lebih indah dari kita. kita adalah partikel air yang terhuyung menuju air terjun, yang punya impian untuk jatuh bebas dan mencicipi bagaimana aroma kebebasan saat melayang di udara. yang menentang resiko terhempas terlalu jauh, yang kapan saja dapat menempel pada daun dan ranting, atau terserap dan menyatu dengan tanah, juga lenyap menjadi gas karna surya yang belum lelah bekerja. yang saling berjanji untuk kembali bertatap muka, di perbatasan antara sungai dan lautan, pada tempat sederhana yang ku sebut sebagai muara.