Rabu, 03 Juni 2020

Memorabilia Sampah dan Sentimen Soal Rumah

Malam ini Saya sadar akan satu hal; jam meja yang Saya punya umurnya sudah lebih dari satu dekade. Entah 11 atau 12 tahun. Jelasnya jam itu adalah sebuah pemberian dari Mama ketika Saya masih duduk di bangku sekolah menengah. Bentuknya karakter Doraemon. Dulu, Saya suka sekali kucing biru itu.

Saya tidak baca komiknya. Menonton kartunnya di teve pun kalau kebetulan saja lewat di Minggu pagi. Kenapa bisa tergila-gila? Alasannya cuma dua; satu, waranya Biru; dua, bentuknya lucu karena bagian kepalanya besar sekali. Cuma itu. Saya pun agak bingung dengan cara berpikir Saya dulu. Betapa sederhananya.

Sentimen tentang jam meja ini lalu membuka pintu lain yang nampaknya membuat Saya berpikir lagi. Kali ini, sayangnya dengan cara yang tidak begitu sederhana.

September tahun ini, Saya genap berusia 24 tahun. Satu dekade ke belakang Saya habiskan dengan hidup berpindah-pindah; kurang lebih 11 kali, kalau tidak salah. Dari pulau ke pulau, kota ke kota, hingga kecamatan ke kecamatan. Setelah semua rumah dan kamar-kamar yang berganti itu, jam meja Saya masih saja si kucing biru berkepala besar ini. Hampir tidak masuk di akal, rasanya.

Lagi Saya pikir, tidak ada yang benar-benar masuk di akal tentang bagaimana Saya terikat dengan benda-benda mati. Saya masih menyimpan liontin yang Mama belikan dulu sekali di Citra Niaga. Umur Saya kira-kira masih 10 tahun waktu itu. Saya masih menyimpan boneka beruang berbaju merah oleh-oleh Papa sepulang perjalanannya dengan kereta api. Saya masih TK, mungkin usia 4 atau 5.

Liontin dan boneka--yang lalu Saya namai Bolo--itu hanya sebagian contoh dari sekian banyak benda non esensial yang tidak bisa Saya tinggalkan begitu saja. Entah kenapa. Semua akan jauh lebih berterima jika setidaknya Saya terus hidup di satu rumah yang sama selama dua dekade ke belakang. 

Tapi, tidak. Tidak ada rumah abadi untuk semua memorabilia ini.
Pun, tidak pernah ada rumah untuk benar-benar Saya tinggali.

Lucu bagaimana kata "tinggal" jauh sekali berubah makna barang hanya diganti imbuhannya saja. Lucu juga bagaimana kata itu mungkin saja berkaitan dengan motif di balik keterikatan Saya dengan benda-benda mati ini. 

Barangkali, kalau saja Saya punya rumah untuk benar-benar saya tinggali, Saya bisa meninggalkan semua memorabilia ini di sana. Menyimpannya di satu tempat kemana Saya selalu kembali, kemana Saya selalu pulang. 

Tapi, tidak. Tidak ada rumah abadi untuk semua memorabilia ini.
Apalagi, rumah untuk benar-benar Saya tinggali.


memorabilia /me·mo·ra·bi·lia/
n. sesuatu atau peristiwa yang patut dikenang


Kalau benda-benda mati ini menawarkan ilusi tentang rumah yang sekian lama Saya cari pada benda-benda hidup,

punya kuasa apa, Saya,
untuk menelantarkannya?




Setitik rasa familier,
An

Jumat, 29 Juni 2018

Lelayu

Tujuh hari ini aku bersahabat 
dengan teh hangat.

Pun kuminta, Gal
dekapmu terlalu jauh untuk aku terima.

Lagi darah di nadiku membeku
dan kulitku membiru seperti Nebula.

Cuma Sosro.
Cuma Sosro bentuk derma dari Semesta.
Sepuluh jariku memeluk erat cangkir itu
sementara kebul uapnya mengaburkan lensa.
Lalu yang bisa kulihat hanya bayang sosokmu
misuh-misuh melepas kacamata
mengutuk kopi panas yang baru kau seruput di meja kita.
Rokok dan kopi. Jam tiga pagi.

Waktu itu udara mohon kita untuk saling peluk
atau sekedar genggam tangan.
Telapakku selalu lebih dingin.
Dengan bangganya kau bilang
"aku dikirim jauh-jauh dari Asgard
Odin minta aku pertaruhkan nyawa
buat jaga imbangnya suhu tubuhmu".
Perapian hatiku disulut tawamu renyah
dan seketika itu, Gal
aku menghangat.

Tapi itu delapan hari lalu.
Pagi ini ya cuma Sosro.

Cuma Sosro
dan air panas dispensermu.
Sanak famili yang datang
ikut mengirimmu doa seminggu ini
kusuguhkan mereka Sosro juga.

Moga pun, Gal
pesamnya merangkul kau.

                                                   Tidur pulas
                           bilang Odin misimu gentas.

Minggu, 17 Juni 2018

Yang ingin diikat di tulang belikat

jangan pergi malam ini
kasurku yang pas buat berdua minta kita rebah
sembari kusambung titik bintang dari selatan ke utara

ada juga rasa yang bibir kita coba terka
sekian puntung hingga kau mulai lupa
sampai aku mulai iya

jangan pergi malam ini
biar aku susuri dulu rasi di matamu itu
menghafalkan setapakku pulang nanti

sebab besok, sayang
matahari tetap datang.


untuk Sal,
pun belikatnya tak lagi punya tempat

Jumat, 05 Januari 2018

Kafein.

Satu atau dua?
Satu seperempat.
Kenapa tidak satu saja?
Kurang.

Dia hanya satu?
Dia lebih suka susu.
Banci.
Kenapa tidak pahit saja sekalian? Macho, kan?
Saya tidak macho.
Dia tidak banci.

Dingin?
Panas.
Ini siang bolong.
Lalu?
Dingin saja, supaya segar.
Panas saja.
Kenapa?
Kamu sudah menyegarkan.


Punya saya tetap dingin, ya. Kamu harus coba.

Jumat, 27 Oktober 2017

Saya dan Identitas

Pada suatu waktu di Kamis malam, tanggal 26 September 1996, saya dilahirkan. Bayi perempuan yang lalu dinamai dengan nama mirip laki-laki ini tumbuh menjadi sosok yang tidak berbadan apik, tidak berkulit cerah, dan tidak berambut “seperti dari salon.” Saya anak ketiga dari tiga bersaudara, dan entah karena orang tua saya yang mungkin sudah bosan memotret anak-anak, atau hanya bentuk saya saja yang kurang menarik untuk diabadikan, sulit untuk saya menemukan potret-potret diri ketika balita di album-album keluarga. Bentuk balita yang saya miliki adalah kulit (sangat) gelap dan rambut ikal menempel pada kulit kepala, seperti orang-orang timur. Guyonan yang paling sering Ibu saya lontarkan hingga saat ini adalah bahwa dulu sekali seorang suster tanpa sengaja menukar bayi perempuannya.

Seiring waktu berjalan, saya mulai meyakini bahwa guyonan itu memanglah sekedar guyonan belaka. Di usia saya yang memasuki kepala dua, orang-orang mulai berbicara tentang wajah saya yang entah bagaimana mengingatkan mereka pada Ibu saya—yang berarti dulu sekali tidak ada cerita soal tukar-menukar bayi. Tapi bukankah sesuatu yang menyebalkan ketika seseorang, dan bukan hanya sekali kejadian, bertanya “Mama kamu putih, Papa kamu ya tidak hitam juga. Kamu anak siapa?” Lebih menyebalkannya lagi ketika pertanyaan itu bertransformasi menjadi kalimat tanya berbasis lelucon sehari-hari. Seorang Dosen pernah berkata bahwa tubuh sebagai identitas yang paling kasat mata justru kadang menimbulkan kesan ambigu. Saya mengerti benar perkataannya itu.

Ibu saya seorang Sunda sementara Ayah saya seorang Jawa, keduanya sama-sama tulen. Ketika seseorang menanyakan apa suku saya, saya ingin sekali dengan mudah menjawab “Saya orang Jawa”, karena sepengetahuan saya anak perempuan mewarisi suku Ayahnya. Tapi saya tidak bisa berbahasa Jawa, karena semenjak kecil saya hidup di lingkungan yang mayoritas penduduknya bersuku dan berbahasa Banjar. Saya juga ingin sekali menjawab “Saya orang Sunda”. Tapi orang-orang Sunda terkenal dengan kulit yang saya tidak punya. Belum lagi mata bulat dan hidung mancung ini membuat beberapa orang bertanya “Kamu keturunan India, ya?” Pertanyaan tentang suku dan asal-muasal akhirnya hanya saya jawab dengan rangkaian senyum kecil, meninggalkannya seperti itu, tetap ambigu.

Kembali pada pertanyaan “Kamu anak siapa?”, tiga kata itu menghantarkan saya pada masalah yang lebih menyebalkan lagi. Saya mengerti ketika pertanyaan itu dilontarkan si penanya bermaksud mempermasalahkan warna kulit saya yang cenderung gelap. Ibu saya punya kulit putih yang bahkan terlihat seperti Cina, sementara rona kulit saya adalah skala paling bawah penggaris pengukur warna kulit milik produk-produk pemutih wajah. Tapi di situ lah letak kekonyolannya; tidak ada yang salah dengan berkulit gelap, permasalahan muncul ketika kita hidup di tempat yang secara sadar ataupun tidak sadar menganut paham “putih=cantik” dan sebaliknya. Paham ini berlaku sampai ke titik paling dasar sehingga kita tidak sempat menyadarinya. Contoh paling sederhana bisa kita temukan di upacara-upacara bendera, ketika ada perwakilan murid perempuan yang akan dipanggil ke depan untuk semacam penyerahan simbolis, maka yang dipilih selalu murid perempuan berparas cantik, dan cantik berarti berkulit putih. Dari hal-hal semacam itulah bibit diskriminasi tak kasat mata tercipta, dan bentuknya semakin serius dalam beberapa kasus yang selama ini saya hadapi.

Perlakuan berbeda itu membuat perempuan dalam berbagai kesempatan berusaha memutihkan diri baik secara fisik maupun digital, untuk mengurangi kesenjangan antara putih dan tidak putih yang ciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Produk kosmetik pemutih wajah laku keras, sekeras frekuensi pengunduhan aplikasi penyunting gambar di berbagai gadget. Saya sendiri merasakan dorongan ini, dorongan untuk “memutihkan.” Tapi setiap kali saya melihat potret diri yang sudah disulap sedemikan rupa sehingga terlihat lebih cerah, rasanya seakan menatap pada sosok yang tidak pernah saya kenali. Dan secuil hati saya merasa kehilangan identitas kala itu terjadi.  

Pergulatan saya tentang tubuh tidak berhenti sampai di situ. Saya memiliki tubuh yang orang bilang mirip “papan penggilasan”, papan untuk ibu-ibu biasanya mencuci baju, tipis dan rata. Sementara saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang percaya bahwa pembeda paling konkret antara laki-laki dan perempuan adalah bentuk tubuh. Di mana perempuan harus “memiliki” dada dan bokong sementara laki-laki dapat tenang dengan berbadan rata. Bukankah dengan pandangan seperti itu saya berhak menuntut bahwa laki-laki harus berbadan kekar dan berdada bidang seperti binaragawan? Hal yang lebih sulit untuk saya terima adalah bagaimana pandangan ini digunakan bukan hanya di kepala-kepala orang dewasa, melainkan juga di kepala-kepala anak ingusan. Dulu sekali seorang teman perempuan pernah berkata dengan santainya, “Cepet dibesarin itu dada, kalo udah SMP masih gak punya dada nanti malu!” Kalimat itu begitu membekas di benak saya hingga saat ini, kami masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar waktu itu.

Saya ingat bagian paling menyebalkan dari bersekolah adalah pelajaran olahraga. Saya terpaksa menggunakan kaos yang dimasukan ke celana training demi mengikuti mata pelajaran tersebut, sementara kaos yang dimasukan ke celana training membuat bentuk tubuh rata saya menjadi lebih tidak berbentuk lagi.  Saya ingat berusaha mengeluarkan ujung kaos dari celana itu kapanpun ada kesempatan, demi menutupi bentuk tubuh yang sangat tidak “perempuan” itu.

Apa yang salah dengan seorang perempuan berbadan rata? Apakah dengan lekuk tubuh yang tidak terlalu mencolok lalu seorang perempuan tidak bisa mengandung dan melahirkan anak-anak pintar yang begitu dibutuhkan di masyarakat ini? Anak-anak pintar yang tidak berpikir bahwa dada dan bokong besar adalah modal utama seorang perempuan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa seksualitas yang ada pada tubuh perempuan seringkali dijadikan patokan. Bukan hanya oleh kaum laki-laki, melainkan juga oleh kaum perempuan itu sendiri. Perempuan yang memiliki postur tubuh ideal akan berjalan penuh percaya diri, meyakini bahwa orang lain akan melihat dia seperti dia melihat relfeksi tubuhnya di cermin; sempurna. Sebagai dampak dari kepercayaan ini, pakaian-pakaian dalam “istimewa” mulai beredar di pasaran. Membuat para perempuan memilih pakaian dalam sedemikian rupa sehingga dada dan bokong mereka tampak terangkat, menyumpal anggota-anggota tubuh yang seharusnya apa adanya itu dengan buntalan-buntalan busa dan mungkin silikon juga.

Pandangan akan seksualitas dan kecantikan yang wajib dimiliki setiap perempuan begitu merasuk pada diri saya, sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya akan tetap hidup meski tanpa postur ideal dan kulit putih sekalipun. Saya akan tetap memiliki teman untuk bertukar pikiran dan saya akan tetap menjalin romantisme biarpun tubuh saya rata dan gelap seperti papan penggilasan. Semua orang akan mengenali saya sebagai saya, meski saya mengaku Jawa, Sunda, atau India sekalipun. Ada perbedaan besar antara tidak berusaha memperbaiki dan tidak berusaha merubah. Di sini saya tidak akan berusaha merubah diri saya menjadi layaknya bintang-bintang iklan sabun yang hampir selalu dijadikan kiblat kecantikan, namun saya terus berusaha untuk memperbaiki tubuh semampu saya sebagai seorang perempuan normal. Dan pada akhirnya, saya berdiri di hadapan cermin bukan hanya untuk membayangkan bagaimana orang lain melihat diri saya, namun juga untuk berdamai dengan tubuh sebagai identitas paling konkret yang saya miliki. 

Terlepas keliru-tidaknya label yang disematkan si suster pada bayi perempuan itu bertahun lalu.

Senin, 02 Oktober 2017

09.24
All the mirrors we refuse to look into, we break,
Till they cut our veins open and let our genes out,
And in that very moment we realize,
There's no escape from what we are.

Jumat, 29 September 2017

21.58
The raindrops finally sound like a ticking clock.
Yet your scent stays like a hurricane.

Senin, 11 September 2017

Sebab Perang Telah Usai

Berjanjilah untuk melempar surat ini jauh ke dalam api tepat setalah kau selesai membacanya.
Lalu dengan seluruh kebahagiaan yang sekian lama terpenjara dalam tubuh mungilmu itu,
menangislah.


Sampaikan pada ayah bundamu, cintaku.
Perang telah merenggut seorang menantu.

Sampaikan bahwa aku mati dengan pedang tergenggam di tanganku. 
Berperang demi raja yang berjanji untuk menjaga makmurnya tanah kita.
Sampaikan bahwa aku menyimpan semua suratmu di saku dada.
Tepat di mana ujung tombak tajam tertanam sekian dalam.
Sampaikan bahwa aku mengingat tarikan bibirmu pada detik-detik terakhir hayat.
Senyummu merekah dari balik tumpukan jerami, di sebelah sumur dengan satu bak kentang yang hendak kau cuci.

Kau bisa mulai menangis sekarang, sayang. Kau boleh mulai berlutut di tanah dan mengutuk semua dewa yang pernah kau dengar namanya. Sungguh tidak satupun dari kita cukup berdosa untuk menerima nasib yang sedemikian rupa. Aku membunuh seorang prajurit yang tidak lebih tua dari adik bungsumu Joan. Aku memenggal seorang komandan yang rambutnya tidak lebih hitam dari ayahmu Jordan. Aku melihat pasukanku memerkosa seorang wanita penjual tiram yang tidak lebih muda dari ibumu Lea, dan aku tidak berbuat apa-apa. Kau harus mengerti bahwa Perang adalah iblis yang begitu kejam. Sebagian yang pergi tidak pernah pulang, sebagian lagi tidak cukup beruntung untuk mati dan harus kembali, hanya untuk pergi lagi memerangi orang yang bahkan tidak mereka kenal. Perang membuat aku akhirnya sadar, cintaku, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan bersama seorang yang sama sekali kita tidak cinta. 

Tapi ibuku pernah berkata bahwa cinta hanyalah untuk anak-anak. Orang dewasa mengikat janji di depan dewa atas nama aliansi, emas, kekuatan, gelar, dan semua hal demi menghidupi nama keluarganya. "Kau adalah masa depan keluarga ini" ia bilang, "Kau akan menikahi seorang gadis yang belum pernah kau temui sebelumnya" ia bilang lagi, "Jika kau lebih beruntung dari Ibu, kau akan tumbuh mencintai istrimu itu kelak. Hingga tiba suatu waktu, kau tidak perlu lagi berpura-pura". 

Aku benar lebih beruntung dari Ibuku, cintaku. Tapi tampaknya kau tidak.
Dan Perang telah mengajarkanku apa yang harusnya ia ajarkan.
Hidup ini terlalu singkat, sayang.

Menangislah untuk yang terakhir kali,
Dan sampaikan ayah bundamu kabar ini,
Kematian telah memisah kita berdua,
Sungguh itulah satu-satunya perkara yang bisa mereka terima.


Sebab perang telah usai.

Sebab perang telah usai, sayang.
Dan aku tak ingin kembali pulang.

Senin, 03 Juli 2017

Things I'd rather not say to you #2

Sometimes,
I love it when you're in pain.
The way I hold your pinkie instead of your hand;
The way I leave a bunny teeth mark on your tan.
And don't tell me you don't love that kind of pain.

Things I'd rather not say to you #1

The weird thing is, 
I don't feel poetic with you.
Maybe it is because I write nothing but sadness.
And for all I know, you are the exact opposite of it.

Senin, 13 Februari 2017

Pangeran dari Cordonia

Namanya Leo, 
seperti keripik kentang.

Matanya biru langit dan 
senyumnya bak matahari 
jam delapan 
pagi.

---

Belakangan saya mengunduh sebuah permainan visual novel di ponsel. Rasanya ingin sekali meludahi diri sendiri, sebab saya mendapati diri saya terhibur dengan drama fiksional sementara apa yang jelas-jelas di depan mata sering kali saya hindari. Menulis ini pun adalah bentuk penyangkalan atas apa yang seharusnya saya lakukan; perkuliahan dimulai hanya dalam hitungan jari sebelah tangan, saya harus lulus dalam hitungan bulan, dan bagian terburuknya, saya menulis tentang seorang pangeran fiksional dari suatu tempat yang juga fiksional jam dua pagi di kamar seorang teman berbekal internet menumpang. Ah. Lagipula, berbulan-bulan lalu sudah saya putuskan untuk menulis hanya untuk diri saya sendiri, pada buku kecil tanpa garis yang kerap saya isi dengan pikiran-pikiran lewat tengah malam. Tulisan-tulisan tak berarah, nirfaedah.

Namanya Leo, seperti keripik kentang. 
Saya bertemu sosoknya pertama kali di antara puing-puing Athena, dan sedemikian manis kata yang ia ucapkan, saya lalu jatuh cinta. Mudah sekali rasanya jatuh untuk pria yang semacam itu; yang tidak nyata. Dengan kondisi saya yang harus menikah di akhir musim panas demi sebuah harta warisan dari nenek yang diam-diam adalah seorang milyuner. Begitu kira-kira jalan ceritanya. Saya terjebak dalam perjalanan kapal pesiar sepanjang musim, berlayar dari tempat ke tempat, dengan mantan tunangan yang belakangan saya ketahui telah berselingkuh, sehingga menyisakan saya kursi pelaminan kosong yang harus terisi tepat setelah pesiar selesai. Sungguh drama yang memuakkan, bukan? Tapi saya benar mencintai pria rambut pirang itu. Bukan karena harta warisan ataupun dia seorang pangeran. 

Saya telak jatuh ketika ia mulai bicara tentang waktu yang kita habiskan sepanjang hidup. Awalnya saya utarakan keresahan saya akan hubungan yang saya pikir terlalu cepat. Dan malah Ia bilang, nyatanya kita lebih banyak menghabiskan detik-detik yang kita anggap berharga untuk menyikat gigi, untuk mengantre di kasir swalayan, atau untuk terjebak macet di jalanan. Justru hal-hal yang benar berharga lah yang terjadi dalam hitungan detik dan kedipan mata. Hal-hal yang mengubah titik hidup, hal-hal yang membentuk diri saya sekarang, hal-hal yang tidak pernah lepas dari ingatan. Semua itu terjadi begitu cepatnya. Secepat ini, secepat saya melihat mata seseorang dan yakin bahwa mata itulah yang ingin saya lihat pertama kali setiap bangun pagi, sampai nanti saya tak bangun lagi. 

Bukankah waktu tidak pernah benar jadi sebuah ukuran? 

Musim panas belum selesai. Kapalnya masih terus berlayar dari satu dermaga ke dermaga lainnya. Saya masih berusaha meyakinkan semesta kalau benar Leo yang nantinya akan saya nikahi. Tentu banyak sekali aral melintang. Pada akhirnya, ini tentu masih sebuah permainan. 

Bab baru datang setiap minggu. Dan di sela-sela penantian saya itu, sosok Leo lebur ke dalam suara kipas angin dan sebuah dream catcher yang tergantung dan bergoyang. Saya berusaha mencari pembenaran atas keterikatan yang saya rasakan. Mungkin memang seperti itu. Kita, manusia, selalu begitu tertarik pada apapun yang tidak bisa kita miliki. Mengendalikan hal yang di luar dari diri kita sendiri. Sesuatu. Seseorang. Sebuah kehidupan lain: kemungkinan menikahi seorang bangsawan. Memang nyatanya hidup adalah soal kemungkinan. Kecil ataukah besar, semua tak lain adalah kemungkinan yang--mungkin--hanya Tuhan dan segelintir orang pintar yang mengerti duduk perkaranya. 

Saya bukan Tuhan. Saya bukan orang pintar. Saya tidak tahu siapa orang yang nantinya akan saya nikahi. Saya tidak tahu mata siapa yang nantinya saya tatap pertama kali setiap bangun pagi. Dalam permainan, saya selalu bisa mengulang sebuah bab tiap kali bab itu berakhir tidak seperti yang saya inginkan. Saya selalu bisa mencoba pilihan-pilihan lain, yang bisa menghantarkan saya pada ujung cerita yang berbeda. Sehingga selalu ada kesempatan untuk berakhir memandangi mata seseorang yang benar-benar saya inginkan, yang benar-benar saya cintai sepenuh hati tanpa terkecuali.

Saya. Terlepas dari semua embel-embel drama antara seorang perempuan biasa dengan seorang bangsawan. Cerita saya juga tengah berjalan melewati bab-babnya sendiri. Pada waktunya, saya akan lulus dari institusi ini. Saya akan mendapat pekerjaan yang saya idamkan. Menikahi seseorang, menatap belek matanya setiap pagi dan membangunkannya dengan ciuman ringan. 

Tapi saya tidak pernah tau,
Di sisi dunia yang lain, mungkin saja.
Seseorang tetiba mengumpat. Menyesali pilihan-pilihan yang ia buat sehingga menempatkan saya di posisi yang demikian. Karena satu dua alasan, ia pun merasakan juga keterikatan. Matanya kosong menatap saya meneguk kopi entah gelas keberapa setiap malam, menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah saya inginkan. Hatinya retak mendapati saya bangun setiap pagi di samping sebuah pertanyaan yang selamanya tertulis di dahi seseorang: apakah saya benar mencintai pria yang saya nikahi?

Ia lalu menekan tombol ulang, 
dan seketika hidup saya terulang 
dari awal.

---

Memang saya tidak pernah tau.
Di sisi dunia yang lain, Cordonia, mungkin saja.
Bukankah hidup tak lain adalah sebuah permainan?

Rabu, 17 Februari 2016

Dongeng tentang Buku, Mimpi dan Waktu

Aku selalu bermimpi untuk jatuh cinta di perpustakaan semenjak umur 12-an. Namun seiring aku dan buku-buku itu bertambah tua, rasanya mimpiku tadi makin tenggelam, dan pada suatu hari yang sudah aku terka, akhirnya ia karam.

Sore tadi aku habiskan hampir satu jam di lorong buku-buku dongeng. Sekedar memilah-milah, inikah atau itukah. Ilustrasi-ilustrasi dan warna-warni sampulnya membuat aku sulit memutuskan buku mana yang harus aku bawa ke meja kasir, yang lalu akan kubungkus dengan kertas kado dan akhirnya kuberikan sebagai hadiah ulang tahun yang ke-20. Malam ini, pukul tujuh lewat tujuh belas, aku 20 tahun pas.

Sementara sore-sore yang lalu seorang teman bertanya, soal niatanku merayakan ulang tahun ke-20 sendirian di perpustakaan, dengan sebuah kado pemberian diri sendiri yang konyolnya adalah buku dongeng untuk anak ingusan. Sementara, menurut dia, aku bisa saja menghabiskan momentum sakral itu bersama teman-teman sebaya dengan hal-hal sesuai umur. Dan aku tahu pasti ketika ia bilang “sesuai umur”, perkataannya merujuk pada aktifitas di bar-bar malam, dengan sedikit minuman, sentuhan, juga goyangan. Aku tersenyum kecil menanggapi pertanyaan temanku itu, kubilang, “Aku tak pernah dibacakan dongeng sewaktu kecil.” Kami tidak pernah bicara lagi.

“Bah, mau berdoa dengan saya?”

Tanyaku mencuat di antara satu buah kue mangkuk berlilin kecil sebatang dan tumpukan buku-buku dengan kertas kekuningan. Jam dinding menunjukan pukul tujuh lewat lima belas. Dan Abah yang sengaja memakai kemeja rapih hari ini, tahu tentang aku yang resmi berkepala dua terhitung mulai dua menit lagi. Ia mundurkan kursinya lalu berdiri, berjalan pelan setengah pincang dan berhenti tepat dihadapanku dan lilin kecil yang menyala itu.

“Kenapa tidak, Yeng?”

Senyum Abah hangat sekali sampai rasanya gerimis yang sedari tadi mengetuk kaca-kaca jendela tetiba berhenti. Kerut yang seakan terpahat permanen di wajah umur 70-annya itu sama sekali tidak mengusikku. Aku selalu menikmati waktuku bertukar cerita dengan Abah. Seorang Rohman Supriyadi, yang hangat kusapa Abah, memang tidak pernah lulus sarjana, tapi karena hampir setengah hidupnya ia habiskan di perpustakaan, ia selalu punya sesuatu untuk dibahas, dan juga untuk ditertawakan.

Mata abah terpejam, khidmat melantun doa dalam hati yang tidak aku tahu apa isinya. Kedua mata itu lalu terbuka, dan

“Giliran Iyeng yang berdoa sendiri, Abah sudah berdoa yang terbaik buat Iyeng. Semoga cepat-cepat pergi dari tempat jelek ini dan mendapat kehidupan yang Iyeng pantas dapatkan, jangan sampai kayak Abah!”

Gelak tawa mengiringi kalimat Abah yang mungkin sudah ia siapkan dari jauh-jauh hari itu. Gigi depannya yang hampir ompong semua membuat aku ikut tertawa kecil penuh suka dan pengertian. Abah adalah pustakawan abadi sekaligus pemilik perpustakaan kecil ini, sehingga mau tidak mau, Abah harus melihat wajahku setiap hari tanpa terkecuali. Senin hingga Jum’at pukul empat sampai lima sore. Sedang Sabtu Minggu pukul lima sore sampai sembilan malam—perpustakaan tutup saat maghrib tiba, namun aku diijinkan untuk tinggal lebih lama. Pernah suatu ketika aku absen seminggu dari perpustakaan karena harus dirawat di rumah sakit, belakangan ini aku baru tahu bahwa ketika itu Abah begitu cemas sampai menelpon pihak asrama tempat aku tinggal berulang kali. Nyatanya, Abah adalah figur Ayah yang tidak pernah aku miliki.

“Bagaimana kabar Ayah kamu, Yeng?”

Pertanyaan itu muncul di pukul tujuh lewat tujuh belas, pas setelah aku meniup lilin tanda setahun lagi waktu hidupku berkurang. Baru saja aku resmi keluar dari usia belasan dan pertanyaan pertama Abah padaku adalah tentang Ayah. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu semudah Abah menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang arloji dan biskuit mari, tapi sayang definisi kata “ayah” dalam semesta yang aku kenal hanya sekedar donatur penyambung hidup yang hampir tidak pernah aku temui wujud fisiknya.

“Ayah sehat, mungkin. Buktinya Ia belum pulang juga, kan, menulis lagi menulis lagi, katanya untuk majalah ini lah, koran itu lah, tabloid ini lah, buku itu lah. Saya capek perduli, Bah. Selama saya tidak harus menerima telepon duka dari seseorang di luar sana soal Ayah saya”.

“Bapaknya penulis, anak gadisnya kutu buku. Tidak ada yang aneh dari itu, Yeng. Toh semua orang tua punya cara mencintai yang berbeda-beda”.

Aku tidak mengerti kenapa Abah selalu punya hal baik untuk dikatakan di waktu paling buruk sekalipun. Bahkan setelah kalimat itu terucap, bagian kecil dari hatiku menghangat, lalu merindu.

“Hey!”

Dengan sengaja Abah membuyarkan kerinduan yang tadi tengah aku hayati dalam-dalam. Seakan mengerti jika saja kerinduan yang aku pendam itu meluap, hal itu hanya akan menuai rasa sakit tanpa obat bila dibiarkan  berlarut-larut. Dan dengan santainya seperti tanpa beban, Abah membanting setir pembicaraan kami ke arah yang entah mengapa terasa lebih pahit dari rindu itu sendiri.

“Tahu tidak, Yeng? Waktu Abah masih sekolah SD dulu, guru Abah selalu nanya apa cita-cita Abah. Abah tidak bisa jawab. Abah bilang kalo mimpi Abah itu tidak muluk-muluk. Abah tidak mau jadi presiden apalagi astronot, Abah cuma mau membuat anak-anak sekolah nanti bisa baca buku tanpa harus membayar sepeserpun. Karena Abah merasa betul beratnya orang tua Abah membelikan buku untuk Abah sekolah”.

Aku terdiam sejenak, mencerna perkataan Abah yang tidak tahu harus ku maknai seperti apa. Dan sebelum otak ku selesai memproses kalimat-kalimat tadi, refleks lidahku bertanya balik,

“Apa untuk jatuh cinta di perpustakaan itu termasuk muluk-muluk, Bah?”

Tawa Abah lepas saat itu juga. Setelah lebih dari enam tahun memberiku kartu anggota perpustakaan, akhirnya Abah menemukan tujuan egoisku yang kalau dipikir-pikir memang teramat menggelikan.

“Kamu jelas salah tempat kalau ingin nyari jodoh di sini, Yeng. Jaman sekarang ini siapa lagi yang masih datang ke perpustakaan untuk duduk dan baca buku? Paling ya hanya kamu, dan Abah, dan si Fitria anak bungsu Pak Haji Makmur yang rumahnya persis di samping masjid itu”.

“Bukan begitu, Bah…”

“Abah sudah tua… Yeng,” 

Aku bisa dengar suara Abah bergetar, “...cuma kamu orang terdekat yang bisa Abah akui sebagai anak. Malam ini kamu bisa meniup lilin itu sama tak terduganya seperti besok pagi Abah tidak bangun dari tempat tidur.”

Mata Abah berkaca-kaca sembari ia membelai kecil rambut sebahuku. Aku tidak mengerti kenapa Abah mendadak berubah melankolis, sementara di hari-hari normal ia akan menyetel lagu-lagu Titiek Puspa dan ikut berjoged selama tidak ada orang yang kedapatan melihat.

“Abah kok begitu bicaranya? Kalau soal umur, manusia tahu apa, Bah. Nenek 112 tahun di Cina tidak menyangka kalau bakal hidup selama itu, sama seperti adik saya yang tidak menyangka kalau bakal mati 2 jam setelah dilahirkan”.

Garis bibir Abah tertarik sepersekian centi. Biasanya, di saat-saat seperti ini Abah akan melakukan serangan balik berupa lelucon yang hampir selalu menempatkan aku sebagai objek tertawaan. Dan benarlah.

“Maka dari itu, Yeng. Kamu cari pacar cepat-cepat, biar nanti tahun depan wisuda sudah punya gandengan untuk foto! Nanti Abah mau cuci fotonya satu yang besar, Abah pasang di ruang tamu”
Abah tertawa lagi. Lepas. Aku sekadar tersenyum. Kecut.

“Tanggalkan saja itu mimpi kamu buat jatuh cinta di perpustakaan, Yeng… Susah! Mau kamu jadi perawan tua? Ujung-ujung nanti malah menikahi buku-buku bau itu. Amit-amit, Iyeng!”

“Abah…” kali ini Pak Rohman mulai keterlaluan. Aku tidak pernah punya niatan untuk menikahi buku seberapapun aku cinta.  Tapi benar juga apa yang Abah coba sampaikan kepadaku. Tentang waktu.

Waktu membuat sesuatu tiada pada akhirnya. Seperti manusia yang mati, atau kertas yang perlahan sisa debu saking tuanya. Seperti waktu yang sudah mendoktrin semua orang agar menjauh dari lorong-lorong perpustakaan. Seperti waktu, yang aku.

Setelah Abah lelah menghujaniku dengan guyonan-guyonan pedih, ia menarik nafas dalam-dalam. Terlalu dalam sampai awalnya ku kira Abah akan menjungkang dari bangku yang ia duduki. Fokus mata Abah lalu tertuju pada bungkusan kecil di sudut meja yang sedari tadi belum aku sentuh. Sengaja tidak aku sentuh.

“Kenapa itu kado tidak dibuka, Yeng?”

“Ini kado harus Abah yang buka. Setuju?”

Aku tersenyum mantap. Giliran Abah mengerutkan kening.

Tapi tanpa diminta lagi Abah langsung menyambar bungkusan kado itu, membukanya dengan sekali robekan tanpa memikirkan tentang waktu yang aku habiskan untuk membungkusnya sedemikian rupawan.

“Anak Itik yang Buruk Rupa? Hans Christian Andersen? Kamu sehat, Yeng?”

Suara Abah cenderung bingung daripada menahan tawa. Aku tidak masalah dengan itu. Senyumku malah makin mantap, dan dengan suara yang sengaja kubuat terdengar sangat serius, akhirnya aku utarakan agenda terbesar malam istimewa ini pada Abah dan kumis berubannya itu.

“Abah tahu apa mimpi saya selain jatuh cinta di perpustakaan? Saya ingin sekali dibacakan Dongen, Bah. Sekali saja. Hitung-hitung membasuh luka tak pernah dibacakan dongeng oleh orang tua sewaktu kecil.”

Kening Abah perlahan mendatar seraya garis bibirnya terarik lebar.

“Dan saya ingin Abah, orang terdekat yang bisa saya anggap sebagai Ayah, yang membacakan dongeng itu spesial di ulang tahun saya ke dua puluh ini. Malam ini. Sekarang. Mau, kan, Bah?”

Garis bibir Abah yang makin melebar lalu robek dengan gigi ompong yang jelas terlihat meski lampu ruangan tidak terlalu terang.

“Kenapa tidak, Yeng?” Hangat. Seperti biasa.

Abah mulai bacakan kalimat demi kalimat, suara paraunya menghantarkanku pada lautan lepas yang tenang dan menenangkan. Hanya aku dan kemilau permukaan biru. Tak pernah aku merasa sebegitu aman.

Sekedar itu yang kuingat.

Embun pagi dari jendela yang terbuka menyadarkanku akan dua hal; Semalam, aku tak bisa berenang. Semalam, di atas gambar seekor anak itik yang tengah menangis, tangan Abah terhenti,

kaku seperti rak-rak kayu jati.

20/11/15

Kamis, 21 Januari 2016

Day 17

a part of my mental form is staying at some far far away stanger's porch
laying deep in conversations
and silence as transitions

a part of my mental form lives happily ever after
leaving a blank space in the heart of mine
which certainly I shall remember

Rabu, 23 Desember 2015

Di Balik Senyuman Topeng Fawkes V for Vendetta: Kemelut Fasis dan Anarkis

“Kita diajarkan untuk mengingat pemikiran, bukan manusia. Karena manusia bisa gagal. Ia bisa tertangkap. Ia bisa mati dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian, sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan sejak awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat bagaimana manusia membunuh dengan mengatasnamakan pemikiran, dan juga mati karenanya. Tapi kau tak bisa mencium sebuah pemikiran, kau tak bisa menyentuhnya, atau mendekapnya. Pemikiran tidak berdarah, ia tidak merasakan sakit, ia tidak merasakan cinta.“

Disuarakan oleh tokoh Evey (Natalie Portman), narasi di atas hadir sebagai pembuka film V for Vendetta garapan sutradara James Mc Teigue tahun 2005. Aktor Hugo Weaving yang memerankan tokoh sentral V tidak menampakan wajahnya sama sekali sepanjang film berdurasi 132 menit ini, berbalut pakaian serba hitam dan bertopeng ala Guy Fawkes ia berhasil menyampaikan cerita tentang pencarian “dewi keadilan yang tengah berlibur”. Secara garis besar, film ini berkisah tentang pencarian jati diri wanita muda Evey yang dipacu oleh pertemuan tanpa sengajanya dengan tokoh V, pria bertopeng misterius yang lalu meledakan dua landmark kota London dan mengambil alih British Television Network untuk menyebar pesan revolusioner, ditengah tirani Konselor Sutler yang totaliter.

Sejak awal berbicara tentang “pemikiran”, film ini sangat lekat membahas tentang aspek-aspek ideologi. Menurut Ajidarma dalam Diktat Kuliah Kajian Sinema, sebagaimana dituliskan oleh Mega Subekti dalam esai “Kontesasi Wacana Barat dan Timur dalam Film Sang Pencerah”, ideologi dalam sebuah film sering dimaknai sebagai ruang rekonstruksi dan representasi realitas sosial yang telah direkam melalui pendekatan realisme estetik. Sehingga V for Vendetta dengan sinematografi apik dan tertata menggambarkan bagaimana anarkisme kadang dibutuhkan demi tersulutnya revolusi, sehingga tercapailah merdeka yang hakiki.

Terminologi anarkisme sendiri secara luas disalahpahami oleh kebanyakan awam. Dalam tatar politik, anarkisme selalu disamakan dan disangkutpautkan dengan chaos, sehingga para anarkis seakan dimaknai sebagai orang-orang yang mendukung diberlakukannya lagi hukum rimba yang cenderung bar-bar.  Seorang anarkis L. Susan Brown menyatakan dalam buku The Politics of Individualism, “Meski pemahaman umum mengenai anarkisme adalah suatu gerakan anti negara kekerasan dengan kekerasan, anarkisme adalah suatu tradisi yang bernuansa lebih dalam daripada sekedar perlawanan terhadap kekuasaan pemerintah. Kaum anarkis menentang pemikiran bahwa masyarakat memerlukan kekuasaan dan dominasi, dan malah membela bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang anti hierarki dan lebih kooperatif.”

Dalam pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa anarki ada sebagai reaksi kekerasan atas aksi yang juga merupakan kekerasan. Tokoh V di sini juga berlaku demikian. Di bawah pemerintahan Konselor Sutler yang cenderung menciptakan terror massa bagi rakyatnya sendiri, seorang misterius yang hanya samar diceritakan asal usulnya hadir dengan wajah tertutup topeng. Meminjam identitas Guy Fawkes, seorang yang dihukum gantung atas percobaannya meledakan gedung parlemen pada 5 November 1605, V beranggapan bahwa “Rakyat tidak seharusnya takut pada Pemerintah”. Tokoh V percaya bahwa “pemikiran” Guy Fawkes memang benar adanya, bahwa meledakan gedung bukanlah hanya membuat bangunan kokoh menjadi runtuh. Meledakan sebuah gedung adalah upaya menghancurkan simbol yang dapat menuntun orang-orang pada perubahan mendasar tentang siapa sebenarnya yang berkuasa dalam suatu negara.

Latar cerita dalam film adalah  Inggris Raya yang telah menyerahkan kebebasan dan hak-hak individualnya pada pemerintahan totaliter dengan sebutan “Norse Fire”. Unsur Fasisme jelas terlihat pada sisi ini. Fasisme sendiri adalah gerakan radikal ideologi nasionalis otoriter politik. Para Fasis berusaha untuk mengatur bangsa menurut perspektif korporatis, nilai, dan sistem, termasuk sistem politik dan ekonomi. Mereka menganjurkan pembentukan partai tunggal negara totaliter. Fasis meninggikan kekerasan, perang, dan militerisme sebagai upaya untuk memberikan perubahan positif dalam masyarakat. Estetika politiknya menggunakan simbolisme romantis, mobilisasi massa, pandangan positif kekerasan, dan kepemimpinan karismatik.




Semuanya seakan divisualisasikan dalam V for Vendetta. Unsur otoriter dan militerisme terang-terangan diangkat dengan tatanan sinematografi dramatis. Konselor Sutler juga digambarkan sebagai tokoh karismatik yang menjadi penyelamat rakyat di tengah kerusuhan yang terjadi. Meski lalu dijelaskan lagi bahwa Konselor Sutler lah yang bertanggung jawab atas kerusuhan-kerusuhan itu. Perang, terror dan penyakit diciptakan oleh pemerintah sendiri demi mengingatkan rakyat akan kebutuhan mereka pada pemerintah. Pandangan positif kekerasan diterapkan atas nama ketertiban yang harus tercipta, dengan bumbu romantisme bahwa pemerintah ada untuk menjaga rakyatnya dari segala keburukan diluar partai tunggal tersebut.

Dalam menggancangkan politik “blame the victim”nya, pemerintah membuat peran media begitu penting. Konsentrasi sinematografi film ini pun cenderung terletak pada televisi, entah itu di rumah-rumah, di bar, bahkan di sebuah panti jompo.



Hal ini sejalan juga dengan aksi tokoh V yang mengambil alih Britain Television Network untuk mengudarakan video pidatonya di saluran darurat. Pergulatan antara fasis dan anarkis ini dibuat seakan jadi sinetron yang tayang bergantian dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kemenangan salah satu pihak pun dengan nyaris puitis juga disampaikan lewat sisi sinematografi.

Dalam teknik pengambilan gambar, dikenal istilah high angle dan low angle. Dimana kedua teknik itu digunakan para sinemaker untuk menyampaikan dan menciptakan kesan yang sesuai dengan ide awal gagasannya. High angle adalah teknik pengambilan gambar dari atas, sehingga menciptakan kesan ciut pada objek gambar. Sebaliknya, low angle menciptakan kesan agung pada objek gambarnya karena diambil dari sisi bawah. Teknik ini digunakan juga dalam V for Vendetta, dalam usahanya mengisyaratkan kekuasaan yang berpindah tangan.


Hampir sepanjang film berdurasi lebih dari 2 jam itu, Konselor Sutler sering kali dimunculkan dalam televisi raksasa seperti pada gambar di atas. Gambar di atas ini merupakan suasana “rapat” antara Sang Konselor Agung dengan para kaki tangannya. Meski posisi atasan-bawahan jelas terjadi, teknik low angle tidak dijadikan pilihan, dan sutradara memilih hanya menyorot objek gambar dari sisi depan saja (datar).


Perbedaan muncul ketika film ini menampakan video pidato V yang disiarkan di saluran darurat. Dengan telivisi yang ‘jauh’ lebih raksasa dan terletak di pusat kota, teknik low angle digunakan. Kesan agung terlihat sangat jelas, mengisyaratkan kekuasaan yang sudah berpindah tangan dari Sang Konselor ke V. Bila kita lihat lebih teliti pada gambar, ironi jelas disuguhkan pada scene ini. Tepat di samping televisi raksasa yang memutar pidato revolusioner V, terdapat lambang partai “Norse Fire” pimpinan Sutler.

Perpindahan kekuasaan dari fasis ke anarkis lebih ditekankan pada siaran pidato terakhir Konselor Sutler. Dengan televisi super raksasa yang sama, teknik high angle “ekstrim” dipergunakan sebagai simbol kekalahan besar-besaran. 


Scene ini juga diparalelkan dengan scene televisi-televisi biasa di tempat-tempat lain yang entah mengapa ditinggalkan dalam keadaan hidup meskipun tidak ada satupun orang yang menonton. Simbolisme ini menyatakan bahwa suara Sang Konselor Agung tidak lagi didengarkan oleh siapapun.


V for Vendetta ditutup dengan nasib Konselor Sutler dan V yang sama-sama tidak baik. Tapi seperti yang dikatakan oleh V menjelang ajalnya, “Pemikirian itu anti-peluru” dan tetap hidup meski pemikirnya telah mati. Kemenangan anarkis atas fasis yang disajikan dalam film bertumpu lagi pada topeng yang digunakan oleh V. Alih-alih bersembunyi di balik identitas Guy Fawkes, tokoh V merepresentasikan dirinya atas nama semua orang yang menyadari akan ketidakberesan jalannya pemerintahan. Bahwa ketika ditanya siapakah sebenarnya sosok V, Evey dengan tenang menjawab “Dia adalah ayahku, dan ibuku, kakakku, temanku. Dia adalah aku, dan kamu.” 

V adalah rakyat, dan rakyat tidak seharusnya takut pada pemerintahnya. 
Rakyat seharusnya merdeka. 


Jatinangor, 23 Desember 2015
Ananda Bayu Pangestu

Kamis, 17 Desember 2015

Selamat 17 Desember. 

Saya belajar mengenang kelahiran.
Bukan ketiadaan.
Memang begitu rasanya,
tapi tetap saja.


Berbahagialah mereka yang mati muda.

Jumat, 11 Desember 2015

Saya selalu menyimpan semua hal. Dengan kekhawatiran bahwa suatu saat di suatu tempat saya akan membutuhkan. Hingga satu waktu tiba, semuanya buyar. Dan tidak ada lagi yang tersisa untuk disimpan.

Senin, 09 November 2015

Salam dari Semacam Kedai Kopi

Sementara saya mengetik tulisan ini, seorang pemuda bertopi dan bercelemek tengah mengangkat nampan-nampan kosong sambil mengepel lantai. Ia terlihat begitu giat bekerja ketika temannya yang juga bertopi dan bercelemek tertidur di salah satu kursi pelanggan. Pencahayaan ruangan yang tadi terasa sangat kuning sekarang makin terihat pudar dibarengi langit yang semakin berubah biru terang. Gelas-gelas kosong dan sisa camilan berantakan diantara komputer-komputer jinjing kami. Iya. Saya tidak sendiri. Di depan saya duduk seorang teman yang sama-sama fokus pada layar masing-masing, mengerjakan hal-hal yang seharusnya dikerjakan sejak berhari-hari yang lalu. Ini adalah pengalaman baru, jujur saja. Bukan berarti saya (dan teman saya ini) selalu tepat waktu dalam mengerjakan tugas, tapi ini adalah kali pertama kami tidak melakukannya di kamar kosan masing-masing, mendekam sendiri, dengan resiko ketiduran. Disini, gerung mobil-mobil besar dan lampu-lampunya tidak akan membiarkan mata kami terkatup, biar hanya 4-5 detik saja.


sementara sosok ber-sweater rajutan di depan saya ini terus dan terus mengetik, konsentrasi saya terbagi antara menulis, membaca, memotret dan mendengar gas-gas motor dua tak yang tidak pernah berhenti berkumandang. Lalu tanpa saya sadari langit sudah berubah warna, 


dan rak-rak kosong sudah terisi lagi dengan donat-donat kecil.


selamat pagi,
dari jari-jari dingin yang dihangatkan radiasi komputer jinjing,
N

Senin, 02 November 2015

Surat Kedua

Selamat malam,

Aku ingin sekali menanyakanmu sesuatu.
Tapi tunggu dulu sebentar, aku masih sibuk menimang-nimang manakah yang lebih mengenaskan jikalau aku dan kamu harus dibandingkan. Kita baik-baik saja sampai jarak menyusup di antara kita berdua, membuat celah kosong yang tanpa sadar kamu isi dengan masa lalu dan obsesi. Kita baik-baik saja. Sampai saat itu.

Aku bukan seorang yang ahli dalam menilai dan memahani. Tuhan tahu bahwa kamu tahu itu. Tahu benar. Tapi yang bisa aku mengerti saat ini, tidak ada satupun dari kita yang baik-baik saja. Kamu kembali pada batang-batang tembakau, sementara aku... kamu tahu. Tempo hari rasanya hatiku hancur benar, menyadari kamu sudah kembali pada bentuk semulamu, seakan aku dan hari-hariku dulu itu tidak ada artinya, secuil pun tidak ada. Aku tahu, yakin, bahwa kamu lebih baik dari itu. Seyakin kamu bahwa aku lebih baik dari ini. Jauh lebih baik dari ini.

Tapi tidak ada gunanya. Tidakkah kamu mengerti? Aku mengerti, Dul. Tidak ada cukup ruang untuk menerima aku yang seperti ini di hati lapangmu itu. Sungguh hatimu sudah lapang, benar, hanya aku saja yang terlalu terburai tak karuan.

Andai aku bisa, lagi, duduk di sampingmu. Saling tukar suara tanpa harus menatap mata. Aku masih belum bisa berbicara dengan sopan, kamu percaya? Nanti, ketika aku sudah bisa dan terbiasa, akan ku kabari kamu. Akan ku buat janji temu, dimana aku bisa berbicara padamu dengan tatap mata yang bertabrakan sempurna. Nanti aku pasti bisa.

Tapi, ngomong-ngomong...
Aku ingin sekali menanyakanmu sesuatu.
Saat ini. Bukan nanti-nanti.
Apa kabar?
Berusaha keras untuk melupakan,
N

Minggu, 01 November 2015

Yang Untukmu Itu

Biar aku tanyakan dulu, Resah
Tentang sebait nama
Yang menggantung-gantung
Di hadapan bola mata
Yang dikatupkan kala petang

Biar aku rasakan dulu, Sayang
Tentang kasih terhadap raga
Yang kadang aku tangkap
Bayangannya cantik mengangkasa
Yang nanti membumi juga

Barubereum, Kaki Gunung Manglayang, 25 Oktober 2015
Biar aku bisikan dulu, Cinta
Padamu sehalus cahaya matahari dan kabut
Yang menyelinap masuk
Diantara daun-daun kecil
Yang akan gugur tertiup angin

Begitu
Seterusnya.


Atas nama aku dan rumput-rumput kering,
N

Senin, 26 Oktober 2015

Soal Bahagia

Saya ingin bicara soal kebahagiaan. Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi bukankah kebahagian itu terlalu abstrak untuk memiliki awal dan akhir yang jelas? Kebahagiaan tidak bisa dipegang seperti saya menyentuh keyboard komputer jinjing ini, kebahagiaan tidak dapat dilihat, tidak dapat dicium, tidak dapat diukur. Namun justru keabstrakannya itu yang membuat kebahagiaan dicari, dan dipuja. Sampai saat ini saya masih berusaha mencari, entah itu diperjalanan pulang ke kostan, di toko alat tulis langgangan, atau di warung makan Mentari milik bapak-bapak baik hati itu. Saya mencari, siapa tahu saya berbentur dengan kebahagiaan. Sehingga saya tahu pasti, sehingga keabstrakannya segera ditanggalkan.

Saya tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang tidur di emperan toko kalah bahagia bahagia dari mereka yang nyenyak di ranjang empuk, setelah meminum beberapa buah pil tidur. Saya tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang lahap makan dari tong-tong sampah kalah bahagia dari mereka yang 'jajan' dari piring-piring besar dengan secuil makanan di tengahnya. Saya juga tidak berhak mengklaim bahwa mereka yang mengakhiri nyawa sendiri kalah bahagia dari mereka yang pesakitan dan tinggal menunggu ajal. Bukankah itu menekankan bahwa kebahagiaan adalah satu hal yang tidak pernah disa diukur, atau dibanding-bandingkan?

Saya ingin suatu hari nanti menciptakan alat yang dapat mengukur kebahagiaan. Saya ingin sekali melihat seseorang tepat di mata dan mengucapkan "Kamu bahagia," dan "Kamu tidak." Semua akan lebih sederhana dan semua orang akan berhenti menerka-nerka. Apakah dia sudah cukup bahagia? Apakah selama ini ia pernah bahagia? Mata saya sembab karena terlalu banyak tidur dua hari kebelakang, apakah saya tidur karene lelah mencari kebahagiaan? Saya tidak tahu. Tidak ada yang pernah tahu.

Seorang dosen berkata semua hal ini adalah soal disorientasi masa depan, bahwa mereka yang telah memiliki segalanya pun akan jatuh di lubang terdalam jika menyadari bahwa yang mereka lakukan selama ini adalah sia-sia, dan tanpa tujuan. Lalu mereka mulai mempertanyakan arti kebahagiaan itu sendiri, pada akhirnya. Mungkin memang seperti itu, mungkin mereka yang tidak bahagia adalah orang-orang yang membutuhkan ketenangan hakiki, atau apalah itu namanya.

Lebih sulit lagi apabila kita mencari kebahagiaan saat kita belum menemukan diri kita sendiri. Saya peringatkan bahwa tulisan ini akan mengerucut jadi curahan hati, kamu masih punya kesempatan untuk berhenti membaca, lalu berpindah laman. Kesalahan terbesar saya adalah mencari apa yang tidak pernah hilang, dan menyimpan apa yang tidak pernah saya temukan. Saya terlalu sibuk mencari, menggarisi titik-titik yang saya percaya akan membentuk sebuah kata bahagia. Sampai-sampai saya lupa bahwa tidak ada gunanya mencari apabila diri saya sendiri pun tidak punya cukup lahan untuk menyimpan hal-hal tadi. Diri saya sudah penuh dengan apa yang saya percayai adalah saya--sekumpulan kata-kata yang bermakna jauh dari positif. Lalu harus bagaimana? Nampaknya tulisan ini sudah bergeser fungsi, seperti yang sudah saya peringatkan tadi.

Pada akhirnya kebahagiaan masih jadi satu hal yang abstrak. Yang tidak sama seperti keyboard komputer jinjing ini. Pada akhirnya saya masihlah saya yang bertanya dan mencari, lalu menyerah lagi.